$type=carousel$cols=3

MENGSIKAPI ZAMAN

Oleh: KH. DRS. Shiddiq Aminullah, MBA Ringkasan Khutbah Masjid Pajagalan, Jum'at 3 Agustus 2007 Rasulullah Saw pernah mengungkapkan ke...

Oleh: KH. DRS. Shiddiq Aminullah, MBA
Ringkasan Khutbah Masjid Pajagalan, Jum'at 3 Agustus 2007


Rasulullah Saw pernah mengungkapkan kekhawatiran-kekhawatiran yang terkait dengan masa depan umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Rasulullah bersabda, akan datang kepada umat manusia sebuah zaman;

Pertama, sebuah masa dimana yang menjadi pusat perhatian hanyalah masalah isi perut, masalah makanan dan minuman.

Kedua, seseorang dinilai mulia, terhormat bukan karena kepribadiannya, bukan karena keluhungan ilmu dan ketinggian budi pekertinya tapi orang dinilai mulia dilihat dari jumlah harta kekayaannya; rumahnya yang mewah, mobilnya yang mahal, harta kekayaannya yang melimpah.

Ketiga, kiblat mereka adalah perempuan. Pada zaman itu segala urusan berorientasi pada perempuan. Kecenderungan sekarang pun kita menyaksikan di iklan-iklan, produk-produk; baik di media cetak ataupun elektronik, dikait-kaitkan dengan aurat perempuan, malah kadang antara produk yang diiklankan dengan aurat itu tidak ada hubungannya. Hanya sekedar untuk menarik perhatian. Gerakan feminis sekuler yang memperjuangkan gender equality (kesetaraan gender) pun, yang selalu berteriak soal terjadinya berbagai pelecehan seksual, bermaksud mengangkat martabat perempuan sederajat dengan laki-laki, tetapi justru apa yang mereka lakukan menjadi sebaliknya, tetap memposisikan wanita pada tataran kelas rendah. Dahulu kita mengecam keikutsertaan gadis-gadis Indonesia dalam kontes ratu kecantikan dunia tapi sekarang, disaat era reformasi justru hal seperti itu didukung, malah ketika ada ulama, ustadz, ahli ngaji mengkritik, mereka balik mengecam orang itu sebagai fanatik, sok suci. Padahal soal kecantikan bukanlah sebuah prestasi, kecantikan adalah given, pemberian dari Allah yang bukan untuk dikontes-konteskan melainkan untuk disyukuri.
Keempat, agama mereka adalah dinar dan dirham, rupiah dan dolar. Artinya, pada zaman itu -kata nabi- yang dipertuhan bukan lagi Allah, tapi yang dipertuhan oleh mereka adalah duit dan duit.

Kelima, pada zaman itu orang-orang alim, ustadz, ajengan, kyai, ulama, da'i tidak diikuti. Kalaupun ada hanya sebatas didengar tapi fatwa-fatwanya tidak diikuti. Ini menggambarkan pada zaman itu da'wah tidak lagi memiliki karisma, tidak lagi jadi idola. Kalaupun ada pengajian hanya didengar, dinilai bagus, tapi nasihatnya tidak berbekas didalam peningkatan kualitas perilaku keseharian.

Keenam, orang-orang yang bijak; pilar-pilar moral, para penjaga akhlak, penjaga moral, termasuk didalamnya us-tadz, kyai, polisi, jaksa, hakim, pengacara, tokoh masyarakat, para pemuka agama mereka sudah tidak lagi disegani.

Ketujuh, pada zaman itu orang-orang tua sudah tidak lagi dihormati. Di keluarga-keluarga, nasihat-nasihat orang tua dianggap angin lalu. Orang tua oleh anak-anaknya dianggap orang yang kuno, kuper, tidak tahu kemajuan. Mungkin karena kesalahan orang tua itu sendiri, lebih banyak tampil sebagai komandan bukan sebagai imam.

Kedelapan, anak-anak kecilnya malah tidak disayangi. Biasanya orangtua itu sangat menyayangi anak-anaknya, orang yang lebih tua menyayangi yang lebih muda. Tetapi, ketika anak-anak muda, anak-anak kita akhlaknya jelek, akhlaknya buruk, menjadi pembangkang, menjadi pendurhaka, orang tua banyak yang menjadi kesal terhadap anaknya itu.

Kesembilan, yang lebih parah lagi Nabi mengingatkan, pada zaman itu banyak orang tidak lagi mengenal mana yang ma'ruf mana yang munkar, yang salah dan yang benar susah dibedakan. Kalau orang sudah tidak tahu lagi mana yang halal mana yang haram, mana yang hak mana yang bathil, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, bisa dibayangkan itu suasana sebuah zaman yang sangat rusak. Ini semua akibat orangtua yang tidak mau mengenalkan anaknya dengan nilai-nilai keislaman de-ngan benar, hanya merasa cukup dengan pendidikan alakadarnya tentang Islam, hingga ketika anak itu dewasa tidak tahu lagi mana batas halal dan haram.

Lalu seorang sahabat bertanya kepada Nabi, Ya Rasulullah apa yang harus kami perbuat? (ketika zaman itu terjadi). Kata Rasulullah, kamu harus melarikan diri. Sahabat itu bertanya, Kemana melarikan dirinya? (Tentu saja bukan dalam arti melarikan diri pindah tempat, karena kemanapun kita pergi suasananya tidak jauh berbeda) Nabi bersabda, kamu kembali (melarikan diri) kepada Allah dalam arti meminta pertolongan Allah, kamu kembali kepada kitabnya yaitu Alquran dan sunnah Nabi-Nya.

Dari ungkapan Nabi tersebut kita lihat indikasinya sekarang sudah banyak terjadi, akibat manusia semakin jauh dari tuntunan agama (Islam), semakin jauh dari Alquran dan Assunnah.

Sementara dinegeri kita sudah sejak zaman kolonial Belanda upaya seku-larisme (pemisahan agama dari kehi-dupan masyarakat) dilakukan secara sis-temik. Agama digembar-gemborkan bah-wa itu urusan pribadi, agama urusannya hanya ada di tempat ibadah tidak boleh dibawa ke wilayah politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dsbnya.

Akibatnya kecenderungan dibidang politik adalah berkembangnya politik oportunistis, berlomba mengejar kedudukan, jabatan dengan berbagai cara tanpa memikirkan halal dan haram. Riswah, sogok menyogok menjadi hal yang lumrah dan biasa.

Ekonomi yang dikembangkan dinegeri ini juga bukan sistem ekonomi yang dikehendaki Allah. Seperti yang diisyaratkan Alquran, “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr [59]:7).

Allah menghendaki harta itu tidak hanya beredar pada orang-orang kaya saja, yang dikenal dengan istilah ekonomi kapitalis, dimana harta kekayaan negara berputar diantara para pemegang kapital, para pemegang modal besar. Bahkan Nabi pun mengingatkan, “Jika harta kekayaan Negara hanya beredar pada para pemegang daulah (pejabat), maka halal bagi bangsa itu bencana.”

Dibidang budaya, budaya yang berkembang dinegeri ini adalah budaya hedonistis dan permisif, budaya yang hanya mengejar kesenangan duniawi, longgar terhadap nilai-nilai agama. Kita saksikan bagaimana susahnya memberantas korupsi di negeri ini. Uang Negara yang dicuri, dirampok, dikorup jumlahnya sekitar 783 triliun sementara APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) kita satu tahun ini saja cuma 762 triliun. Sebenarnya kalau uang itu bisa ditarik, negeri kita tidak harus meminjam lagi utang Negara.

Bagaimana narkoba merajalela, prostitusi yang susah diberantas. Kalaupun agama dikembangkan, ada kecenderungan yang dikembangkan adalah agama yang sinkritik, paganistik, yang penuh dengan syirik, bid'ah, tahayul dan khurafat yang merusak akidah kita dan mu'amalah ummat.

Oleh karena itu menurut sabda Nabi tersebut di atas, tidak ada jalan lain lagi bagi kita kecuali kembali kepada Allah, memohon pertolongan Allah dan kembali mempelajari dan mengamalkan Alquran dan sunnah Nabinya.***

Edited by: Ibnurund

KOMENTAR

Kirimi saya artikel Pajagalan! Untuk langganan artikel keislaman Pajagalan.com via Feed Klik Disini, atau jika Anda ingin dikirim email tentang berita dan update artikel Pajagalan.com silakan masukkan email Anda dibawah dan ikuti petunjuk selanjutnya.
Nama

Aam Amiruddin,3,Adab Berada dalam Masjid,2,Adab Di Majelis,1,Adab Di Majlis,1,Adab di Masjid,2,Adab Islami,9,Adab Menuntut Ilmu,2,Adab Penuntut Ilmu,1,Adab Terhadap Allah,1,Adab Terhadap Allah Azza wa Jalla,1,Adab Terhadap Ayah Bunda,1,Adab Terhadap Ibu Bapak,1,Adab Terhadap Orang Tua,1,Akhlak Islami,1,Aliran Sesat,1,Amin Saefullah Muchtar,2,Android,1,apakah hormat bendera haram,1,Aplikasi,1,Aqidah,1,Artikel,44,Artikel Adab,1,artikel fikih,2,artikel fiqh,2,artikel Islam,23,Artikel Kiriman,46,Artikel Ramadhan,9,Artikel Siyasah,2,artikel tahajud,1,Artis Jadi Nabi,1,Artis Nabi,1,Artis Teladan,1,Awal Ramadhan,2,Baiti Jannati,10,Berita,31,Berita Persatuan Islam,2,Biografi,9,Buku,19,Bulughul Maram,1,Cerita Renungan,9,Dari Redaksi,5,Dewan Hisbah,10,Dewan Hisbah PP Persis,11,Diary Islami,1,Download,12,Download MP3 Alquran,2,Dunia Islam,6,Ekonomi dan Bisnis,4,Essay,1,Fatwa Dewan Hisbah,11,Fatwa Dewan Hisbah Persatuan Islam,10,Fatwa Dewan Hisbah Persis,10,Featured,6,Film Umar bin Khattab,32,Fiqh Ibadah,10,Hadits,2,hukum bendera negara,1,hukum mengangkat tangan hormat bendera,1,hukum menghormat pada bendera,1,Ibadah,4,Ibadah dan Muamalah,5,Iedul Fitri,2,Informasi,1,Internasional,13,Istifta,31,Istiqro',6,Jadwal Puasa,1,Jadwal Shaum,1,Jihad PP Persis,13,Kajian,28,Kajian Ramadhan,8,Kesehatan,1,Khazanah,1,Khutbah,19,Kisah Adam menurut alquran,1,Kisah dalam Alquran,2,Kisah Hud menurut alquran,1,Kisah Idris menurut alquran,1,Kisah Ishaq menurut alquran,1,Kisah Ismail menurut alquran,1,Kisah Lengkap Nabi Adam,1,Kisah Lengkap Nabi Hud,1,Kisah Lengkap Nabi Idris,1,Kisah Lengkap Nabi Ishaq,1,Kisah Lengkap Nabi Ismail,1,Kisah Lengkap Nabi Luth,1,Kisah Lengkap Nabi Nuh,1,Kisah Lengkap Nabi Shalih,1,Kisah Luth menurut alquran,1,Kisah Nabi,8,Kisah Nuh menurut alquran,1,Kisah Shalih menurut alquran,1,Kitab,1,Kolom Hikmah,7,Kolom Motivasi,8,Kristologi,1,kumpulan fatwa dewan hisbah persis,10,Kurban,2,MBC,1,MPI,2,Musik Islami,7,Muslimah,6,Nabi Adam,1,Nabi Adam dalam Alquran,1,Nabi Hud,1,Nabi Hud dalam Alquran,1,Nabi Idris,1,Nabi Idris dalam Alquran,1,Nabi Ishaq,1,Nabi Ishaq dalam Alquran,1,Nabi Ismail,1,Nabi Ismail dalam Alquran,1,Nabi Luth,1,Nabi Luth dalam Alquran,1,Nabi Nuh,1,Nabi Nuh dalam Alquran,1,Nabi Shalih,1,Nabi Shalih dalam Alquran,1,Nasional,11,Oase Iman,38,Penerbit Jabal,4,Pengajian Ahad Viaduct,13,Pengajian Pajagalan,2,pentingnya sholat dhuha,2,Percikan Iman,2,Persatuan Islam,5,Politik,1,Politik Islam,2,Profil,1,qiaymul lail,1,Quran dan Hadits,12,Qurban,1,Redaksi,4,Resensi Buku,2,RG-UG,1,Ringkasan Khutbah,7,Ringkasan Khutbah Jum'at,15,Sejarah Islam,5,shalat malam,1,shalat tahajud,1,Shiddiq Amien,13,sholat dhuha,1,Sholat Rawatib,1,Sholat Sunnat,1,Shop,19,Sigabah.com,4,Siyasah,2,Suara Santri,1,Surat Edaran PP Persis,2,Sya'ban,1,Syaaban,1,Syiah Bukan Islam,7,Tanya Jawab Bersama Ust Aam,11,tanya jawab islam,12,Tanya Jawab Seputar Bulan Ramadhan,9,Tazkiyatun Nafs,7,The Epic Series Omar,27,Tibbun Nabawi,1,Tsaqofah,2,Umar bin Khattab Series,5,Video,55,
ltr
item
Pajagalan.com | Buletin Masjid Pajagalan: MENGSIKAPI ZAMAN
MENGSIKAPI ZAMAN
Pajagalan.com | Buletin Masjid Pajagalan
http://www.pajagalan.com/2007/08/mengsikapi-zaman.html
http://www.pajagalan.com/
http://www.pajagalan.com/
http://www.pajagalan.com/2007/08/mengsikapi-zaman.html
true
4605599093145502030
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selanjutnya Balas Batalkan Balasan Hapus Oleh Home Halaman Artikel Lihat Semuanya REKOMENDASI UNTUK ANDA KATEGORI ARSIP CARI SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel yang Anda cari Kembali Ahad Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ahad Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec baru saja 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
Maintenance by Hakimtea | Blogger Bandung