Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

RAHASIA TAHALLUL

“…Dan jangan kamu cukur gundul kepalamu sampai binatang sembelihanmu tiba ke tempat…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 196)

Al-Quran secara terperinci mengatur ritual haji, termasuk waktu bercukur yang termasuk rukun tahallul. Saat terbaik (untuk bercukur) adalah setelah melontar jumroh aqobah pada tanggal 10 Zulhijjah. Mencukur habis rambut kepala dalam ibadah haji adalah syi’ar agama Islam.

Rasulullah Saw. berdoa untuk memintakan ampun bagi mereka yang mencukur gundul rambutnya sampai tiga kali. Pada kali keempat, barulah beliau mendoakan orang yang hanya menggunting sebagian rambutnya. Pada upacara aqiqah, Rasulullah pun menyuruh umatnya uuntuk cukur habis rambut bayi berumur tujuh hari. Selain sebagai ekspresi taat kepada Rasulullah Saw., mungkin ada hikmah lain dari perintah mencukur rambut ini.

Dr. Lewis Dartnell (ahli astrobiologi dari University College, London) meramalkan keadaan manusia di masa depan. Kepadatan di bumi kelak akan mendorong manusia migrasi ke tempat baru di ruang angkasa, baik di planet yang mirip bumi ataupun di stasiun ruang angkasa.

Perjalanan migrasi tersebut akan memakan waktu bertahun tahun, bahkan sampai puluhan tahun. Lamanya perjalanan dalam kapsul bebas gravitasi akan berpengaruh pada tubuh manusia. Otot dan tulang akan menjadi lemah dan kurang berkembang.

Mereka juga akan memiliki bobot tubuh yang lebih berat (gemuk) karena berada dalam dalam ruangan dengan gaya gravitasi rendah sehingga untuk bergerak hanya memerlukan sedikit energi saja. Sementara itu, cairan tubuh akan terkumpul di kepala sehingga dapat menggembungkan wajah dan merontokkan rambut. Maka, manusia-manusia masa depan yang hidup di koloni-koloni ruang angkasa akan bertubuh gemuk, pendek, wajah tembem, dan hampir semuanya botak.

Rupanya, kepala gundul adalah salah satu nasib masa depan manusia. Mungkin saja ritual bercukur gundul dalam Islam adalah persiapan menyongsong masa pengembaraan atau hijrah ke luar angkasa. Itukah Rahasia Tahallul (?). Wallahu a’lam.

Ir. Bambang Pranggono, MBA
Sumber: Mapi