Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Kisah dalam Alquran - Madyan dan Aikah; Ahli Ekonomi Hancur Karena Tidak Jujur

Pajagalan.com - Madyan pada awalnya nama orang yaitu, Madyan bin Ibrâhîm al-Khalîl ‘alaihi al-Salam[1], Al-Maraghi menjelaskan, Istri Ibrâhîm As yaitu, Qathurah mempunyai enam orang anak laki-laki, di antaranya bernama Madyan, ia tinggal di Jajirah Sinai sampai Eprat. Kemudian menjadi nama kabilah dan juga nama kampung Madyan[2]. Nabi Syu’aib As mempunyai hubungan nasab dengan Madyan bin Ibrâhîm, Nabi Syu’aib bernama, Syu’aib bin Mîkâ`îl bin Basyjur bin Madyan bin Ibrâhîm al-Khalîl[3]. Nabi Syu’aib As adalah Nabi dari bangsa Arab, dalam Kitab Taurat namanya, Ru’au`îl. Kata Ru’au artinya Shadîq dan kata `îl adalah Allâh, jadi Ru’au`îl adalah Shadîqullâh atau al-Shâdiq fî ‘Ibadah[4].

Sifat Kabilah Madyan
Abdul Wahab al-Najjari bahwa kehidupan Madyan itu maju, mereka ahli dagang, mereka beribadah kepada selain Allâh Swt, mereka suka melakukan pekerjaan yang keji[5]. Menurut Shawi mereka ma’siat, menghalalkan yang haram, dan suka menumpahkan darah (membunuh). Dalam bidang ekonomi atau perdagangan, mereka bersikap curang dan tidak jujur[6],
1.         Jika mereka menjual barang, suka mengurangi takaran dan timbangan.
2.         Jika mereka membeli barang, suka mencela, mengejek dan menjatuhkan harga, lalu membelinya dengan harga yang murah. Ibnu Abbas menjelaskan sifat mereka,

وَكَانُوْا إِذَا دَخَلَ عَلَيْهِمْ اَلْغَرِيْبُ يَأْخُذُوْنَ دَرَاهِمَهُ وَيَقُوْلُوْنَ دَرَاهِمُكَ هَذِهِ زُيُوْفٌ فَيَقْطَعُوْنَهَا ثُمَّ يَشْتُرُوْنَهَا مِنْهُ بِالْبُخْسِ.

Mereka apabila kedatangan orang asing membawa dirham mereka berkata, dirham kamu ini palsu lalu mematahkannya kemudian mereka membeli dengan harga murah[7].
3.         Mereka kaum yang bâkhisah, yaitu kaum yang suka bersikap dzhalim dalam perekonomian.
4.         Dan mereka pun kaum yang  tidak jujur, curang, suka mengurangi hak-hak orang lain dalam perdagangan[8].

Terhadap Nabi mereka Syu’aib, (1) mereka tidak beriman kepadanya, menganggapnya dusta dan gila dan meminta Syu’aib keluar dari kampung mereka atau mengikuti ajaran nenek moyang mereka, (2) Mereka suka duduk-duduk di pinggir jalan mengganggu orang yang lalu lalang, terutama orang yang akan pergi ke Nabi Syu’aib. Ibnu Abbas berkata,

أَنَّ بِلاَدَهُمْ كَانَتْ خَصْبَةً وَكَانَ النَّاسُ يَمْتَارُوْنَ مِنْهُمْ, فَكَانُوْا يَقْعُدُوْنَ عَلَى الطَّرِيْقِ وَيُخَوِّفُوْنَ النَّاسَ أَنْ يَأْتُوْا شُعَيْبًا وَيَقُوْلُوْنَ لَهُمْ إِنَّهُ كَذَابٌ فَلاَيَفْتِنَنَكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ.

Sesungguhnya negeri mereka subur, orang-orang melewatinya, mereka duduk-duduk di jalan dan menakut-nakuti manusia datang kepada Syu’aib dan berkata, sesungguhnya Syu’aib seorang pendusta janganlah kamu tertipu oleh agamanya[9].

Kehancuran Madyan
Nabi Syu’aib As telah memberi peringatan kepada mereka, Firman Allâh Swt,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ فَأَوْفُواْ الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلاَ تَبْخَسُواْ النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ {} وَلاَ تَقْعُدُواْ بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ وَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ {}

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allâh, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allâh memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (.:) Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allâh, dan menginginkan agar jalan Allâh itu bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allâh memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan[10].

Para ketua mereka tidak menerima nasihat syu’aib dan berkata, kami akan mengusirmu dan orang yang beriman atau engkau kembali pada ajaran kami (7:88). Kepada orang lain dia berkata, lain ittiba’tum Syu’aibân innakum idzân lakhâsirûn (7:90). Firman Allah,

قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ مِن قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ.

Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata: Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami. Berkata Syu'aib: Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya[11].

وَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْباً إِنَّكُمْ إِذاً لَّخَاسِرُونَ

Pemuka-pemuka kaum Syu'aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi[12].

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ.
Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka[13].

Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim  dari Ibnu Ka’ab,

أَنَّ أَهْلَ مَدْيَنَ عُذِّبُوْا بِثَلاَثَةِ أَصْنَافَ مِنَ الْعَذَابِ: أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةَ فيِ دَارِهِمْ حَتىَّ خَرَجُوْا مِنْهَا, فَلَمَّا خَرَجُوْا مِنْهَا أَصَابَهُمْ فَزَعٌ شَدِيْدٌ, فَفَرَقُوْا أَنْ يَدْخَلُوْا الْبَيْتَ أَنْ تَسْقُطَ عَلَيْهِمْ, فَأَرْسَلَ اللهُ عَلَيْهِمُ الظِّلَّةَ فَدَخَلَ تَحْتَهَا رَجُلٌ فَقَالَ: مَارَأَيْتَ كَالْيَوْمِ ظِلاًّ أَطْيَبَ وَلاَأَبْرَدَ… هَلُمُّوْا أَيُّهَا النَّاسُ, فَدَخَلُوْا جَمِيْعًا تَحْتَ الظِّلَّةِ, فَصَاحَ فِيْهِمْ صَيْحَةٌ وَاحِدَةٌ فَمَاتُوْا جَمِيْعًا.

Sesungguhnya ahli Madyan diadzab dengan tiga jenis adzab, menimpa pada mereka gempa bumi di rumah mereka sehingga keluar dari padanya. Ketika keluar mereka ditimpa dengan ketakutan yang sangat sehingga mereka menjauh untuk masuk rumah karena takut menimpa mereka. Allâh mendatangkan awan bagi mereka lalu seorang laki-laki bernaung di bawahnya dan berkata, aku tidak mendapatkan hari sesejuk, sebagus, sedingin hari ini… kemarilah wahai manusia! Lalu mereka masuk semuanya bernaung di bawah awan lalu petir menyambar mereka dengan satu kali sambaran, merakapun mati semuanya[14].

Nama Aikah
Aikah bukan nama orang sebagaimana Madyan. Aikah artinya, al-Sajaru al-Multaffu (pohon yang lebat daunnya), Aikah atau juga ashâb lîkah (penghuni hutan rimba)[15]. Dan berarti juga ghîdlah (belukar atau rimba) yang banyak pohonnya, tempatnya dekat Madyan, tapi mereka tidak ada hubungan nasab[16]. Dan juga mereka itu, orang pedalamannya kaum Madyan. Setelah Allâh menghancurkan Madyan, dan menyelamatkan Syu’aib beserta orang-orang yang beriman, Allâh mengutus Syu’aib ke ashâb al-Aikah dan Nabi Syu’aib di sana sebagai orang asing[17]. Madyan dan Aikah adalah dua kaum yang kepada mereka diutus Nabi yang sama, yaitu Syu’aib,

عَنِ ابْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلغم إِنَّ مَدْيَنَ وَ أَصْحَابَ الأَيْكَةِ  أُمَّتَانِ بَعَثَ اللهُ إِلَيْهِمْ شُعَيْبًا.

Dari Ibnu ‘Amr, ia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, Sesungguhnya Madyan dan penghuni Aikah dua ummat yang Allâh mengutus kepada mereka Nabi Syu’aib[18].

Sifat Ashhab al-Aikah
Sifat ashâb al-Aikah tidak jauh berbeda dengan sifat orang Madyan,
1.         Membohongkan Nabi Syu’aib.
2.         Jika menjual mengurangi takaran dan timbangan.
3.         Jika membeli suka merugikan orang lain.
4.         Jika mengukur dan menghitung suka curang dengan mengurangi.
5.         Merugikan hak-hak orang lain, seperti peribahasa yan mengatakan,

أَخْذُ بَيْضٍ كَبِيْرٍ وَإِعْطَاءُ بَيْضٍ صَغِيْرٍ وَإِعْطَاءُ رَغِيْفٍ صَغِيْرٍ وَأَخْذُ رَغِيْفٍ كَبِيْرٍ.

Mengambil telur yang besar dan memberikan telur yang kecil dan memberikan cidukan kecil lalu mengambil cidukan besar.
6.         Suka membuat kerusakan di bumi, seperti membunuh, merampok, merampas dan mengganggu di jalanan[19].

F.        Kehancuran Aikah
Nabi Syu’aib telah menasihati mereka, seperti pada al-Syuara 179-183,

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ {} وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ {} أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ {} وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ {} وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ {}

Maka bertaqwalah kepada Allâh dan taatlah kepadaku; (.:) dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. (.:) Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; (.:) dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. (.:) Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan[20].

Mereka tidak mengindahkan nasihat Syu’aib As malah menganggap-nya ia telah disihir, ia orang pendusta yang mengaku Nabi. Selanjutnya mereka minta padanya, jika benar-benar apa yang dikatakannya, coba jatuhkan kepada kami gumpalan dari langit,

فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَاء إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ.

Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar[21].

Atas ketidak jujuran dalam ekonomi yang suka mengurangi dan merugikan orang lain dan juga sifat mereka yang keji lainnya, Allâh Swt mengadzab mereka, firmannya,

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ.

Kemudian mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa 'azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah 'azab hari yang besar[22].

Menurut al-Hasan,

سَلَطَ اللهُ الْحَرَّ عَلَى قَوْمِ شُعَيْبَ سَبْعَةُ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ حَتىَّ كَانُوْا لاَيَنْتَفِعُوْنَ بِظِلِّ بَيْتٍ وَلاَ بِبُرْدِ مَاءٍ, ثُمَّ رُفِعَتْ لَهُمْ سِحَابَةٌ فيِ الْبَرِيَّةِ فَوَجَدُوْا تَخْتَهَا الرُّوْحَ, فَجَعَلُوْا يَدْعُوْا بَعْضَهُمْ بَعْضًا حَتىَّ إِذَا اجْتَمَعُوْا تَحْتَهَا أَشْعُلُهَا اللهُ عَلَيْهِمْ نَارًا.

Allâh mendatangkan panas pada kaum Syu’aib (Aikah) tujuh hari tujuh malam sehingga tidak merasakan teduhnya rumah dan dinginnya air karena udaranya panas. Lalu diangkat awan di daratan mereka, lalu mereka mendapatkan kesejukan di bawahnya, lalu mulai satu sama lain memanggil yang lainnya. Di saat mereka telah berkumpul di bawah awan Allâh menghujankan api pada mereka[23].

Al-Shawi menjelaskan, Allâh Swt mengadzab mereka dengan kekeringan selama tiga hari tiga malam yang membuat mereka tersiksa kepayahan, lalu Allâh mendatangkan awan bagaikan tempat berteduh, lalu mereka berlindung padanya, maka Allâh Swt mendatangkan api dan mereka pun terbakar semuanya[24]. Ashhâb al-Aikah diadzab yaitu pertama dengan kekeringan, kedua panas yang sangat dan ketiga dengan hujan api.

Ibrah bagi Ummat
Dari kisah di atas kita dapat mengambil beberapa pelajaran, diantaranya,
1.         Ketidak jujuran dalam ekonomi akan membawa kehancuran.
2.         Kecurangan dalam jual beli, akan melahirkan kemiskinan bagi masyarakat banyak.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم… وَلاَطَفِفُوْا الْكَيْلَ إِلاَّ مَنِعُوْا النَّبَاتُ وَأُخِذُوْا بِالسِّنِيْنَ.

Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasullah Saw bersabda… Dan tidaklah mereka mengurangi takaran kecuali ditahan tumbuh-tumbuhan bagi mereka dan ditimpa kemiskinan[25].
3.         Penipuan dalam kasab usaha akan menanggung penderitaan adzab hari akhirat. Al-Maraghi mencatat satu riwayat, dulu di Madinah ada seorang yang bernama Abu Juhainah, dia tukang jual beli, punya dua timbangan yang satu timbangan besar dan yang satu lagi timbangan kecil. Jika ia akan membeli barang dari para petani dan tukang kebun ia menggunakan timbangan yang besar dan jika ia menjual barang kepada pembeli ia gunakan timbangan kecil[26]. Atas pekerjaan itu Allâh berfirman,

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ {} الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ {} وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ {}

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (.:) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, (.:) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi[27].

Nabi Muhammad telah memperingatkan,

رُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِيْمَا اشْتَهَتْ نَفْسُهُ لَيْسَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ النَّارَ.

Betapa banyak orang berusaha memperoleh yang diinginkan dengan tidak memperdulikan jalan-jalan yang dibenarkan. Maka di hari kiamat hanyalah neraka yang diterimanya[28].

Rasulullah Saw memerintahkan,

أَلاَ إِنَّ اللهَ قَدْ قَسَمَ لَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ فَاجْمَلُوْا فيِ الطَّلَبِ, خُذُوْا الْحَلاَلَ وَاتْرُكُوْا الْحَرَامَ.

Ingatlah, Sesungguhnya Allâh telah membagi rizki buat kamu. Maka baiklah (baguslah) dalam mencari (rizki) Ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram[29].

رحم الله امراً اكتسب طيّبا وأنفق قصدا وقدّم فضلا ليوم فقره وحاجته.

Mudah-mudahan Allâh tetap akan merahmati orang yang kasab dengan baik, membelanjakan hartanya dengan hemat dan menyimpan kelebihan harta untuk hari tua dan hajatnya[30].

Nabi pernah ditanya tentang kasab yang paling baik,

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ص قِيْلَ: أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلُ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ.

Dari Rifah bin Rafi' ra, bahwasanya Nabi saw pernah ditanya; usaha yang bagaimana yang paling baik? Beliau menjawab, usaha seseorang yang dihasilkan dengan tangannya sendiri dan setiap jual-beli yang baik[31].

Jual beli yang tidak Mabrur  (Ma-zûr)
Terdapat beberapa jenis jual beli yang tidak bersih, jual beli yang kotor yang dilarang dalam Islam, antara lain,
1.         Bai’u al-Mulâqîh, yang ada dalam kandungan ibu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَضَامِيْنِ والْمَلاَقِيْحِ.

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi saw, beliau melarang[32]

2.         Bai’u al-Hashât, jual beli lempar batu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَارِ.

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi saw, beliau melarang[33]

3.         Bai’u al-Arayân, jual beli cengkeram, yaitu bayar sebagian dan hangus jika jual beli tidak jadi,

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ بَيْعِ الْعُرْبَانِ.

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi saw, beliau melarang[34]

4.         Bai’u al-Najasy, jual beli Najasy, (a) memuji barang sendiri menjelekkan barang orang lain. (b) Menawar dengan harga tinggi supaya yang lain membeli,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ بَيْعِ النَّجْشِ.

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi saw, beliau melarang[35]

5.         Bai’u al-Mukhâqalah, (a) Menjual biji-bijian yang masih diurainya. b) Menjual tanaman dengan borongan.

عَن أَنَسٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ بَيْعِ الْمُحَاقَلَةِ, وَالْمُخَاضَرَةِ, وَالْمُلاَمَسَةِ, وَالْمُنَابَذَةِ, وَالْمُزَابَنَةِ.

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Nabi saw, beliau melarang[36]

6.         Bai’u al-Muzâbanah, (a) bertengkar. (b) Berebutan. (c) Menjual  yang sudah jelas timbangannya dengan yang belum jelas,

أنّ النبي نهى عن المحاقلة والمزابنة. الخمسة

7.         Bai’u al-Muhâdlarah, menjual biji-bijian yang masih hijau, belum jelas bisa dimakan, Bai’u al-Mulâmasah, jual beli dengan meraba (tidak dilihat) yang dibelinya,

نهى رسول الله عن المخاضرة و الملامسة. البخاري

8.         Bai’u al-Gharâr, yang belum jelas, jual bulu masih di badan binatang,

نهى رسول الله ص عن بيع الغرر. مسلم

9.         Bai’ataini fî bai’atin, dua jual beli dalam satu jual beli,

نهى رسول الله ص عن بيعتين في بيعة. أحمد

10.     Salfun wa bai’un, yaitu pinjam dan jual,

قال رسول الله ص لا يحلّ سلف و بيع. الخمسة

11.     Tibâ’u al-Sala’ haitsu tubtâ’un, menjual barang dimana di beli,

أن نهى رسول الله ص تباع السلع حيث تبتاع حتى يجوزها التجار الى رحالهم. احمد, ابودود.

Bait al-Maal
Sedikit ataupun banyak, baik langsung atau tidak, bait al-Mâl akan terlibat dengan tijârah, yang diinginkan tentunya tijarah yang bersih. Kebanyakan perdagangan pada bait al-Mâl dilakukan oleh perorangan, dan didasarkan atas prinsip mitra usaha (syarâkah). Yang selanjutnya berjalan dengan menerapkan prinsip,
1.         Mudlarabah, bait al-Mâl (Bank) memberikan modal dan nasabah menyediakan pengalaman, laba dibagi menurut suatu rasio yang telah disetujui. Jika mengalami kerugian, banklah yang memikul, nasabah hanya kehilangan nilai kerja.
2.         Musyarakah, baik bank maupun nasabah memasukkan modal dalam perbandingan yang berbeda dan rasio laba yang ditentukan sebelumnya.
3.         Murabahah, bank membeli komoditi untuk para nasabahnya dan menjualnya kembali sampai seharga yang maksimum yang ditetapkan atau rasio laba yang pada harga yang  dinyatakan semula.
4.         Tawliyah, penjualan kembali barang dengan harga yang dinyatakan semula tanpa laba atau rugi bagi penjual.
5.         Wadi’ah, penjualan kembali barang dengan potongan dari harga semula.

Dalam sejarah Islam dini dikenal adanya 3 macam Bait al-Mâl, yaitu,
1.         Bait al-Mâl al-Khas, adalah perbendaharaan kerajaan, dengan sumber pendapatan dan pengeluaran sendiri, seperti pengeluaran pribadi khalifah.
2.         Bait al-Mâl, adalah sejenis bank negara untuk kerajaan, tetapi tidak berarti ia memiliki semua fungsi bait al-Mâl. Administrasinya berada pada tangan seorang.
3.         Bait al-Mâl al-Islamin, adalah perbendaharaan semua kaum muslimin, berfungsi untuk kesejahteraan semua warga tanpa memandang agama, kasta dll. Bait al-Mâl ini bertempat di mesjid yang dikelola oleh Qadhi[37].

Memakmurkan Mesjid
Seperti telah disinggung di atas, bait al-Mâl al-Islamin, bertempat di mesjid, ini menunjukkan bahwa mesjid tidak hanya berfungsi untuk dzikir dan shalat saja, tetapi berfungsi juga untuk syiar Islam yang lainnya, misalnya pendidikan dan da’wah. Dalam sejarah Islam klasik mesjid merupakan tempat pendidikan dan da’wah Islam ke dua setelah al-Dâr. Selama di Mekkah, Nabi menjadikan Dâr al-Arqam bin Arqam sebagai tempat da’wah dan pendidikan. Setelah di Madinah Mesjid sebagai tempat da’wah dan pendidikan kedua, lalu ketiga Mesjid dan Shuffa, yaitu mesjid yang ditambah disampingnya tempat belajar, kemudian keempat Mesjid dan Khan, yaitu mesjid ditambah dengan asrama, kelima Mesjid dan Madrasah, yaitu mesjid ditambah bangunan sekolah dengan fasilitas pendidikan yang lengkap di dalamnya[38]. Menjadikan mesjid sebagai kegiatan tersebut di atas, termasuk kepada jenis memakmurkan mesjid. Dan memakmurkan mesjid itu merupakan kewajiban bagi orang-orang mu’min.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ {} أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {}

Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allâh ialah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allâh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (.:) Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allâh. Mereka tidak sama di sisi Allâh; dan Allâh tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim[39].

يأتى على الناس زمان يتباهون بالمساجد ثمّ لا يعمرونها إلاّ قليلا. أحمد

Penulis; Dr. Dedeng Rosyidin

* * *


DAFTAR PUSTAKA
  • Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami al-Bayan an al-Ta`wil Ai Alquran, Jilid V, XI, Dâr al-Fikr, Beirut, 1988.
  • Ahmad al-Shwi al-Maki,  Hatsiat al-‘Alamah al-Shwi ‘ala Tafsir Jalalain, II, Dâr al-Fikr, 1993.
  • Abdu al-Rahman Jalaludin al-Sututhi, al-Dur al-mantsur fi Tafsir al-Ma`tsur,  V, Dâr al-Fikr, Beirut, 1992.
  • Ahmad Mushtafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, III, V, VII, X,  Dâr al-Fikr, Beirut, 1974.
  • Abdul Wahab al-Najjari, Qishash al-Anbiya, Dâr al-Fikr, Beirut, tt.
  • Al-Shan’ani, Subulu al-salam,  jilid 4,  Dahlan, Bandung, tt.
  • Abdul Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1997.
  • Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Mizan, 1994, Bandung.
  • Hasbi Al-Shidieqi, Al-Ialam, II, Bulan Bintang,  Jakarta, 1977.

FOOTNOTE:
[1] Ahmad al-Shawi al-Maliki (selanjutnya disebut Shawi), 1993, Hatsiat al-‘Alamah al-Shwi ‘ala Tafsir Jalalain, II, Dâr al-Fikr. II:105. Abi Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari (selanjutnya disebut al-Thabari), 1988, Jami al-Bayan an al-Ta`wil Ai Alquran,  Dâr al-Fikr, Beirut. V:237.
[2] Ahmad Mushtafa al-Maraghi (selanjutnya disebut al-Maraghi), Tafsir al-Maraghi, III, V, VII, X,  Dâr al-Fikr, Beirut, 1974. VII:208.
[3] Shawi, Loc. Cit.
[4] Al-Maraghi, Loc. Cit.
[5] Abdul Wahab al-Najjari (selanjutnya disebut al-Najari), Qishash al-Anbiya, Dâr al-Fikr, Beirut, tt, h. 45.
[6] Shawi, Loc. Cit.
[7] Abdu al-Rahman Jalaludin al-Suyuthi (selanjutnya disebut al-Suyuthi), al-Dur al-mantsur fi Tafsir al-Ma`tsur, Dâr al-Fikr, Beirut, 1992, III:501.
[8] Al-Thabari, Loc. Cit.
[9] Al-Maraghi, Op. Cit. III:211.
[10] Qs. Al-A’râf [7]:85-86.
[11] Ibid, 7:88.
[12] Ibid, 7:90.
[13] Ibid, 7:91.
[14] Al-Suyuthi, Op. Cit. V:92.
[15] Al-Thabari, Op. Cit. XI:107.
[16] Al-Maraghi, Op. Cit. VII:99.
[17] Al-Najari, Op. Cit. h. 146.
[18] Al-Maraghi, Op. Cit. V:40.
[19] Ibid, VII:99-100. Al-Thabari, Op. Cit. XI:107-108.
[20] Qs. Al-Syuara [26]:183.
[21] Ibid, 26:187.
[22] Ibid, 26:189.
[23] Al-Suyuthi, Op. Cit. VI:320.
[24] Shawi, Op. Cit. II:373.
[25] Al-Suyuthi, Op. Cit. VIII:442.
[26] Al-Maraghi, Op. Cit. X:72.
[27] Qs. Al-Muthaffifin [83]:1-3.
[28] HR. Al-Thabraniy.
[29] HR. Abu Ya'la.
[30] HR. Al-Bukhari.
[31] HR. Al-Hakim.
[32] Al-'Asqalaniy, Buluughu al-Marram min Adillat al-Ahkam, Beirut: Daar al-Fikr, h. 174. NH. 845.
[33] Ibid, h. 168. NH. 817.
[34] Ibid, h. 169. NH. 822.
[35] Ibid, h. 170. NH. 825.
[36] Ibid, h. 170. NH. 827.
[37] Abdul Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1997. h. 167-205.
[38] Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, Mizan, 1994, Bandung, h. 29.
[39] Qs. Al-Taubah [9]:19.