Update Teranyar...

5 Penyebab Malas Beribadah dan Tips Meningkatkan Semangat Ibadah

Published By Pajagalan.com on Rabu, November 26, 2014 | 19.27


Penyebab Malas Beribadah Pertama : Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat.

Sebab pertama dari beberapa sebab yang menjadikan seorang malas dalam beribadah adalah bergelimang dalam dosa dan maksiat. Sufyan Ats-Tsauri pernah menuturkan, “Saya pernah tidak bisa menjalankan shalat tahajjud selama 5 bulan. Hanya karena 1 dosa yang dulu aku lakukan.” (atau ucapan yg senada). Lantas, bagaimana dengan kita?

Seorang muslim yang bergelimang maksiat dan terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia adalah salah satu sebab-sebab malas beribadah. Jika seorang malas beribadah, maka ia terancam dengan kemurkaan Alloh. Tahukah Anda, apa kemurkaan Allah tersebut?

Sungguh Alloh akan melenyapkan manisnya iman, tidak mengaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan. Inilah murka Alloh yang akan menimpanya, selanjutnya ia tidak mampu mengerjakan ketaatan dan ibadah, padahal meraih ketaatan dan ibadah adalah sebab meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu Allohu subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura:30)

Maka dari itu, hendaklah seorang muslim menjauhi perbuatan maksiat dan dosa-dosa kecil yang dianggap remeh. Oleh sebab itu jauh hari Rasululloh Shollalahu a’alaihi wassalam mengingatkan kita dengan sabdanya,

“jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia bertumpuk-tumpuk pada seseorang, maka ia akan mencelakakan orang tersebut.”

Jauhilah segala dosa kecil dan besar itulah ketaqwaan, jadilah engkau seperti orang yang berjalan di atas jalan berduri yang selalu waspada, janganlah engkau meremehkan dosa kecil, karena sebuah gunung itu tersusun dari batu-batu kecil

Penyebab Malas Beribadah Kedua : Tidak Faham Tentang Urgensi Ibadah

Sebab-sebab malas beribadah kedua yang membuat seseorang malas mengerjakan ketaatan dan ibadah adalah melupakan urgensi ibadah. Diantara bentuk kelalaian seseorang adalah melupakan dirinya bahwa ia adalah mahluk yang lemah, hanya karena kehendak dan kekuatan Alloh sajalh ia menjadi kuat dalam menjaga dan mengerjakan ketaatan dan ibadah.

Seorang muslim harus mengetahui dan memahami bahwa beribadah dan beramal shalih adalah sebab dan inti mendapatkan bantuan dan pertolongan Alloh, sesungguhnya tekun mengerjakan amal shalih adalah cara meraih pertolongan Alloh subhanahu Wata’ala

Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman

“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-ankabut:69)

Penyebab Malas Beribadah Ketiga : Melupakan Kematian

Diantara sebab-sebab malas beribadah adalah melupakan kematian dan kejadian-kejadian setelahnya. Wahai saudaraku, sungguh melupakan kematian dan kesulitan-kesulitan setelahnya adalah penyebab seseorang malas untuk beribadah, taat dan malas beramal shaleh.

Sungguh seorang yang melupakan kematian dapat dipastikan ia akan malas beribadah, maka dari itu bagi setiap muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak mengingat penghancur (pemutus) segala kenikmatan. Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”(QS. Ali Imran : 185)

Ya, Kematian adalah obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan yang banyak dosa. Oleh sebab itu Rasulullah Shollalahu ‘alaihi Wasallah bersabda “perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.”

Penyebab Malas Beribadah Keempat : Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah

Wahai saudaraku….

Diantara sebab malas beribadah dan malas mengerjakan ketaatan adalah tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah. Sungguh tidak mengetahuinya adalah sebab malas melakukan ibadah dan ketaatan, jika seseorang mengetahui besarnya suatu ibadah, niscaya ia akan rajin mengerjakannya.

Maka dari itu, aku wasiatkan kepada kalian wahai kaum muslimin… hendaklah bersungguh-sungguh untuk memahami keutamaan ibadah dengan membaca buku-buku yang menjelaskan akan keutamaan dan ganjaran ibadah itu. Karena jika seseorang mengetahui keutamaan dan besarnya pahala suatu ibadah ia akan bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah.

Penyebab Malas Beribadah Kelima : Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

Diantara sebab malas mengerjakan ibadah dan ketaatan adalah berlebih-lebihan dalam perkara mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. Seluruhnya adalah penyebab malas beribadah, karena berlebih-lebihan dalam hal tersebut dapat menyebabkan lesu, ingin mudah istirahat dan tidur.

Berlebih-lebihan dalam perkara mubah seperti dalam makanan dan minuman adalah penyebab kerasnya hati. Karena hati akan bersih dan lembut jika dalam kondisi lapar dan sedikit makan dan hati akan menjadi keras jika dalam kondisi kenyang, hal ini adalah sunnatulloh yang tidak pernah berubah. Celakalah orang yang keras hatinya dan tidak ingat Alloh. Bahkan seorang muslim yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, mengerjakan kebaikan dan ketaatan bahkan bercapek-capek mengerjakan sholat tahajud pun tidak akan merasakan lezat dan manisnya ibadah jika berlebihan dalam perkara mubah tersebut.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata “Banyak mengkonsumsi makanan adalah sebuah penyakit yang akan menimbulkan keburukan, banyak makan dapat menjerumuskan anggota badan untuk melakukan maksiat, dan berat untuk melakukan ketaatan. Maka cermatilah keburukan ini.”

Wallohu ‘alam

Tujuh Tips untuk meningkatkan semangat ibadah

Tips Ustadz Tate Qomaruddin (Memahami Fadhilah Ibadah)

  1. Kenali dan pahami keutamaan (fadhilah) setiap ibadah. Bacalah ayat-ayat Qur’an atau hadits shahih yang menerangkan keutamaan ibadah.
  2. Ubah lintasan hati untuk melakukan ibadah menjadi keinginan, lalu tekad. Caranya dengan selalu mengingat bahwa hidup kita belum tentu masih panjang.
  3. Sering mengadakan berkumpul (majelis, halaqah) untuk saling menasehati dan mengingatkan.
  4. Sering-sering “menengok” bagaimana para sahabat dan tabi’in bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah (membaca sirah/perjalanan hidupnya).
  5. Bersikap menengah (sedang-sedang saja) dalam melaksanakan ibadah. Jangan memforsir diri secara berlebihan. Karena ibadah yang baik adalah yang dilakukan secara dawam (kontinyu) walaupun sedikit.
  6. Mintalah kepada orang tedekat untuk mendorong melaksanakan ibadah atau mengingatkan apabila kita lalai dalam beribadah.
  7. Berdo’a. Diantara do’a yang diajarkan adalah “Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, untuk bersyukur kepada-Mu, dan untuk melaksanakan ibadah kepada-Mu secara baik).

Tips Dr. Setiawan Budi Utomo (Buat Divesifikasi Ibadah)

  1. Perbesar kerinduan untuk “berkomunikasi dan bermesraan” dengan Allah SWT.
  2. Rasakan hati seperti kering, hampa, dan ada yang hilang bila berkurang ibadah.
  3. Jadikan ibadah sebagai media relaksasi jiwa, penguatan mental, dan rekreasi sukma.
  4. Cobalah melakukan diversivikasi dan penghayatan ibadah untuk membuang kejenuhan.
  5. Tingkatkan dorongan mensyukuri nikmat untuk menyingkirkan kemalasan ibadah.
  6. Yakinilah ibadah sebagai sumber kekuatan, media konsolidasi dan mobilisasi hidup.
  7. Hindarilah kemaksiatan lahir dan batin yang menghalangi kelezatan ibadah.

Tips Ustadzah Helini (Amal Sebagai Investasi Abadi)

  1. Memahami tujuan hidup
  2. Ibadah kepada Allah SWT adalah merupakan tujuan dari penciptaan kita. Apapun bentuk amal perbuatan kita harus dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah SWT selalu berada bersama kita dan mengawasi gerak-gerik kita.
  3. Memahami nilai dunia dibandingkan akhirat
  4. Dunia bukanlah segala-galanya.
  5. meyakini dengan sepenuhnya konsep perhitungan (yaumul hisab)
  6. Setiap amal sekecil apapun ada nilai dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
  7. Mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah
  8. Menghindari semua bentuk kemaksiatan dan dosa-dosa kecil
  9. Mengingat bahwa kematian itu datang secara mendadak
  10. Memohon pertolongan dan bantuan pada Allah SWT

[rh/majalah ummi edisi 9/XII/2000/pajagalan.com]

Inilah Penyebab-Penyebab Hawa Nafsu Sulit Dikendalikan

Apa Penyebab Nafsu Sulit Dikendalikan?
Apa penyebab nafsu sulit dikendalikan?

Berikut ini penyebab hawa nafsu yang terasa sangat sulit dikendalikan :

Sebab: Lemahnya Iman kepada ALLAH, padahal ALLAH selalu MEMPERHATIKAN nya & lemahnya iman akan HARI PEMBALASAN di AKHIRAT kelak,
Saran: Bergaul dengan mereka yang kuat imannya, hadiri majlis ta'lim, baca alquran dan artinya resapi pahami.

Sebab: Jahil, kurangnya pemahaman ILMU ALQUR’AN & AS SUNNAH,
Saran: Perbanyak mengkaji ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Sebab: Mind Set nya, “aku tidak bisa tenang kecuali terpuaskan seleraku”,
Saran: Tetapkan dalam hati jika nafsu dituruti maka tidak akan merasa puas malah semakin kuat.

Sebab: Menyia-nyiakan Kesempatan, “Kalaupun aku berdosa kan masih ada waktu untuk bertaubat”,
Saran: Ingat mati akan menjemput kapan saja dimana saja tidak peduli tua atau muda, sehat atau sakit.

Sebab: Terus MEMPERTURUTKANNYA, maka nafsunyapun semakin jadi,
Saran: Jangan menuruti nafsu, seara bertahap cobalah mengekang nafsu.

Sebab: Pergaulannya sesama hedonis pengumbar nafsu juga, “all free and be free”,
Saran: Jauhi pergaulan hedonis dan pergaulan yang sekiranya hanya akan menambah dosa dan maksiyat.

Sebab: Makan Minum dari yang haram, baik zatnya maupun cara mencarinya, masuk ke tubuh menjadi energi nafsu lagi,
Saran: Allah yang memberi rizki maka yakinlah masih banyak bertebaran rizki Allah yang halal.

Sebab: Menjauh dari Ulama, orang sholeh & majlis kebaikan,
Saran: Dekati ulama fuqoha dan orang-orang sholeh serta senantiasa menghadiri majlis ta'lim, ceramah, tabligh akbar.

Sebab: Tak ada Keinginan Kuat untuk Hijrah, maka jadilah seperti Hewan,
Saran: Berhijrahlah dari hal-hal yang tidak baik dan sia-sia menuju hal-hal yang baik dan bermanfaat.

Firman Allah, QS.7 Al-A’raf (176)

" Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan [derajat]nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya [juga].

Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.

Maka ceritakanlah [kepada mereka] kisah-kisah itu agar mereka berfikir. "

Bismillah ...
Allahumma Ya ALLAH selamatkan kami dari kelemahan iman,
kebodohan & keinginan nafsu ma’siyat
Aamiin ...

Yuk Kita Belajar Menyelesaikan Masalah dari Aisyah r.a

Published By Pajagalan.com on Selasa, November 25, 2014 | 19.50

Ummul Mukninin ‘Aisyah tumbuh besar di rumah Rasulullah nan suci. Hal ini sungguh merupakan anugerah yang sangat besar, karena setiap orang yang dididik langsung oleh Rasulullah pada dasarnya akan menjadi guru dan sekolah yang fenomenal.

Inilah yang benar-benar terjadi pada diri ibunda kita, ‘Aisyah. Nalar dan pemikirannya dipenuhi dengan konsepsi-konsepsi Islam. Tingkah laku dan sikap ‘Aisyah merupakan bentuk praktis dan implementasi dari konsep-konsep Islam. Maka tidak masuk akal jika ‘Aisyah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi pemikiran, konsepsi dan tingkah laku yang sudah mendarah daging pada diri dan akalnya.

Sikap seperti ini bukan hanya ada pada diri ‘Aisyah saja, melainkan adalah corak tingkah laku yang ada pada diri sahabat Rasul secara umum. Di situ ditemukan adanya keharmonisan luar biasa antara pikiran dan tingkah laku, yang jarang sekali bertolak belakang dengan Al Quran.

‘Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik.

Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik.

Apa yang dilakukan ‘Aisyah menghadapi persoalan rumit ini? Bagaimana dia menghadapi, melawan, dan mengalahkannya?

Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya.

Masalah dan Cara Menghadapinya

Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah.

Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan ‎​اَللّهُ baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Masalah dapat didefinisikan sebagai perasaan atau kesadaran tentang adanya suatu kesulitan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kondisi disaat kita berbenturan dengan realitas yang tidak diinginkan.

Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.

Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu?

Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering.

Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?

Sadar Bahwa Tengah Menghadapi Masalah

Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama.

Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar.

Menjaga Emosi dan Tetap Tegar

Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah,

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18)

Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah.

Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat.

Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.

Memikirkan Solusi

‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut:

1.Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian

2.Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi

3.Pergi ke tempat lain

4.Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari.

5.Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh.

Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah;

1.Membela diri

2.Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat

3.Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah

4.Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada

Solusi

‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan.

Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut. [rh/eramuslim.com/pajagalan.com]

Mengapa Manusia Lebih Memilih Neraka Daripada Surga?

PERTANYAAN : Seorang ustad menjelaskan bahwa meskipun pintu surga dibuka lebar-lebar namun manusia lebih cenderung untuk tidak mau memasukinya. Dan meskipun pintu neraka ditutup rapat-rapat. Namun manusia lebih cenderung untuk mencarinya. Mengapa demikian? Terima kasih Ustadz.- . 083XXXXXXX.


JAWABAN : Kami belum mendapatkan ayat Alquran atau hadis yang persis dengan keterangan yang ditanyakan, akan tetapi kami mendapatkan hadis yang tampak dapat dimaknakan dengan penjelasan yang ditanyakan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah saw. bersabda,”Dihijab (dihalangi) neraka itu dengan syahwat-syahwat dan dihalangi surga dengan hal-hal yang tidak disukai.” H.r. Al-Bukhari, XVI : 314, no.6487.

Di dalam hadis Musnad Ahmad bin Hanbal, II : 368,no.7521, Sahih Muslim,VIII: 142,no.7308, Sunan At-Titmidzi, IV : 693,no.2559, kata-kata hujibat diriwayatkan dengan lafal huffat. Kedua lafal itu maknanya sama, yakni dihalangi.

Berdasarkan hadis ini, neraka dihalangi dengan syahwat, artinya yang disukai dan disyahwati manusia sehingga manusia asyik bermaksiat dan lupa diri, padahal syahwat-syahwat itu yang menggusur mereka dalam menapaki jalan-jalan menuju neraka. Sedangkan surga dihalangi dengan hal-hal yang seringkali bertentangan dengan syahwat, artinya manusia tidak mensyahwatinya bahkan memiliki kecenderungan untuk membencinya. Itu sebabnya sifat malas, rakus, kikir, ragu-ragu, penakut, hasad (iri dengki), sering menjadi penghalang ibadah dalam bertaqarrub kepada Allah swt.

Umpamanya dalam berjihad takut meninggalkan hal-hal yang dicintainya, dalam bersedekah diganggu sikap kikir dan dihantui kekurangan atau kemiskinan, baik dengan jiwa atau harta, demikian pula ibadah-ibadah lainnya seperti salat, saum, zakat, dan lain-lain, dalam pelaksanaannya tentulah selalu diiringi pengorbanan dengan meninggalkan hal-hal yang disyahwatinya. Manusia sering lupa diri bahwa ibadah itulah pengorbanan dirinya dalam menapaki jalannya ke surga.

Oleh karena itu jalan menuju surga akan dirasakan berat dengan berbagai rintangannya. Sementara jalan menuju pintu neraka dirasakan lancar dengan banyak dorongan dan dukungan. Jadi, dari hadis ini dapat dipahami pula bahwa neraka meski ditutup rapat manusia memaksa memasukinya karena dengan cara yang mereka syahwati sementara surga meskipun dibuka lebar, manusia enggan memasukinya karena harus dengan segenap pengorbanan yang tidak disyahwatinya. (KH. Wawan Shofwan, anggota Dewan Hisbah PP. Persis) [rh/persatuanislam.or.id/pajagalan.com]

Jarak Safar 15 Km Disepakati Dapat Meng-Qashar Shalat?

PERTANYAAN: Saya bingung adanya perbedaan pendapat mengenai safar sejauh 15 KM ada yang di-qashar dan ada yang tidak katanya itu merupakan ijma’. PD. Persis Subang.


Tidak perlu bingung, Rasulullah saw. Meng-qashar salat Ashar beliau di Zulhulaifah dan jarak kepergian beliau dari Madinah ke Zulhulaifah itu lebih kurang 5 Km. Dengan demikian 15 Km tentu sudah lebih utama di qashar, akan tetapi bila melakukan salat itu dengan tam (tetap empat rakaat), maka salatnya sah.

Di dalam sebuah hadis diterangkan demikian :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Dari Anas bin malik r.a bahwasannya Rasulullah saw. Salat Zuhur di madinah empat rakaat dan salat Ashar di Zulhulaifah dua rakaat.” Sahih Al-Bukhari, IV : 43 dan Sahih Muslim, II : 144.

Jadi, jarak safar 15 Km disepakati adanya meng-qashar salat.(Ustadz Wawan Shofwan, anggota Dewan Hisbah PP. Persis) [rh/persatuanislam.or.id/pajagalan.com

Bagaimana Hukum Produsen, Pengedar, dan Pemakai Narkoba?

Published By Pajagalan.com on Senin, November 24, 2014 | 23.54

Ustadz, Bagaimana menurut Islam hukum tentang produsen, pengedar, dan pemakai narkoba? Terimakasih. 085XXXXXXXX..

Bagaimana Hukum Produsen, Pengedar, dan Pemakai Narkoba?

JAWABAN : Menganai hal ini Rasulullah saw. menjelaskan dalam beberapa hadis sebagai berikut :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْغَافِقِيِّ ، وَأَبِي طُعْمَةَ مَوْلاَهُمْ أَنَّهُمَا ، سَمِعَا ابْنَ عُمَرَ ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : لُعِنَتِ الْخَمْرُ عَلَى عَشَرَةِ أَوْجُهٍ : بِعَيْنِهَا ، وَعَاصِرِهَا ، وَمُعْتَصِرِهَا ، وَبَائِعِهَا ، وَمُبْتَاعِهَا ، وَحَامِلِهَا ، وَالْمَحْمُولَةِ إِلَيْهِ ، وَآكِلِ ثَمَنِهَا ، وَشَارِبِهَا ، وَسَاقِيهَا.

Dari Abdurahman bin Abdulah algafiqi dan Abu Thu’mah maula mereka bahwa keduanya mendengar Ibnu Umar berkata,”Rasulullah saw. telah bebrsabda,”Khamr dilaknat atas sepuluh aspek : Khamernya sendiri (barangnya), Pemeras, para pembantu pemerasan, penjual, pembeli, pemikul, pemesan, pemakan harga, peminum, dan pemberi minunannya.” H.r. Sunan Ibnu majah, IV : 468,no. 3380.

Hadis ini diriwayatkan dengan sanad yang banyak dan banyak pula hadis dengan matan yang berbeda-beda. Tetap semua menunjukkan laknatan Allah swt. atas pelaku dari salah satu perbuatan tersebut. Narkoba adalah haram sebagaimana haramnya minuman keras karena sama sama memabukkannya, Jadi jelas, yang melibatkan diri pada keharaman narkoba dilaknat dengan laknatan yang sama. (Ustadz KH. Wawan Shofwan, anggota Dewan Hisbah PP.Persis) [rh/persatuanislam.or.id/pajagalan.com]

Apakah Mubahalah dan Mula’anah? Bolehkah Mubahalah Atau Mula’anah Dilakukan di Pengadilan

PERTANYAAN : Bolehkah mubahalah atau mula’anah dilakukan di pengadilan? Karena dituduh mencuri padahal tidak. - Muadz Banjar -.
Apakah Mubahalah dan Mula’anah? Bolehkah Mubahalah Atau Mula’anah Dilakukan di Pengadilan

Sebelumnya akan kami jelaskan terlebih dahulu makna Mubahalah dan mula’anah serta kejadian mubahalah dan mula’anah pada masa Rasulullah saw.

Antara mubahalah dan mula’anah ada persamaan dan perbedaannya. Sama-sama terkandung makna laknat tetapi pada masalah yang berbeda. Mubahalah adalah saling bersumpah dengan lawan mujadalah dalam urusan aqidah dan keyakinan agama dan saling bersumpah dan berdoa laknat untuk lawan mujadalah. Sementara mula’anah antara lain terjadi dalam urusan pernikahan yang berkaitan dengan suami yang menyatakan istrinya berzina tanpa saksi-saksi lain selain dirinya sementara sang istri tetap tidak mengakuinya. Maka keduanya bersumpah atas nama Alllah dan saling mengucapkan kata laknat bagi yang berdusta.

Adanya mubahalah dijelaskan di dalam Firman Allah swt. sebagai berikut :

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (59) الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِين (60) فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (61)

Artinya :

59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.

60. (apa yang Telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.

61. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta Q.s. Ali Imran/3 : 59 – 61.

واصل الابتهال الاجتهاد في الدعاء باللعن وغيره

Asal makna ibtihal (mubahalah) adalah bersungguh-sungguh dalam berdoa dengan laknat atau lainnya.

Di dalam beberapa riwayat Rasulullah saw. mengajak kaum nashara melakukan mubahalah karena mereka terus menyatakan kesalahan Nabi saw. mengenai yang beliau sampaikan tentang Nabi Isa A.s. Mereka menolak bahwa nabi Isa itu benar-benar Nabi seperti Nabi-Nabi lainnya. Akan tetapi mereka meyatakan bahwa Isa anak Allah. Lalu nabi saw. Mengajak mereka bermubahalah dengan menghadirkan anak, istri dan cucu, Oleh karena itu hasan dan Husen turut dihadirkan. Laknatnya adalah bahwa lembah tempat tinggal mereka akan dipenuhi api. Ternyata mereka tidak mau karena takut. Mareka sebenarnya mengetahui bahwa nabi Muhamad benar-benar utusan Allah swt. Dan yang disampaikan mengenai kenabian Isa A.S adalah benar. Jadi mereka memilih membayar upeti daripada bermubahalah. Tafsir Alqurtubi, IV : 104.

Pada masa Rasulullah saw. ada seorang yang menyatakan mendapatkan istrinya dengan seorang laki-laki bukan mahram, maka ketika ditanya oleh Rasulullah saw. adakah diantara kalian yang akan menarik lagi kata-katanya. Ketika tidak ada Rasulullah saw. menyatakan dipisahkannya mereka (bukan suami istri lagi dan tidak boleh pernah kembali menjadi suami istri).

Lalu apakah mubahalah dan mula’anah ini dapat dilakukan oleh perseorangan yang didakwa melakukan pencurian padahal tidak melakukannya?

Pertama, Di pengadilan negara kita khususnya, dalam hukum positif tuduhan atas pencurian harus dilengkapi dengan bukti dan saksi. Pencurian termasuk perkara pidana. Apabila saksi atau bukti ini dinilai oleh majlis hakim dianggap tidak memadai, maka yang sebenarnya mencuri pun akan dinyatakan bebas, dan memiliki hak untuk dibersihkan kembali namanya. Akan tetapi jika oleh majlis hakim dinilai cukup saksi dan bukti, tentu akan dikenakan hukuman sesuai dengan keputusan pengadilan walaupun sebenarnya terdakwa tidak melakukannya. Itulah pengadlan manusia. Itu sebabnya para pengadil oleh Rasulullah saw. dinyatakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم مَنْ وُلِيَ القَضَاءَ أَوْ جُعِلَ قَاضِيًا بَيْنَ النَّاسِ فَقَدْ ذُبِحَ بِغَيْرِ سِكِّيْنٍ

Dari Abu Hurairah, ia berkata,”Rasulullah saw. telah bersabda,’Siapa yang dipercaya penjadi pemutus perkara atau dijadikan qadi (pemutus perkara) di antara manusia, sungguh ia telah disembelih tanpa pisau.’” H.r. Musnad Ahmad bin Hanbal, II : 327,no.7145, Sunan At-Tirmidzi, III:614,no.1325, Sunan Abu Daud, II : 774,no.3575, Sunan Ibnu Majah, II : 774,no.2308

Oleh karena itu para hakim sungguh sangat berat beban akibat keputusan mereka bila melakukan kezaliman atau rekayasa yang menganiyaya terdakwa.

Tetapi akan besar pahala mereka bila mereka bertindak dengan niat ibadah, benar, objektif, dan berdasarkan rasa keadilan. Bila keputusannya benar ia dapat pahala dua dan bila salah tetap akan mendapat pahala satu.

Adapun dalam pekara perdata pasal 1929-1930 kitab Undang undang perdata/ KUHP dikenal isitilah sumpah decisoir atau sumpah pemutus perkara. Akan tetapi jelas ini tidak sama dengan mubahalah atau mula’anah di dalam Islam, karena mubahalah dan mula’anah memiliki definisi khusus. Bukan setiap melakukan dusta atau melakukan saling laknat.

Jadi, kasus dakwaan pencurian (pidana) tidak dapat diakhiri dengan mubahalah dan mula’anah. (Ustadz Wawan Shofwan, anggota Dewan Hisbah PP. Persis). [rh/persatuanislam.or.od/pajagalan.com]

 
Copyright © 2007-2014. Pajagalan.com - All Rights Reserved - Privacy.
Jl. Pajagalan No.14-16 (Cibadak - Astanaanyar) Bandung - Indonesia 40241
Design Mas Template Adaptation by Hakimtea
Powered by Blogger