Update Teranyar...

Hukum Sholawat, Seperti Apa Sholawat yang Benar Sesuai Sunnah? Bolehkah Sholawat Sambil Nyanyi Diiringi Rebana?

Published By Pajagalan.com on Senin, Desember 08, 2014 | 07.05

Ustad, kalo sholawatan kyk yg d nyanyiin itu emang ga boleh atau gimana yah? Cukup d shlt aja atau gimana? Suka ada yg nyanyi2an spt "ya nabi salam alaika ya rasul salam alaika ya habib salam alaika shlwtullah alaika" dan shlwtan2 yg lainnya juga.
Syukran [Yulianti Nurul]

Alhamdulillah, sebelum menjawab pertanyaan saudari, kami ingin menyampaikan, bahwa amal ibadah akan diterima oleh Allah jika memenuhi syarat-syarat diterimanya ibadah. Yaitu ibadah itu dilakukan oleh orang yang beriman, dengan ikhlas dan sesuai Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi pada zaman ini, alangkah banyaknya orang yang tidak mempedulikan syarat-syarat di atas. Maka, pertanyaan yang saudari ajukan ini merupakan suatu langkah kepedulian terhadap Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah selalu memberi taufiq kepada kita di atas jalan yang lurus.

Perlu kami sampaikan, bahwasanya shalawat kepada Nabi merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Tetapi, banyak sekali penyimpangan dan bid’ah yang dilakukan banyak orang seputar shalawat Nabi. Berikut ini jawaban kami terhadap pertanyaan saudari.

1. Shalawat Nabi memang banyak macamnya. Namun, secara global dapat dibagi menjadi dua.

Pertama, Shalawat yang disyariatkan. Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya.

Bentuk shalawat ini ada beberapa macam. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab Shifat Shalat Nabi menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafizhahullah di dalam kitab beliau Sifat Shalawat dan Salam membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi.

Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah sholawat di dalam Sholat.

اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَـةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, inna-Ka Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama brakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, inna-Ka Hamiidum Majid).

“Ya Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hal. 165-166, karya Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif).

Dan termasuk shalawat yang disayariatkan, yaitu shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh Salafush Shalih.

Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad hafizhahullah berkata, Salafush Shalih, termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

(shallallahu ‘alaihi wa sallam)

dan

عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ

(‘alaihish shalaatu was salaam).

Alhamdulillah, kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadits. Bahkan, mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hal. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al-‘Abbad).

Dan sebagian ulama mengisyaratkan Sholawat dengan perintah menimba ilmu dengan membaca hadits-hadits Rasulullah SAW, karena dengan banyak membaca hadits secara tidak langsung kita akan sering membawa kalimat "Rasulullah" dengan diiringi "Sholallahu 'Alaihi Wassalam" yang merupakan kalimat Sholawat.

Kedua, Shalawat yang tidak disyariatkan.

Yaitu shalawat yang datang dari hadits-hadits dha’if (lemah), sangat dha’if, maudhu’ (palsu), atau tidak ada asalnya. Demikian juga shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahli Bid’ah), kemudian mereka tetapkan dengan nama shalawat ini atau shalawat itu. Shalawat seperti ini banyak sekali jumlahnya, bahkan sampai ratusan. Contohnya, berbagai shalawat yang ada dalam kitab Dalailul Khairat Wa Syawariqul Anwar Fi Dzikrish Shalah ‘Ala Nabiyil Mukhtar, karya Al-Jazuli (wafat th. 854 H). Di antara shalawat bid’ah ini ialah shalawat Basyisyiyah, shalawat Nariyah, shalawat Fatih, dan lain-lain. Termasuk musibah, bahwa sebagian shalawat bid’ah itu mengandung kesyirikan (Lihat Mu’jamul Bida’, hal. 345-346, karya Syaikh Raid bin Shabri bin Abi ‘Ulfah; Fadhlush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, hal. 20-24, karya Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad; Minhaj Al-Firqah An-najiyah, hal. 116-122, karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu; Sifat Shalawat & Salam Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, hal. 72-73, karya Ustadz Abdul hakim bin Amir Abdat).

2. Cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

a). Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyariatkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah. Bukan shalawat bid’ah, karena seluruh bid’ah adalah kesesatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir-dzikir dan doa-doa termasuk ibadah-ibadah yang paling utama. Sedangkan ibadah dibangun di atas ittiba’ (mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tidak seorangpun berhak mensunnahkan dari dzikir-dzikir dan doa-doa yang tidak disunnahkan (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lalu menjadikannya sebagai kebiasaan yang rutin, dan orang-orang selalu melaksanakan. Semacam itu termasuk membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak diizinkan Allah. Berbeda dengan doa, yang kadang-kadang seseorang berdoa dengannya dan tidak menjadikannya sebagai sunnah (kebiasaan).” (Dinukil dari Fiqhul Ad’iyah Wal Adzkar, 2/49, karya Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhshin Al-Badr).

b). Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat terlebih-lebih pada hari Jumat, atau pada saat disebut nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lain tempat yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّـى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah).

c). Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara, yang tidak ditentukan oleh syariat.

Seperti menentukan waktu sebelum beradzan, saat khatib Jumat duduk antara dua khutbah, dan lain-lain.

d). Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjamaah.

Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sepanjang pengetahuan kami, tidak ada dalil yang membenarkan ber-shalawat dengan berjamaah. Karena, jika dilakukan berjamaah, tentu dibaca dengan keras, dan ini bertentangan dengan adab dzikir yang diperintahkan Allah, yaitu dengan pelan.

e). Dengan suara sirr (pelan), tidak keras.

Karena membaca shalawat termasuk dzikir. Sedangkan di antara adab berdzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras.

Allah berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Oleh karena itulah, Allah berfirman,

وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ

(dan dengan tidak mengeraskan suara), demikianlah, dzikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras berlebihan.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini menunjukkan bahwa meninggikan suara dalam berdzikir (adalah) terlarang.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/355).

Muhammad Ahmad Lauh berkata, “Di antara sifat-sifat dzikir dan shalawat yang disyariatkan, yaitu tidak dengan keras, tidak mengganggu orang lain, atau mengesankan bahwa (Dzat) yang dituju oleh orang yang berdzikir dengan dzikirnya (berada di tempat) jauh, sehingga untuk sampainya membutuhkan dengan mengeraskan suara.” (Taqdisul Asykhas Fi Fikrish Shufi, 1/276, karya Muhammad Ahmad Lauh).

Abu Musa Al-Asy’ari berkata,

لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسَ عَلَى وَادَ فَرَفَعُوا اَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيْرِ اللهُ أَكْبْرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ لاَ تَدْعُونَ اَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُوا سَـمِيْعًا قَرِيْيًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَّا خَلْفَ دَابَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ فَقَالَ لِي يَـا عَبْدَاللهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ فَدَاكَ أَبَـِي وَأُمِّي قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَ بِالله

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi atau menuju Khaibar, orang-orang menaiki lembah, lalu mereka meninggikan suara dengan takbir: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illa Allah. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pelanlah, sesungguhnya kamu tidaklah menyeru kepada yang tuli dan yan tidak ada. Sesungguhnya kamu menyeru (Allah) Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, dan Dia bersama kamu (dengan ilmu-Nya, pendengarAn-Nya, penglihatAn-Nya, dan pengawasAn-Nya -pen.).” Dan saya (Abu Musa) di belakang hewan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendengar aku mengatakan, ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’ Kemudian beliau bersabda kepadaku, ‘Wahai, Abdullah bin Qais (Abu Musa).’ Aku berkata, ‘Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah,’ Beliau bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanAn-simpanan surga?’ Aku menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah. Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu.’ Beliau bersabda, ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah.’” (HR. Bukhari no. 4205; Muslim, no. 2704).

3. Membaca shalawat tidak boleh sambil diiringi rebana (alat musik), karena hal ini termasuk bid’ah. Perbuatan ini mirip dengan kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang-orang Shufi. Mereka membaca qasidah-qasidah atau sya’ir-sya’ir yang dinyanyikan dan diiringi dengna pukulan stik, rebana, atau semacamnya. Mereka menyebutnya dengan istilah sama’ atau taghbiir.

Berikut ini di antara perkataan ulama Ahlus Sunnah yang mengingkari hal tersebut.

Imam asy-Syafi’i berkata, “Di Iraq, aku meninggalkan sesuatu yang dinamakan taghbiir (sejenis syair berisi anjuran untuk zuhud di dunia yang dinyanyikan oleh orang-orang Shufi dan sebagian hadirin memukul-mukulkan kayu pada bantal atau kulit sesuai dengan irama lagunya). (Yaitu) perkara baru yang diada-adakan oleh Zanadiqah (orang-orang zindiq; menyimpang), mereka menghalangi manusia dari Al-Quran.” (Riwayat Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis; Al-Khalal dalam Amar Ma’ruf, hal. 36; dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 9/146. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 163).

Imam Ahmad ditanya tentang taghbiir, beliau menjawab, “Bid’ah.” (Riwayat Al-Khallal. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 163).

Imam ath-Thurthusi tokoh ulama Malikiyah dari kota Qurthubah (wafat 520 H); beliau ditanya tentang sekelompok orang (yaitu orang-orang Shufi) di suatu tempat yang membaca Al-Quran, lalu seseorang di antara mereka menyanyikan syair, kemudian mereka menari dan beroyang. Mereka memukul rebana dan meminkan seruling. Apakah menghadiri mereka itu halal atau tidak? (Ditanya seperti itu) beliau menjawab, “Jalan orang-orang Shufi adalah batil dan sesat. Islam itu hanyalah kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Adapun menari dan pura-pura menampakkan cinta (kepada Allah), maka yang pertama kali mengada-adakan adalah kawAn-kawan Samiri (pada zaman Nabi Musa). Yaitu ketika Samiri membuatkan patung anak sapi yang bisa bersuara untuk mereka, lalu mereka datang menari di sekitarnya dan berpura-pura menampakkan cinta (kepada Allah). Tarian itu adalah agama orang-orang kafir dan para penyembah anak sapi. Adapun majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya penuh ketenangan, seolah-olah di atas kepala mereka dihinggapi burung. Maka, seharusnya penguasa dan wakil-wakilnya melarang mereka menghadiri masjid-masjid dan lainnya (untuk menyanyi dan menari -pen.) Dan bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidaklah halal menghadiri mereka. Tidak halal membantu mereka melakukan kebatilan. Demikian ini jalan yang ditempuh (Imam) Malik, asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad dan lainnya dari kalangan imam-iumam kaum muslimin.” (Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hlm. 168-169).

Imam Al-Hafizh Ibnu Ash-Shalaah, imam terkenal penulis kitab Muqaddimah ‘Ulumil Hadits (wafat tahun 643 H); beliau ditanya tentang orang-orang yang menghalalkan nyanyian dengan rebana dan seruling, dengan tarian dan tepuk-tangan. Dan mereka menganggapnya sebagai perkara halal dan qurbah (perkara yang mendekatkan diri kepada Allah), bahkan (katanya sebagai) ibadah yang paling utama. Maka beliau menjawab, “Mereka telah berdusta atas nama Allah Ta’ala. Dengan pendapat tersebut, mereka telah mengiringi orang-orang kebatinan yang menyimpang. Mereka juga menyelisihi ijma’. Barangsiapa yang menyelisihi ijma’, (ia) terkena ancaman firman Allah,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia keadalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115). (Fatawa Ibnu ash-Shalah, 300-301. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 169).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dan telah diketahui secara pasti dari agama Islam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mensyariatkan kepada orang-orang shalih dan para ahli ibadah dari umat beliau, agar mereka berkumpul dan mendengarkan bait-bait yang dilagukan dengan tepuk-tangan, atau pukulan dengan kayu (stik), atau rebana. Sebagaimana beliau tidak membolehkan bagi seorangpun untuk tidak mengikuti beliau, atau tidak mengikuti apa yang ada pada Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Beliau tidak membolehkan, baik dalam perkara batin, perkara lahir, untuk orang awam, atau untuk orang tertentu.” (Mahmu’ Fatawa, 11/565. Dinukil dari kitab Tahrim Alat ath-Tharb, hal. 165).

Demikianlah penjelasan kami, semoga menghilangkan kebingungan saudari.
Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, washalatu wassalaamu ‘ala Muhammad wa ‘ala ahlihi wa shahbihi ajma’in.

[Disadur dari As-Sunnah, Eds.12 Tahun/VII/1424 H – 2003 M/pajagalan.com]

Sebulan Pemerintahan Baru, Minuman Beralkohol Bebas Dipajang

Published By Pajagalan.com on Minggu, Desember 07, 2014 | 21.49

Tahun-tahun sebelumnya penjualan minuman keras tergolong sembunyi-sembunyi, bahkan untuk sejenis Bir pun dipajang paling belakang rak minimarket atau agak tersembunyi. Tapi hari ini? Sebulan pemerintahan baru, minuman beralkohol dipajang secara bebas bahkan langsung depan hidung.

Berikut status di social media yang terjadi di daerah Tanggerang:

Rasanya masih 2 minggu yang lalu, rak depan kasir ini masih berisi produk susu kotak anak-anak. Kemarin, saya mendapati rak ini penuh berisi MIRAS GOLONGAN A, atas bawah. 
Saya langsung bertanya kepada kasir yang bertugas disitu, "Mbak, kok minuman keras dipajang di depan sini ya?" Si mbak kasir lantas memanggil supervisornya, dan saya ulangi pertanyaan saya. Alangkah terkejutnya saya mendengar jawaban bapak supervisor itu, "Iya bu, kami hanya mengikuti instruksi dari Kementrian Perdagangan, produk ini harus ditempatkan disini".
"Lho, bukankah ada Perda Tangerang Selatan yang menyatakan bahwa segala bentuk minuman keras dilarang diproduksi dan diperjualbelikan di Tangerang Selatan (Perda no 4 tahun 2014--koreksi jika saya salah). 
Lalu bapak itu memanggil manager store nya, dan saya kembali mengulangi pertanyaan saya tadi. 
Seperti bapak supervisor tadi, sang manajer menjawab hal yang sama, mengikuti INSTRUKSI MENTERI PERDAGANGAN untuk menempatkannya di tempat khusus. 
"Tempat khusus apa yang dimaksud? Ini kan tempat yang sangat mudah dijangkau anak-anak, bahkan balita sekalipun." makin greget saya rasanya. 
"Iya bu, tempat khusus seperti kassa rokok dan rak didepan seperti ini", ujar sang manager lagi. 
"Bapak sudah tahu PERDA Tangsel belum? tentang pelarangan penjualan miras di wilayah tangsel? Toko ini ada di wilayah tangsel bukan? dan lokasi toko ini dekat dengan sekolah, pasar, dan terminal bis trans, lokasi-lokasi yang dilarang terdapat miras lho pak", tanya saya. 
"Belum tahu bu, kami hanya menjalankan instruksi dari atas" katanya. 
Makin gemessss rasanya saya. "Pak instruksi dari yang "paling atas", sudah ada dari dulu dan jelas, kenapa tidak diikuti?" kata saya menyindir. Merasa tersindir (mungkin) si manager mesam-mesem saja. "Pak, maaf, ini bisa lho, bapak atur lagi, lokasi ini mudah dijangkau anak-anak, terbayang tidak, kalau anak bapak yang tidak sengaja mengambil minuman ini karens dikiranya ini minuman biasa karena letaknya sama seperti susu yang biasa dia beli?"
Sang manager mengangguk, "iya sih bu, saya mengerti, begini saja, tolong email ke kami perdanya, nanti kami akan pertimbangkan, maaf, ibu dari LSM atau..." 
"ooh nggak pak, saya cuma rakyat biasa yang peduli generasi penerus bangsa"

Dan ini adalah photo di Bandung yang diambil Admin pajagalan.com, mulai dibukanya kedai Bir di foodcourt Lottemart lantai 3 Festival City Link Jalan Peta.


Dan sebagai info tambahan di lantai dasarnya pun (lottemart) telah dibuka juga outlet penjualan Wine, minuman anggur dengan kadar alkohol tinggi. Jadi inikah salah satu produk pemerintahan baru? [rh/pajagalan.com]


Man Jadda Wajada, Jadi Korban Bully, Siswi SMA Ini Justru Tuai Rp 50 Juta Per Bulan

Dibully karena berjualan es, Ayu, Gadis berusia 17 tahun ini membuktikan ke semua orang kalau dia berhasil sukses. Pernahkan Anda membayangkan bahwa siswi SMA berusia 17 tahun mampu mendapat omset sekitar 50 juta rupiah dari bisnis minuman es?

Dyah Ayu Prameswariningtyas Zulkarnaen, atau akrab disapa Ayu adalah seorang gadis asal desa Jenggawah, Jember yang membuktikan hal tersebut.

Meskipun siswi kelas 12 IPS di SMA negeri di Jember ini pernah diejek dan di-bully karena membangun bisnis minuman es, ia tidak menyerah. Anak pertama dari dua bersaudara ini justru membuktikan bahwa passion berbisnis yang ia miliki mampu melatih dirinya untuk mengembangkan bisnis yang sukses.

Bagaimana kisah Ayu membangun bisnis minuman es yang ia namakan Kampez tersebut? Mari kita simak penuturan gadis kelahiran 20 April 1997 ini!

Halo, Ayu! Bisa ceritakan tentang bisnis kamu? Bisnis kamu bergerak di bidang apa?

Halo! Nama bisnis Saya adalah Kampez, kepanjangan dari Kampung Es. Di sini, Saya menjual jus buah segar dan cappuccino cincau, serta berbagai variasi minuman lain. Saya memulai bisnis ini dari Maret 2014, yaitu ketika Saya masih kelas 2 SMA. Sekarang, omzet yang Saya dapatkan mencapai 50 juta rupiah per bulan.

Awal dibukanya warung ini, omzet per bulan masih kecil, karena Saya salah prediksi cuaca. Saat itu, Saya berencana membuka warung ketika masih pergantian cuaca. Tapi pertama kali Kampez berjalan, warung ini dibuka ketika musim hujan setiap hari. Itu menjadi hal yang menyulitkan. Tapi sekarang, omzet sudah meningkat hingga 50 juta rupiah per bulan.

Di Kampez, Saya membuat warung Saya berkonsep seperti semi kafe, karena sasaran target bsinis ini adalah orang kalangan menengah ke bawah di desa. Banyak bisnis berkembang di kota, tapi sebaliknya untuk di desa, ada bisnis-bisnis yang belum tersentuh.

Untuk produknya, Saya membuat dan mencari formula sendiri. Misalnya jus buah, Saya memilih buah yang berkualitas baik supaya rasa minuman menjadi lebih enak dan unggul daripada jus buah lain. Untuk cappuccino cincau, Saya mencari formulanya selama berbulan-bulan. Itu adalah masa pencarian yang paling berat. Soalnya, Saya juga mengumpulkan modal uang dari orang tua, menyiapkan mental, dan menanggung risiko bullying dari keluarga dan teman-teman. Setelah Saya menemukan formula yang cocok, formula ini menjadi idola orang-orang karena rasanya yang berbeda dari cappuccino cincau lain.

Kenapa kamu bisa sampai di-bully saat itu?

Saya lahir di lingkungan keluarga yang terbilang sukses. Mama Saya adalah seorang guru yang telah berlalu lalang di luar negeri. Posisi mama sebagai seorang guru, dan posisi Saya sebagai “penjual” minuman es menimbulkan sindiran dan ejekan dari orang-orang. Banyak bullying datang dari orang-orang tua. Saya sampai dibanding-bandingkan dengan anak lain. Tapi Saya memutuskan untuk tetap ada di dalam jalan Saya sendiri. Saya tetap fokus sama tujuan awal untuk membangun bisnis sendiri dari nol. Saya sadar kalau hambatan selalu ada dalam perjalanan ini. Apalagi bisnis ini dibuat dari ide anak yang masih “bau kencur”. Jadi ya Saya tetap tersenyum dan anggap itu sebagai penyemangat saja.

Terus, kenapa dulu Ayu berpikiran untuk berbisnis? Lalu, kenapa kamu memilih minuman es sebagai produk yang kamu jual?

Sejak kelas 3 SD, Saya sudah diajari berbisnis oleh orang tua. Dulu, Saya menjual jepit rambut dan aksesoris di sekolah. Sampai SMA pun Saya banyak menjual barang-barang, mulai dari kaos, aksesoris, gambar vektor, dan lain-lain. Dari situ, Saya merasa kalau passion Saya adalah berbisnis. Saya juga terinspirasi dari kakung Saya sendiri. Dia sempat miskin, tapi dia bisa menjadi sukses dengan berbisnis sate kambing di Jember.

Lalu, saat Saya kelas 2 SMA, Saya jalan-jalan ke Malang untuk berwisata kuliner. Dari situ, Saya mendapat ilham untuk membuat bisnis secepat mungkin. Saya juga melihat kalau ada peluang di Jember. Kebetulan, kafe dan minuman es sedang menjamur di Jember. Nah, karena itu, Saya mau membuat usaha yang dapat menggabungkan kedua unsur itu. Untungnya, Saya sudah punya modal tempat. Jadi, Saya tinggal mencari menu yang cocok untuk dijual. Setelah itu, Saya memilih menu jus buah karena menu ini nggak akan lekang oleh zaman. Lalu, untuk menu cappuccino cincau atau capcin, Saya memilihnya karena menu ini sempat happening di Jember dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi. Untungnya, capcin Saya masih eksis hingga sekarang.

Apa yang membedakan minuman es di Kampez dengan minuman dari tempat lain?

Di Kampez, buah dipilih yang baik biar kualitas terjaga, rasa dari capcin yang berbeda, serta banyak varian buah dan rasa capcin. Selain itu, Saya menggunakan gula asli bukan sari manis atau sintetis, juga tidak menggunakan bubuk sari buah. Harganya pun murah dan terjangkau untuk semua golongan, serta tempatnya juga nyaman, bersih, dan terang.

Selama ini, produk paling laris dari bisnis minumanmu apa, Ayu?

Semua minuman Saya laris terjual. Untuk saat ini, jus buah adalah minuman yang paling banyak dicari. Sampai pernah terjadi, alpukat 20 kg habis dalam semalam. Itu adalah rekor yang membuat Saya terharu.

Mayoritas pembeli adalah orang Jember. Pernah juga ada pembeli dari luar Jember, yaitu para backpacker atau traveler dari luar kota yang mau pergi ke pantai Papuma. Selain itu, banyak orang luar kota yang juga mampir ke Kampez ketika musim mudik. Soalnya, tempat Saya adalah tempat beristirahat. Tempat Saya cukup strategis karena terletak di alun-alun desa Jenggawah, Jember.

Konsumen terbanyak adalah anak-anak muda, karena tempat Saya memang memakai konsep untuk anak muda. Tapi banyak juga keluarga atau komunitas yang datang ke Kampez. Kadang-kadang, juga ada rapat atau reuni kecil-kecilan di warung Saya.

Cara apa saja yang kamu lakukan untuk mempromosikan Kampez?

Saya melakukan promo melalui fanspage di Facebook, Twitter, dan Instagram Saya pribadi. Saya juga menelepon saudara-saudara, sampai mempromosikan Kampez ke guru-guru ketika pelajaran. Yang paling gila, saya teriak-teriak untuk berpromosi saat upacara. Saat itu, sudah break upacara untuk menyampaikan pengumuman-pengumuman. Kampez sendiri baru masuk hari ketiga pembukaan warung. Jadi, Saya berpromosi sambil teriak-teriak begitu. Banyak anak mengejek Saya, tapi akhirnya mereka justru sering pergi ke Kampez.

Sulitnya apa sih berbisnis Kampez ini, Ayu?

Sulitnya itu ketika musim hujan seperti sekarang, permintaan minuman es bisa menurun. Untungnya, Saya mempunyai secondline bernama Kampez Nyamil. Di sana, Saya menjual makanan dan camilan. Saya membuat Kampez Nyamil setelah dua bulan Kampez didirikan. Soalnya, warung semakin ramai, serta banyak orang yang mencari makanan dan camilan saat nongkrong. Jadi, Saya mendirikan Kampez Nyamil ini.

Selain itu, ada kesulitan lain seperti buah yang terkadang langka untuk dicari. Buah pun cepat busuk, sehingga harus cepat-cepat dihabiskan. Saya sempat rugi karena Saya harus membuang buah-buah busuk tersebut. Karena itu, Saya evaluasi untuk nggak menambah stok buah lagi. Kami membuat evaluasi seminggu sekali untuk membahas keadaan di Kampez. Jadi, akan ketahuan mana produk yang paling laris, mana yang tidak. Mana yang harus menambah stok, atau mengurangi stok. Evaluasi itu penting banget. Selain untuk sharing, kita juga bisa membuat atau memperbaiki srategi. Selain itu, kita juga bisa tahu pengeluaran, pemasukan, hal-hal yang rusak, dan lain-lain.

Ada juga hambatan lain, seperti bubuk untuk capcin sering langka, sehingga harga kadang naik. Es batu pun harus siap banyak dari awal. Selain itu, tempat Kampez terletak di desa, sehingga masyarakat harus belajar dulu dengan sistem atau menu-menu baru. Pesaing pun makin banyak.

Tantangannya, Saya harus mengontrol kualitas rasa, karena ada pergantian shift pegawai di Kampez. jadi, rasa minuman harus tetap baik semua. Pernah suatu kali nggak terkontrol dengan baik, seperti salah satu pegawai membuat jus stroberi dari blender bekas jus apel yang belum dibersihkan. Ada juga biji buah yang ikut diblender bersama daging buah. Tentu saja konsumen yang memesan minuman itu langsung protes. Untungnya, hal itu cepat ditemukan, ditangani, dan diganti.

Dalam menjalani bisnis Kampez, Ayu pernah mendapat komplain dari konsumen?

Di awal bukanya warung Saya, masih banyak orang yang komplain mengenai service, mulai dari lupa uang kembalian, jus atau capcin yang lupa diberi gula atau susu, sampai buah yang busuk tapi lupa dibuang sehingga ruangan pun jadi bau. Tapi, Saya harus tetap tabah dan ikhlas. Selain itu, ketika awal bukanya warung ini, Saya masih belum punya jurus untuk memanajemen waktu. Akhirnya, tugas sekolah jadi kedodoran. Tapi sekarang, Saya sudah punya empat pegawai, juga dibantu sama orang tua.

Meski banyak kesulitan, dari bisnis ini, Saya bisa menambah uang saku, punya tabungan untuk kuliah nanti, menginspirasi orang lain, dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Bisnis ini termasuk bisnis yang simple, tapi bisa memperoleh banyak profit. Dari bisnis Saya, banyak orang yang mulanya takut berbisnis jadi mulai belajar berbisnis. Bahkan, ada teman yang juga belajar berwirausaha sambil tetap sekolah. Selain itu, Saya senang karena banyak orang yang memuji rasa jus buah dan capcin di warung Saya berbeda daripada yang lain. Banyak orang yang salut juga karena Saya sudah punya bisnis dengan profit yang besar.

Nggak cuma itu, Saya yakin bisnis ini masih bisa berkembang karena masih terbuka luas peluang usaha di desa, pencarian karyawan sedikit lebih mudah, serta banyak waktu untuk berbenah dan menambah fasilitas. Selain itu, teknologi makin maju, sehingga makin mudah juga untuk berpromosi.

Apa kamu pernah dapat pengalaman berkesan selama menjalankan Kampez?

Ada. Saat Saya berbisnis, Saya makin mempunyai banyak teman. Banyak orang juga yang minta untuk berbagi ilmu. Saya welcome banget, karena ilmu kan wajib untuk dibagi. Saya pun bertemu banyak mentor yang baik banget. Dari mereka, Saya belajar untuk berbisnis yang baik, bagaimana mengolah keuangan yang sederhana, bagaimana berpromosi, memanajemen bisnis, dan lain-lain.

Apa ada rencana lagi untuk mengembangkan bisnis ini?

Banyak banget rencana yang mau Saya wujudkan. Saya mau buka beberapa cabang Kampez di Jember untuk mengoptimalkan desa, sekaligus membuka lapangan kerja. Saya juga mau mengembangkan warung ini menjadi kafe yang besar. Sekarang, Saya sudah membuat rancangan dan desain warungnya.

Apa saran atau tips yang bisa kamu berikan pada anak-anak muda seumurmu yang tertarik untuk berbisnis? Terus, ada saran untuk anak-anak muda yang sudah berbisnis supaya mereka bisa mempertahankan usaha hingga waktu yang lama?

Untuk orang-orang yang mau berbisnis, jangan patah semangat, harus kuat mental, punya niat, harus berani ambil resiko, jangan lupa untuk belajar, berdoa, dan berusaha. Kalau kamu masih takut, kamu bisa mengajak orang tua, mencari teman, atau saudara. Jangan bingung juga dengan modal, karena banyak bisnis yang bisa dimulai dengan modal kecil tapi mampu mencapai sukses dan menghasilkam profit tinggi. [rh/iva.co.id/studentpreneur.co/pajagalan.com]

Inilah Kabar Rasulullah Tentang Zaman Kini : Kekuasaan Orang-orang Bodoh dan Zalim

Published By Pajagalan.com on Sabtu, November 29, 2014 | 16.25

Inilah Kabar Rasulullah Tentang Zaman Kini : Kekuasaan Orang-orang Bodoh dan Zalim

Pada akhir zaman nanti, akan dijumpai kekuasaan orang-orang bodoh dan zalim. Mereka mempunyai banyak penolong dalam kezaliman mereka, bahkan mencambuk manusia dan menghinakan mereka. Rasulullah SAW telah mnegumpamakan cambuk-cambuk tersebut dengan ekor sapi serta memperingatkan mereka dengan neraka dan azab Allah SWT.

Dari Abu Umamah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada akhir zaman, akan ada orang yang membawa cambuk seperti ekor sapi. Mereka pergi pada pagi hari dalam kemurkaan Allah dan kembali pada sore hari dalam kemarahan Allah.” (HR. Al- Albaniy)

Dari Abu Hurairah r.a bahwa ia mendengar Raulullah SAW bersabda, “Jika engkau diberi kesempatan yang panjang, engkau akan melihat suatu kaum yang pergi pada pagi hari dalam kemurkaan Allah dan kembali pada sore hari dalam kemarahan Allah. Di tangan mereka ada semisal (cambuk) ekor sapi.” (HR. Ahmad)

Dari Abu Hurairah r.a bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah kulihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang bersamanya cambuk seperti ekor sapi, yang dipukul untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian, tetapi telanjang, berjalan lenggak-lenggok, dan kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium baunya. Padahal,baunya dapat tercium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.” (HR Muslim)

Sebagai dari tanda itu telah terjadi dalam sejarah Islam dan akan muncul lebih hebat lagi sebelum terjadinya kiamat, yaitu ketika ilmu dicabut dan muncul kebodohan sehingga Islam tidak tersisa lagi, kecuali nama dan tulisannya saja.

Turunnya bencana alam dan siksaan berat dari pemimpin yang Zalim

Rasulullah SAW memberitahukan bahwa di akhir zaman nanti sebelum munculnya Al-Mahdi, umat akan ditimpa musibah besar, seperti cobaan dan siksaan berat yang dilakukan oleh para pemimpin dan hakim yang zalim. Mereka mempersempit ruang gerak orang beriman sehingga seseorang akan berharap dapat menempati seperti tempat saudaranya yang sudah meninggal agar terbebas dari cobaan, siksaan, kejahatan, dan kezaliman para pemimpin tersebut. Kondisi itu akan terus berlangsung hingga munculnya Al-Mahdi untuk menghukum mereka. Ia memenuhi bumi ini dengan kabaikan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi ini telah dipenuhi dengan kezaliman dan pembunuhan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Akan turun kepada umatku di akhir zaman nanti cobaan yang dahsyat dari pemimpin mereka. Belum pernah terdengar cobaan yang lebih dahsyat darinya sehingga bumi yang luas itu terasa sempit bagi mereka karena bumi dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Seorang mukmin tidak mendapatkan tempat berpindah dari kezaliman itu. Kemudian, Allah Azza wa Jalla mengutus seseorang dari keturunanku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana bumi dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Penduduk bumi dan langit ridha dengannya, dan bumi tidak menyimpan sesuatu pun dari bijinya, kecuali mengeluarkannya. Begitu juga dengan langit, kecuali Allah menuangkannya ke bumi. Ia hidup di tengah-tengah mereka selama tujuh, delapan, atau sembilan tahun agar semua yang hidup dan mati menikmati apa yang tellah diperbuat Allah Azza wa Jalla terhada penduduk bumi dari kebaikan-Nya.”(HR Hakim)

Kondisi ini merupakan rangkaian dari bencana sebelumnya. Kezaliman mengakibatkan kondisi seperti ini. Begitu juga dengan berbagai fitnah, kejahatan, kezaliman pemimpin terhadap rakyatnya, dan sedikit rezeki serta kebajikan. Semua itu mengakibatkan kebimbangan manusia antara beriman dengan kufur.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga seseorang yang melewati kuburan dan mengatakan, seandainya aku dapat menempati tempatnya.”(HR Asy-Syaikhoni) [Mahir Ash Shufiy/Eramuslim/Pajagalan.com]

5 Penyebab Malas Beribadah dan Tips Meningkatkan Semangat Ibadah

Published By Pajagalan.com on Rabu, November 26, 2014 | 19.27


Penyebab Malas Beribadah Pertama : Bergelimang dengan perbuatan dosa dan maksiat.

Sebab pertama dari beberapa sebab yang menjadikan seorang malas dalam beribadah adalah bergelimang dalam dosa dan maksiat. Sufyan Ats-Tsauri pernah menuturkan, “Saya pernah tidak bisa menjalankan shalat tahajjud selama 5 bulan. Hanya karena 1 dosa yang dulu aku lakukan.” (atau ucapan yg senada). Lantas, bagaimana dengan kita?

Seorang muslim yang bergelimang maksiat dan terkhusus dosa kecil yang sering diremehkan dan dilupakan kebanyakan manusia adalah salah satu sebab-sebab malas beribadah. Jika seorang malas beribadah, maka ia terancam dengan kemurkaan Alloh. Tahukah Anda, apa kemurkaan Allah tersebut?

Sungguh Alloh akan melenyapkan manisnya iman, tidak mengaruniakan kepadanya kelezatan dalam ketaatan. Inilah murka Alloh yang akan menimpanya, selanjutnya ia tidak mampu mengerjakan ketaatan dan ibadah, padahal meraih ketaatan dan ibadah adalah sebab meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu Allohu subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syura:30)

Maka dari itu, hendaklah seorang muslim menjauhi perbuatan maksiat dan dosa-dosa kecil yang dianggap remeh. Oleh sebab itu jauh hari Rasululloh Shollalahu a’alaihi wassalam mengingatkan kita dengan sabdanya,

“jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia bertumpuk-tumpuk pada seseorang, maka ia akan mencelakakan orang tersebut.”

Jauhilah segala dosa kecil dan besar itulah ketaqwaan, jadilah engkau seperti orang yang berjalan di atas jalan berduri yang selalu waspada, janganlah engkau meremehkan dosa kecil, karena sebuah gunung itu tersusun dari batu-batu kecil

Penyebab Malas Beribadah Kedua : Tidak Faham Tentang Urgensi Ibadah

Sebab-sebab malas beribadah kedua yang membuat seseorang malas mengerjakan ketaatan dan ibadah adalah melupakan urgensi ibadah. Diantara bentuk kelalaian seseorang adalah melupakan dirinya bahwa ia adalah mahluk yang lemah, hanya karena kehendak dan kekuatan Alloh sajalh ia menjadi kuat dalam menjaga dan mengerjakan ketaatan dan ibadah.

Seorang muslim harus mengetahui dan memahami bahwa beribadah dan beramal shalih adalah sebab dan inti mendapatkan bantuan dan pertolongan Alloh, sesungguhnya tekun mengerjakan amal shalih adalah cara meraih pertolongan Alloh subhanahu Wata’ala

Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman

“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-ankabut:69)

Penyebab Malas Beribadah Ketiga : Melupakan Kematian

Diantara sebab-sebab malas beribadah adalah melupakan kematian dan kejadian-kejadian setelahnya. Wahai saudaraku, sungguh melupakan kematian dan kesulitan-kesulitan setelahnya adalah penyebab seseorang malas untuk beribadah, taat dan malas beramal shaleh.

Sungguh seorang yang melupakan kematian dapat dipastikan ia akan malas beribadah, maka dari itu bagi setiap muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak mengingat penghancur (pemutus) segala kenikmatan. Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”(QS. Ali Imran : 185)

Ya, Kematian adalah obat bagi orang yang panjang angan-angan, orang yang keras hatinya dan yang banyak dosa. Oleh sebab itu Rasulullah Shollalahu ‘alaihi Wasallah bersabda “perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan.”

Penyebab Malas Beribadah Keempat : Tidak Tahu Besarnya Pahala Suatu Ibadah

Wahai saudaraku….

Diantara sebab malas beribadah dan malas mengerjakan ketaatan adalah tidak tahu besarnya pahala suatu ibadah. Sungguh tidak mengetahuinya adalah sebab malas melakukan ibadah dan ketaatan, jika seseorang mengetahui besarnya suatu ibadah, niscaya ia akan rajin mengerjakannya.

Maka dari itu, aku wasiatkan kepada kalian wahai kaum muslimin… hendaklah bersungguh-sungguh untuk memahami keutamaan ibadah dengan membaca buku-buku yang menjelaskan akan keutamaan dan ganjaran ibadah itu. Karena jika seseorang mengetahui keutamaan dan besarnya pahala suatu ibadah ia akan bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah.

Penyebab Malas Beribadah Kelima : Berlebih-lebihan Dalam Hal Yang Mubah

Diantara sebab malas mengerjakan ibadah dan ketaatan adalah berlebih-lebihan dalam perkara mubah. Yaitu dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan serta yang lainnya. Seluruhnya adalah penyebab malas beribadah, karena berlebih-lebihan dalam hal tersebut dapat menyebabkan lesu, ingin mudah istirahat dan tidur.

Berlebih-lebihan dalam perkara mubah seperti dalam makanan dan minuman adalah penyebab kerasnya hati. Karena hati akan bersih dan lembut jika dalam kondisi lapar dan sedikit makan dan hati akan menjadi keras jika dalam kondisi kenyang, hal ini adalah sunnatulloh yang tidak pernah berubah. Celakalah orang yang keras hatinya dan tidak ingat Alloh. Bahkan seorang muslim yang bersungguh-sungguh dalam beribadah, mengerjakan kebaikan dan ketaatan bahkan bercapek-capek mengerjakan sholat tahajud pun tidak akan merasakan lezat dan manisnya ibadah jika berlebihan dalam perkara mubah tersebut.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata “Banyak mengkonsumsi makanan adalah sebuah penyakit yang akan menimbulkan keburukan, banyak makan dapat menjerumuskan anggota badan untuk melakukan maksiat, dan berat untuk melakukan ketaatan. Maka cermatilah keburukan ini.”

Wallohu ‘alam

Tujuh Tips untuk meningkatkan semangat ibadah

Tips Ustadz Tate Qomaruddin (Memahami Fadhilah Ibadah)

  1. Kenali dan pahami keutamaan (fadhilah) setiap ibadah. Bacalah ayat-ayat Qur’an atau hadits shahih yang menerangkan keutamaan ibadah.
  2. Ubah lintasan hati untuk melakukan ibadah menjadi keinginan, lalu tekad. Caranya dengan selalu mengingat bahwa hidup kita belum tentu masih panjang.
  3. Sering mengadakan berkumpul (majelis, halaqah) untuk saling menasehati dan mengingatkan.
  4. Sering-sering “menengok” bagaimana para sahabat dan tabi’in bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah (membaca sirah/perjalanan hidupnya).
  5. Bersikap menengah (sedang-sedang saja) dalam melaksanakan ibadah. Jangan memforsir diri secara berlebihan. Karena ibadah yang baik adalah yang dilakukan secara dawam (kontinyu) walaupun sedikit.
  6. Mintalah kepada orang tedekat untuk mendorong melaksanakan ibadah atau mengingatkan apabila kita lalai dalam beribadah.
  7. Berdo’a. Diantara do’a yang diajarkan adalah “Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, untuk bersyukur kepada-Mu, dan untuk melaksanakan ibadah kepada-Mu secara baik).

Tips Dr. Setiawan Budi Utomo (Buat Divesifikasi Ibadah)

  1. Perbesar kerinduan untuk “berkomunikasi dan bermesraan” dengan Allah SWT.
  2. Rasakan hati seperti kering, hampa, dan ada yang hilang bila berkurang ibadah.
  3. Jadikan ibadah sebagai media relaksasi jiwa, penguatan mental, dan rekreasi sukma.
  4. Cobalah melakukan diversivikasi dan penghayatan ibadah untuk membuang kejenuhan.
  5. Tingkatkan dorongan mensyukuri nikmat untuk menyingkirkan kemalasan ibadah.
  6. Yakinilah ibadah sebagai sumber kekuatan, media konsolidasi dan mobilisasi hidup.
  7. Hindarilah kemaksiatan lahir dan batin yang menghalangi kelezatan ibadah.

Tips Ustadzah Helini (Amal Sebagai Investasi Abadi)

  1. Memahami tujuan hidup
  2. Ibadah kepada Allah SWT adalah merupakan tujuan dari penciptaan kita. Apapun bentuk amal perbuatan kita harus dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah SWT selalu berada bersama kita dan mengawasi gerak-gerik kita.
  3. Memahami nilai dunia dibandingkan akhirat
  4. Dunia bukanlah segala-galanya.
  5. meyakini dengan sepenuhnya konsep perhitungan (yaumul hisab)
  6. Setiap amal sekecil apapun ada nilai dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.
  7. Mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah
  8. Menghindari semua bentuk kemaksiatan dan dosa-dosa kecil
  9. Mengingat bahwa kematian itu datang secara mendadak
  10. Memohon pertolongan dan bantuan pada Allah SWT

[rh/majalah ummi edisi 9/XII/2000/pajagalan.com]

Inilah Penyebab-Penyebab Hawa Nafsu Sulit Dikendalikan

Apa Penyebab Nafsu Sulit Dikendalikan?
Apa penyebab nafsu sulit dikendalikan?

Berikut ini penyebab hawa nafsu yang terasa sangat sulit dikendalikan :

Sebab: Lemahnya Iman kepada ALLAH, padahal ALLAH selalu MEMPERHATIKAN nya & lemahnya iman akan HARI PEMBALASAN di AKHIRAT kelak,
Saran: Bergaul dengan mereka yang kuat imannya, hadiri majlis ta'lim, baca alquran dan artinya resapi pahami.

Sebab: Jahil, kurangnya pemahaman ILMU ALQUR’AN & AS SUNNAH,
Saran: Perbanyak mengkaji ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Sebab: Mind Set nya, “aku tidak bisa tenang kecuali terpuaskan seleraku”,
Saran: Tetapkan dalam hati jika nafsu dituruti maka tidak akan merasa puas malah semakin kuat.

Sebab: Menyia-nyiakan Kesempatan, “Kalaupun aku berdosa kan masih ada waktu untuk bertaubat”,
Saran: Ingat mati akan menjemput kapan saja dimana saja tidak peduli tua atau muda, sehat atau sakit.

Sebab: Terus MEMPERTURUTKANNYA, maka nafsunyapun semakin jadi,
Saran: Jangan menuruti nafsu, seara bertahap cobalah mengekang nafsu.

Sebab: Pergaulannya sesama hedonis pengumbar nafsu juga, “all free and be free”,
Saran: Jauhi pergaulan hedonis dan pergaulan yang sekiranya hanya akan menambah dosa dan maksiyat.

Sebab: Makan Minum dari yang haram, baik zatnya maupun cara mencarinya, masuk ke tubuh menjadi energi nafsu lagi,
Saran: Allah yang memberi rizki maka yakinlah masih banyak bertebaran rizki Allah yang halal.

Sebab: Menjauh dari Ulama, orang sholeh & majlis kebaikan,
Saran: Dekati ulama fuqoha dan orang-orang sholeh serta senantiasa menghadiri majlis ta'lim, ceramah, tabligh akbar.

Sebab: Tak ada Keinginan Kuat untuk Hijrah, maka jadilah seperti Hewan,
Saran: Berhijrahlah dari hal-hal yang tidak baik dan sia-sia menuju hal-hal yang baik dan bermanfaat.

Firman Allah, QS.7 Al-A’raf (176)

" Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan [derajat]nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya [juga].

Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.

Maka ceritakanlah [kepada mereka] kisah-kisah itu agar mereka berfikir. "

Bismillah ...
Allahumma Ya ALLAH selamatkan kami dari kelemahan iman,
kebodohan & keinginan nafsu ma’siyat
Aamiin ...

Yuk Kita Belajar Menyelesaikan Masalah dari Aisyah r.a

Published By Pajagalan.com on Selasa, November 25, 2014 | 19.50

Ummul Mukninin ‘Aisyah tumbuh besar di rumah Rasulullah nan suci. Hal ini sungguh merupakan anugerah yang sangat besar, karena setiap orang yang dididik langsung oleh Rasulullah pada dasarnya akan menjadi guru dan sekolah yang fenomenal.

Inilah yang benar-benar terjadi pada diri ibunda kita, ‘Aisyah. Nalar dan pemikirannya dipenuhi dengan konsepsi-konsepsi Islam. Tingkah laku dan sikap ‘Aisyah merupakan bentuk praktis dan implementasi dari konsep-konsep Islam. Maka tidak masuk akal jika ‘Aisyah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi pemikiran, konsepsi dan tingkah laku yang sudah mendarah daging pada diri dan akalnya.

Sikap seperti ini bukan hanya ada pada diri ‘Aisyah saja, melainkan adalah corak tingkah laku yang ada pada diri sahabat Rasul secara umum. Di situ ditemukan adanya keharmonisan luar biasa antara pikiran dan tingkah laku, yang jarang sekali bertolak belakang dengan Al Quran.

‘Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik.

Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik.

Apa yang dilakukan ‘Aisyah menghadapi persoalan rumit ini? Bagaimana dia menghadapi, melawan, dan mengalahkannya?

Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya.

Masalah dan Cara Menghadapinya

Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah.

Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan ‎​اَللّهُ baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Masalah dapat didefinisikan sebagai perasaan atau kesadaran tentang adanya suatu kesulitan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kondisi disaat kita berbenturan dengan realitas yang tidak diinginkan.

Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah.

Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu?

Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering.

Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut?

Sadar Bahwa Tengah Menghadapi Masalah

Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama.

Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar.

Menjaga Emosi dan Tetap Tegar

Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah,

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18)

Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah.

Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat.

Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya.

Memikirkan Solusi

‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut:

1.Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian

2.Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi

3.Pergi ke tempat lain

4.Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari.

5.Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh.

Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah;

1.Membela diri

2.Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat

3.Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah

4.Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada

Solusi

‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan.

Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut. [rh/eramuslim.com/pajagalan.com]

 
Copyright © 2007-2014. Pajagalan.com - All Rights Reserved - Privacy.
Jl. Pajagalan No.14-16 (Cibadak - Astanaanyar) Bandung - Indonesia 40241
Design Mas Template Adaptation by Hakimtea
Powered by Blogger