Update Teranyar...

RAHASIA TAHALLUL

Published By Pajagalan.com on Sabtu, Juni 30, 2012 | 16.42

“…Dan jangan kamu cukur gundul kepalamu sampai binatang sembelihanmu tiba ke tempat…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 196)

Al-Quran secara terperinci mengatur ritual haji, termasuk waktu bercukur yang termasuk rukun tahallul. Saat terbaik (untuk bercukur) adalah setelah melontar jumroh aqobah pada tanggal 10 Zulhijjah. Mencukur habis rambut kepala dalam ibadah haji adalah syi’ar agama Islam.

Rasulullah Saw. berdoa untuk memintakan ampun bagi mereka yang mencukur gundul rambutnya sampai tiga kali. Pada kali keempat, barulah beliau mendoakan orang yang hanya menggunting sebagian rambutnya. Pada upacara aqiqah, Rasulullah pun menyuruh umatnya uuntuk cukur habis rambut bayi berumur tujuh hari. Selain sebagai ekspresi taat kepada Rasulullah Saw., mungkin ada hikmah lain dari perintah mencukur rambut ini.

Dr. Lewis Dartnell (ahli astrobiologi dari University College, London) meramalkan keadaan manusia di masa depan. Kepadatan di bumi kelak akan mendorong manusia migrasi ke tempat baru di ruang angkasa, baik di planet yang mirip bumi ataupun di stasiun ruang angkasa.

Perjalanan migrasi tersebut akan memakan waktu bertahun tahun, bahkan sampai puluhan tahun. Lamanya perjalanan dalam kapsul bebas gravitasi akan berpengaruh pada tubuh manusia. Otot dan tulang akan menjadi lemah dan kurang berkembang.

Mereka juga akan memiliki bobot tubuh yang lebih berat (gemuk) karena berada dalam dalam ruangan dengan gaya gravitasi rendah sehingga untuk bergerak hanya memerlukan sedikit energi saja. Sementara itu, cairan tubuh akan terkumpul di kepala sehingga dapat menggembungkan wajah dan merontokkan rambut. Maka, manusia-manusia masa depan yang hidup di koloni-koloni ruang angkasa akan bertubuh gemuk, pendek, wajah tembem, dan hampir semuanya botak.

Rupanya, kepala gundul adalah salah satu nasib masa depan manusia. Mungkin saja ritual bercukur gundul dalam Islam adalah persiapan menyongsong masa pengembaraan atau hijrah ke luar angkasa. Itukah Rahasia Tahallul (?). Wallahu a’lam.

Ir. Bambang Pranggono, MBA
Sumber: Mapi

Bagaimana Hukum Menghormat Bendera


PERTANYAAN: Hukum memasang dan menghormat bendera RI Khususnya dilingkungan Pesantren Persis? Dian Kota Banjar

Sebelum membahas kedudukan menghormat bendera, baiklah akan disampaikan terlebih dahulu mengenai beberapa ayat-ayat, hadis-hadis, dan kaidah-kaidah yang mu,tabar di kalangan para ulama mengenai batasan syirik (meyekutukan Allah swt.)

Allah swt. Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ...

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama dengan lurus. (Al-Quran, surat Al-Bayyinah ayat 5)

وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا

Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pahala akhirat itu kepadanya. (Al-Quran, surat Ali Imran ayat 145)

Kedua ayat ini menerangkan bahwa hamba Allah harus memurnikan segala ibadahnya hanya karena Allah swt. dan hanya kepada-Nya. Artinya haram bagi hamba Allah swt. Untuk mengibadahi selain-Nya. Pahala Allah swt. hanya akan diberikan kepada hamba-hambanya yang benar-benar memahami dan melaksanakan dengan sebaik-baiknya makna dari mengharapkan kehidupan akhirat. Maknanya mengharap rida, pahala, dan serga dari Allah swt.

Oleh karena itu setiap ibadah harus didasari oleh niat yang ikhlas, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw. Dalam hadis berikut :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.

Sesungguhnya segala amal hanyalah menurut niyatnya dan bagi seseorang itu hanyalah akan memperoleh apa yang diniyatkannya. Maka barang siapa (niyat) hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau karena perempuan yang hendak dikawininya, maka (pahala) hijrahnya sesuai dengan niyat untuk apa dia hijrah. (Al-Bukhori, Kitab Bad-il Wahyi)

Berpedoman kepada ayat Al-Quran dan hadis Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallama (di antaranya) tersebut di atas, ‘Ulama menetepkan kaidah :

اَلأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا

Segala sesuatu (perbuatan) tergantung pada tujuannya. (Al-Asybah wa Al-Nazhooir hal 16)

Pengertiannya: Setiap amal perbuatan, baik dalam hubungan dengan Allah swt. maupun dengan sesama makhluq, nilainya ditentukan ole niyat serta tujuan dilakukannya.

Selanjutnya terdapat satu kaidah yang juga disepakati oleh ulama mengenai batasan syirik, yakni

Engkau meyakini pada sebagian makhluk ada kekuatan gaib di balik kekuatan biasa (ilmiyah)

Adapun di dalam urusan ta’bbudi (ibadah mahdhah), selain niatb tentu harus memenuhi rukun dan syarat. Sehingga menentukan sah dan tidak sahnya suat ibadah haruslah diukur dengan dalil-dalil dari Al quran dan As-Sunah. Sedangkan dalam urusan muamalah pada asalnya memilki hokum mubah/boleh/halal. Kecuali apabila didapatkan dalil dari Alquran dan As-Sunah yang meharamkannya.

Niyat, di samping sebagai alat penilai perbuatan, juga dapat merupakan ibadah tersendiri, seperti yang dapat dipaham dari hadis Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallama:

نِيَّةُ الْمُؤمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ (الحديث)

Niyat seseorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya (tanpa niyat).

(riwayat Al-At-Thabrani dari Sahal bin Sa’ad, Al-Mu’jam Al-Kabir, 6:185 no. 5942. Abu Nu’aim, Hilyatul Auliyaa wa Thabaqootul Ashfiya, 3:255).

Memperhatikan Pertanyaan, tentu yang menjadi permasalahan pokok bukan menghormat bendera atau memasang bendera, karena pekerjaan itu hanya “Taabi” (pekerjaan yang mengikuti). Dan Taabi’ hukumnya akan mengikuti hokum yang diikuti yang pokok. Oleh karena itu pula, boleh atau tidaknya serta haram atau halalnya menghormat bendera harus dilihat dari mengapa menghornat bendera dan apa yang menjadi permasalahan pokoknya.

Menghormat bendera itu dengan makud menghormatinya sebagai lambang supremasi Negara republik Indonesia. Adanya bentuk-bentuk kerajaan, kekaisaran, dan berkembang munculnya republic, dan lain-lain pada masa Rasulullah saw. Tidak menghapuskannya. Oleh karena itu betuk-bentuk Negara merupakan urusan keduaniaan. Dengan demikian menghormat bendera sebagai lambang dan berdaulatnya suatu suatu Negara hukumnya mubah.

Allah swt. Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 29).

Dan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallama besabda:

إِنَّ اللهَ حَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَفَرَضَ لَكُمْ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَتَرَكَ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَكِنْ رَحْمَةٌ مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا وَلاَ تَبْحَثُوا فِيْهَا.

Sesungguhnya Allah swt. telah membuat batas-batas maka kalian jangan melampauinya. Allah swt. telah mewajibkan beberapa kewajiban bagi kamu, maka janganlah kalian mengabaikannya. Dan Allah swt. telah mengharamkan beberapa perkara, maka kalian jangan melanggarnya. Dan Allah swt. telah membiarkan beberapa perkara, itu bukan karena lupa-Nya, melainkan rahmat daripada-Nya, maka terimalah dan kalian jangan membahasnya. (Riwayat Al-Hakim dari Abu Tsa’labah AL-Khosyaniy, Al-Mustadrok, 5:43 no. 7266)

سُئِلَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَنِ الْجُبْنِ، وَالسَّمْنِ، وَالْفِرَاءِ، فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : الْحَلالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِي الْقُرْآنِ، وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِي الْقُرْآنِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَقَدْ عَفَا عَنْهُ.

Rosulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallama ditaya tentang keju, mentega dan keledai liar. Maka Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Yang halal itu apa-apa yang Allah swt. halalkan dalam Al-Quran dan yang haram itu apa-apa yang Allah swt. haramkan dalam Al-Quran. Dan apa-apa yang didiamkan oleh Allah swt. maka Allah swt. memaafkannya.” (Riwayat At-At-Thabrani. Al-Mu’jam Al-Kabir, 6:261 no. 6159)

Berdasarkan keterangan tersebut di atas (di antaranya), Ulama menyatakan:

اَلأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ، حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِِيْمِ

Hukum yang pokok dari segala sesuatu adalah boleh, sehingga terdapat dalil yang mengharamkan. (Al-Asybah wa Al-Nazhair hal. 82-83)

Pada masa Rasulullah saw. Pernah dialami oleh para sahabat Rasulullah saw. Bahwa ada di antara pasukan perangnya yang diperintah untuk membawa bendera dan diperintahkan untuk dipertahankan dalam genggaman. Bahkan ketika petugas pembawa bendera pertama terbunuh, maka sahabat lainnya dengan sigap mengambilnya dan kembali mengibarkanya. Tentu pekerjaan sahabat Nabi saw. ini bukan sedang mengibadahi bendera tetapi menempatkannya sebagai suatu lambang.

Akan tetapi apabila dikultuskan atau disakralkan dengan keyakinan bahwa bendera itu memiliki kekuatan gaib dibalik kekuatan bendera sebagai lazimnya. Sebagaimana memberhalakannya orang-orang para penyembah berhala, tentu termasuk syirik. Oleh karena itu menghormat bendera merupakan urusan keduniaan yang hukumnya mubah. Oleh karena itu bukanlah hal yang mustahil apabila suatu Negara mengganti bendera. Jadi, masalah bendera ini jelas merupakan masalah keduniaan, bahkan pada klub-klub sepak bola dan lain-lain memiliki hal itu.

Ustadz Wawan Shofwan,Anggota Dewan Hisbah dan juga Ketua Bidang Dakwah PP Persis

Sumber: Persatuanislam.or.id


SIAPAKAH AHLUSSUNAH WAL JAMAAH

SIAPAKAH AHLUSSUNAH WAL JAMAAH

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TENTANG

SIAPAKAH AHLUSSUNAH WAL JAMAAH

Hukum Donor Darah

Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS) dalam sidangnya pada tanggal 27 Muharram 1416 H/26 Juni 1995 M di Bandung setelah :

MENDENGAR:

1. Pengarahan dari Ketua Umum PP Persis Al Ustadz K.H.A. Latief Muchtar, M.A.

2. Makalah tentang siapakah AHLUSSUNAH WAL JAMAAH yang disampaikan oleh Al Ustadz K.H. Aceng Zakaria

MEMPERHATIKAN :

1. Masih simpang siurnya pengertian dan pemahaman tentang Ahlussunah Wal JamaaH, bahkan diklaim oleh kelompok tertentu dengan menafikan yang lain.

2. pembahasan dan argumentasi dari seluruh anggota Sidang Dewan Hisbah ke-12

MENIMBANG

Perlu ada kejelasan dan ketegasan tentang siapakah Ahlussunah Wal Jamaah itu.

DEWAN HISBAH MENGAMBIL ISTINBATH :

1. Bahwa Ahlussunah Wal Jamaah itu ialah “orang atau kelompok orang yang berpegang teguh kepada Al Quran Dan As Sunnah serta menjauhkan diri dari sirik dan bid’ah”.

2. Dewan Hisbah mengusulakan kepada PP Persis untuk membentuk tim penyusun buku tentang “Ahlussunah Wal Jamaah”.

Demikianlah istimbath Sidang Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Bandung, 27 Muharram 1416 H/26 Juni 1995 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

KETUA

Ttd

KH. E. SAR’AN

NIAT :03897

SEKRETARIS

Ttd

KH. DRS. SHIDDIQ AMIEN, MBA

NIAT : 649000


AQIDAH DARUL ARQAM

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TENTANG

AQIDAH DARUL ARQAM

Hukum Donor Darah

Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS) dalam sidangnya hari Senin tanggal 30 Shaffar 1415 H/ 8 Agustus 1994 di Bandung setelah :

MENDENGAR :

  1. Pengarahan dari Al Ustadz KHA. Latief Muchtar, MA selaku Ketua Umum PP Persatuan Islam.
  2. Pembahasan dan kajian para Ulama Persis yang tergabung dalam Dewan Hisbah terhadap buku-buku pegangan/rujukan “Darul Arqam” khususnya buku “Aurad Muhamadiyah”

MENGINGAT

Firman Allah SWT di QS. An Nisa : 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), …QS. An Nisa : 59

MENIMBANG

  1. Perlu tetap dipelihara kemurnian aqidah dari ibadah serta upaya pemurniannya.
  2. Perlunya umat khususnya anggota PERSIS mendapat kejelasan tentang “Darul Arqam” yang sedang hangat jadi sorotan banyak pihak. Khususnya di bidang aqidah dan ibadah.

MEMUTUSKAN

Menetapkan pernyataan tentang “Darul Arqam” sebagai berikut :

A. Aspek Social Ekonomi :

Pada aspek kegiatan social ekonomi Dewan Hisbah mendapatkan hal yang bersifat positif

B. Aspek akidah :

Pada aspek akidah yang merupakan ushuludin (pokok/dasar utama dalam beragama) Dewan Hisbah mendapatkan hal-hal yang termasuk katagori khurafat, tahayul dan syirik, misalnya :

  1. “mimpi” telah dijadikan sebagai pegangan dan amalan jamaahnya. Yang jika hal seperti ini mendapat pembenaran tentu akan membuka peluang bagi siapa saja untuk menyatakan bermimi berjumpa dengan Nabi saw. Dan mendapat “wangsit”.
  2. pada gilirannya akan merusak sendi-sendi tauhid
  3. pengakuan syeikh Suhaemi berjumpa dengan Nabi saw. bukan hanya sekedar dalam mimpi melainkan dalam keadaan jaga di dalam ka’bah dan mengajarkan kepadanya “Aurad Muhammadiah” tidak ditunjang dengan dalil Naqli dan Aqli dan secara langsung atau tidak ia telah menempatkan dirinya sebagai salah seorang sahabat Nabi saw.
  4. Dengan “Aurad Muhammadiah” yang dinyatakan diterima/diajarkan langsung oleh Rasulallah saw. kepada syeikh Suhaemi merupakan sikap atau pernyataan bahwa ajaran Islam selama ini belum sempurna sehingga diperlukan adanya ajaran susulan.
  5. hal ini bertentangan dengan Q.S. Al Maidah : 4.
  6. Manakib syeikh Suhaemi isinya sama saja dengan manakib-manakib pada umumnya, berisi kisah-kisah yang ghair ma’qul (irasional) yang menempatkan seseorang sebagai “supermen” melebihi kisah Nabi Muhammad saw. dan para sahabat Nabi lainnya. Hal ini merupakan pengkultusan yang bernilai syirik.
  7. penambahan kalimat syahadatain dengan kalimat :

أبو بكر بن الصديق, عمر الفروق, عثمان بن الرحيم, على عضد الالدين محمد المهدي خلفاء رسول لله

yang mesti dibaca 65 kali setipa ba’da shalat fardhu tidak didukung oleh nash/hujjah yang shohih dan sharih serta proposional, bahkan cenderung memperkosa dalil, merupakan tindakan yang sangat membahayakan akidah.

  1. cerita-cerita tentang kematian syeikh Suhaemi, kemahdiannya, soal seru, silat sunda, jin dan khadam, merupakan khurafat yang merusak akidah.
  1. Aspek Akidah

Pada aspek ibadah dewan hisbah mendapatkan kegiatan ibadah yang diajarkan dan diamalkan oleh “Darul Arqom” tidak ditunjang dengan dalil shahih dari al quran dan hadits, merupakan suatu perbuatan bid’ah, misalnya : melagukan do’a, tahlil dan shalawat, hadiah fatihah, membaca do’a tobat, mauled, sholawat badawi, tahlil, yang tidak pernah diajarkan nabi pada waktu tertentu pada jumlah tertentu, dan lain sebagainya.

Demikian istimbat siding dewan hisbah tentang masalah tersebut.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Bandung, 30 Shafar 1415 H/7 Agustus 1994

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

KETUA

Ttd

KH. E. SAR’AN

NIAT :03897

SEKRETARIS

Ttd

KH. DRS. SHIDDIQ AMIEN, MBA

NIAT : 649000


FATWA PERSIS TENTANG POSISI TASAWUF DALAM AJARAN ISLAM

Published By Pajagalan.com on Jumat, Juni 29, 2012 | 15.34

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH

TENTANG

POSISI TASAWUF DALAM AJARAN ISLAM

Hukum Donor Darah

Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS) dalam sidangnya pada hari jum’at tanggal 2 jumadits tsaniyah 1421 H/ 1 September 2000 di Sumedang, Jawa Barat, setelah

MEMPERHATIKAN :

  1. Makalah dari ust. Aceng Zakaria dan Prof. Dr. H. juhaya S.Praja tentang maslah tersebut :
  2. Pembahasan yang disampaikan oleh seluruh anggota Dewan Hisbah.

MENIMBANG :

  1. Bahwa sumber ajaran Islam adalah Al Qur’an dan As sunnah.
  2. Bahwa Rasulallah saw. Adalah uswah hasanah bagi umat Islam, baik di bidang aqidah, ibadah, muamalah, akhlak dan sebagainya;
  3. Bahwa hanya Allah lah yang mengetahui urusan ghaib;
  4. Bahwa istilah “tashawwuf” dan “sufi” sampai saat ini tidak pernah ada kejelasan dasar dan asal usulnya;
  5. Bahwa tidak diketemukan dalil naqli tentang ajaran-ajaran dalam tashawuf, seperti :
  1. Ilmu laduni, kasyaf dan tajali, dalam pengertian penyingkapan dan penampakan alam ghaib sehingga bisa melakukan kontak langsung dengan Allah dan rasul-Nya;
  2. Al hulu, Al ittihad dan Wihdatul wujud dengan pengertian melebur diri bersama Dzat Allah, bentuk lahir manusia tapi hakikat batinnya adalah sifat ketuhanan;
  3. Al Fana, dalam pengertian dzikir hingga lalai dengan dunia dan kemudian mabuk dengan yang dicintai;
  4. Dan sebagainya.

DEWAN HISBAH BERISTINBATH :

  1. Tashawwuf dan sufi tidak jelas asal-usulnya, apakah dari ajaran Islam atau bukan.
  2. Ajaran-ajaran tashawwuf seperti: Syariat, thariqat, haqiqat, ma’rifat, kasyaf, tajali, fana, hulul, ittihad dan Wihdatul wujud bukan dari ajarn Islam.

Demikianlah keputusan Sidang Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Sumedang, 2 jumadits tsaniyah 1421 H/ 1 September 2000 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

KETUA

Ttd

KH. E. SAR’AN

NIAT :03897

SEKRETARIS

Ttd

KH. DRS. SHIDDIQ AMIEN, MBA

NIAT : 649000


Hukum Magic dan Kedugalan

FATWA PERSIS TENTANG HUKUM MAGIC DAN KEDUGALAN

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TENTANG

HUKUM MAGIC DAN KEDUGALAN

Hukum Donor Darah

Dewan hisbah persatuan Islam setelah :

MENGINGAT :

1. Al qur’an dan hadits yang menerangkan tentang jin, sihir, dan kemusyrikan, antara lain :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا (50)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al kahfi: 50)

وَأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى اللَّهِ شَطَطًا (4) وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (5) وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (6) }

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Q.S. Al jin: 6)

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Q.S. Al Baqarah : 102)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ (12) يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آَلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ (13)

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.12. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.(13).” (Q.S. Saba : 12-13).

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي الْغَيْث ِعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Dari Abu Hurairah, ia berkata, “sesungguhnya Rasulallah saw. bersabda, jauhilah oleh kamu tujuh perkara yang membinasakan. Ditanyakan, wahai Rasulallah saw. apakah itu? ‘Beliau menjawab, ‘mempersekutukan Allah, sihir, membunuh orang yang telah diharamkan (membunuhnya) kecuali dengan alas an yang dibenarkan oleh Allah, memakan harta anak yatim, memakan riba, lari dari medan pertempuran, menuduh wanita mukminah yang baik dan tahu memelihara diri.” (H.R. Muslim, Shahih Muslim, 1:92)

MENDENGAR :

  1. Pengarahan dari ketua Umum PP. PERSIS K.H. Drs. Shiddiq Amien, MBA dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah, KH. A. Syuhada.
  2. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H. M. Romli tentang makalah tersebut.
  3. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.

MENIMBANG :

  1. semaraknya isu-isu magic dan kedugalan di kalangan kaum muslimin.
  2. Munculnya berbagai kasus dan pernyataan tentang hal itu yang menuntut jawaban segera.
  3. perlu adanya kepastian hokum mengenai hal itu.

MENGISTINBAT:

  1. Magic dan kedugalan / kekebalan adalah syirik
  2. Kekuatan tenaga dalam (daht) sebagai hasil pelatihan yang ma’qul (masuk akal) adalah boleh.
  3. wirid-wirid dan memantrakan ayat-ayat al Qur’an dan hadits dalam magic dan kekebalan adalah bid’ah.

Demikian istinbat Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Bandung, 25 Rabi’ul Awwal 1422 H/17 Juni 2001 M.

DEWAN HISBAH (PERSIS) PERSATUAN ISLAM

KETUA

Ttd

KH. A. AKHYAR SYUHADA

NIAT :1632

SEKRETARIS

Ttd

DR. M. ABDURRAHMAN, MA

NIAT : 7070


Menjemput Ramadhan 2012

بسم الله الرحمن الرحيم

…يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang Bulan Sabit (Hilal). Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji…” (Q.S. al-Baqarah: 189).

Nampaknya tahun ini umat Islam di Indonesia melaksanakan ibadah shaum Ramadhan 1433 H akan mengalami perbedaan. Ada yang berbeda 1, 2, atau 3 hari sebelum ditetapkan oleh pemerintah seperti tahun lalu Tarekat Naqsabandiyah yang ada di Sumatera Barat bahkan ada juga menetapkan shaum 1 hari setelah ditetapkan oleh pemerintah yang terjadi pada Tarekat Syattariah dimana pemerintah menetapkan shaum Ramadhan 1432 H pada tanggal 1/8 akan tetapi Tarekat Syattariah melaksanakan shaum bertepatan dengan tanggal 2/8 satu hari setelah ditetapkan Pemerintah.



Wilayah Indonesia tidak diberi warna yang artinya tidak bisa dilihat. Credit: Accurate Times.

Ijtima’ atau konjungsi saat Matahari, Bulan, dan Bumi dalam keadaan sejajar pada Kamis, 19 Agustus 2012 terjadi pada pukul 11:24 WIB sedangkan Bulan terbenam (18:01 WIB) setelah Matahari terbenam (17:53 WIB) sehingga umur Bulan saat konjungsi sampai terbenam di ufuk Barat 6j 37m (6 jam 37 menit). Ketinggian Hilal di seluruh Indonesia pun berbeda-beda dan dinyatakan positif berada di atas ufuk atau horizon dari Timur ke Barat berkisar 0o 04’ s.d 1o 38’ di mana Indonesia bagian Barat memiliki ketinggian yang paling tinggi. Berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darusalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) tidak mungkin bisa diru’yat (dilihat) walaupun memiliki sudut pisah antara Matahari dan Bulan (elongasi) sebesar 4o 28’ dimana posisi Bulan berada di Selatan Matahari (pengamat di Pelabuhan Ratu). Apalagi berdasarkan kriteria Odeh yang menyatakan tidak bisa dilihat meskipun dengan bantuan peralatan optik karena kecerahan Hilal tidak cukup karena illuminasi Hilal (kecerahan tanduk Bulan) sebesar 0,00215 seperti pada gambar di samping dimana Indonesia tidak diberi warna yang artinya tidak bisa dilihat apalagi kita hanya bisa berkesempatan untuk mencari Hilal selama 8 menit saja.

Lantas apa artinya dengan semua ini? Berdasarkan prinsip Ru’yat yang menjadi patokan oleh ormas Islam Nahdhatul Ulama (NU) dalam menetapkan shaum Ramadhan – hal ini tentu saja tidak bisa dilihat dengan mata ataupun optik karena ketinggian dan illuminasi Hilal yang terlalu kecil, sehingga bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Ru’yat pun akan digelar kembali keesokan harinya bertepatan pada hari Jum’at, 20 Juli 2012 untuk mendapatkan citra Hilal karena ketinggian Hilal sangat tinggi mencapai 17o dan usia Hilal pun semakin tua sehingga sangat mudah untuk dilihat menggunakan mata telanjang seperti pada gambar disamping yang diarsir menggunakan warna hijau, artinya malam Sabtu merupakan pelaksanaan shalat tarawih pertama dan ibadah shaum bertepatan pada Sabtu, 21 Juli 2012.



Keesokan harinya wilayah Indonesia diarsir berwarna hijau sehingga ru’yat bisa dilakukan. Credit: Accurate Times.

Tidak seperti NU, Muhammadiyah melaksanakan shalat tarawih pertama pada malam Jum’at – hal ini disesuaikan dengan prinsip yang digunakan yaitu Wujudul Hilal karena Matahari lebih dulu terbenam daripada Bulan (ijtima’ qablal ghurub) dan ketinggian Hilal pun positif di atas ufuk atau horizon walaupun tidak bisa dilihat oleh mata. Sesuai dengan namanya, kriteria yang dipakai wujudnya atau adanya Hilal seperti halnya kita mengimani wujud/adanya Allah walaupun kita tidak bisa melihat. Sehingga pelaksanaan ibadah shalat tarawih pertama pada malam Jum’at, 19/7 dan shaum bertepatan pada hari Jum’at, 20/7.

Nampaknya Imkanur Ru’yat akan melaksanakan ibadah shalat tarawih dan shaum sama dengan NU, prinsip yang digandrungi oleh pemerintah dan beberapa ormas Islam lainnya seperti PERSIS (Persatuan Islam) melaksanakan shalat tarawih pertama pada hari Jum’at, 20/7 (malam Sabtu) dan ibadah shaum hari Sabtu 21/7. Menurut kriteria ini, ketinggian dan illuminasi Hilal sangat kecil sehingga tidak memungkinkan untuk diru’yat. Perbedaan antara ru’yat dan imkanur ru’yat dari segi praktek lapangan dimana keputusan final pada ru’yat – berhasil atau tidaknya dilihat baik oleh mata telanjang maupun dengan bantuan optik, artinya walaupun menurut perhitungan ketinggian dan illuminasi Hilal besar sehingga bisa diamati baik oleh mata telanjang dan optik tetapi pada kenyataannya terhalang atau tertutupi oleh awan – sehingga bulan Sya’ban harus digenapkan menjadi 30 hari dan shaum pun dapat dilaksanakan lusanya. Berbeda halnya dengan imkanur ru’yat – walaupun tertutupi oleh awan ataupun kabut yang sangat tebal sekalipun sehingga tidak bisa dilihat akan tetapi menurut perhitungan ketinggian dan illuminasi Hilal besar sehingga memungkinkan untuk bisa dilihat maka keesokan harinya shaum.



Citra Hilal hasil observasi awal Rajab 1430 H dari Reabold Hill (Australia). Credit: Rukyatul Hilal Indonesia. Penulis menggunakan Ephemeris Hisab Rukyat 2012 dan software Accurate Times sebagai referensi dalam pembuatan tulisan ini. Dan pada akhirnya kita tinggal menunggu sidang itsbat (penetapan) yang akan ditetapkan oleh pemerintah, apakah seperti yang dijelaskan ataukah akan mengalami perubahan. Mari kita simak liputan beritanya pada Kamis sore tanggal 19 Juli 2012.

Penulis: Zaid Nasrullah

Hipnotis dan Tayangan-Tayangan Ghaib

Published By Pajagalan.com on Kamis, Juni 28, 2012 | 17.40

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TENTANG

HIPNOTIS DAN TAYANGAN-TAYANGAN GHAIB

Hukum Donor Darah

Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS) setelah :

MENGINGAT :

  1. Firman Allah swt

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4)

“Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.” (Q.S. Al Falaq : 4)

فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ (81)

“Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: "Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya" Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan.” (Q.S. Yunus : 81)

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27)

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu (26) Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya (27).” (Q.S. Al Jin : 26-27)

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (6)

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalaha.” (Q.S. Al Jin : 6)

  1. Hadits-hadits Rasulallah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُسَدَّدٌ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَخْنَسِ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنْ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

“Dari Ibn Abbas ra. Dia berkata, Rasulallh saw. bersabda,barang siapa yang mempelajari sebagian ilmu nujum, berarti ia telah mempelajari sebagian ilmu sihir, semakin bertambah ilmunya kian bertambah juga dosanya.” (H.R. Abu Daud, Sunan Abu Daud, IX : 15)

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عِفْرِيتًا مِنْ الْجِنِّ تَفَلَّتَ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلَاتِي فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبُطَهُ عَلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ فَذَكَرْتُ دَعْوَةَ أَخِي سُلَيْمَانَ رَبِّ

{ هَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي }

فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا )رواه البخارى و مسلم)

“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi saw. telah bersabda, “Sesungguhnya ifrit dari bangsa jin tadi malam menampakan diri kepadaku, atau dengan kalimat lain seperti itu, untuk memotong shalatku, maka Allah memberikan kemungkinan kepadaku untuk menangkapnya, aku ingin mengikatnya pada satu tiang dari tiang-tiang mesjid sehingga waktu pagi agar kalian semua dapat melihatnya, tetapi aku teringat ucapan saudaraku Sulaiman (dalam do’anya), “Ya Allah ! Ampunilah aku dan berilah aku kerajaan yang tidak layak bagi seseorang pun setelahku.” Maka Allah mengembalikan ifrit dalam keadaan hina.” (H.R. Bukhari 1: 176 dan Muslim 1:384 )

  1. Perkataan Imam Syafi’I :

وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ فِي " مَنَاقِب الشَّافِعِيّ " بِإِسْنَادِهِ عَنْ الرَّبِيع سَمِعْت الشَّافِعِيّ يَقُول : مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَرَى الْجِنّ أَبْطَلْنَا شَهَادَته ، إِلَّا أَنْ يَكُونُ نَبِيًّا

“Siapa yang mengaku bahwa ia melihat jin, maka kami nyatakan batal syahadatnya, kecuali seorang sahabat Nabi.” (Fathul bari, IV : 568)

MENDENGAR :

  1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah, K.H.A. Syuhada.
  2. makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh : 1. K.H. Drs. Entang Mukhtar ZA, 2. Drs. Taufiq Azhar tentang makalah tersebut.
  3. Pembahasan dan Penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut diatas.

MENIMBANG :

  1. Perlu kejelasan dan ketegasan status hukum tentang hipnotis dan tayangan ghaib.
  2. Kasus-kasus yang terhipnotis telah terjadi.
  3. Hipnotis dapat dipergunakan dalam kebaikan dapat juga disalahgunakan.
  4. Tayangan-tayang ghaib semakin marak
  5. Tayangan-tayang tersebut berpengaruh terhadap pendangkalan aqidah.

MENGISTINBAT:

  1. Hipnotis pada asalnya mubah.
  2. Menyalah gunakan hipnotis hukumny haram.
  3. Hipnotis bukan sihir dan sebaliknya.
  4. Sihir hukumnya haram.
  5. Tayanga-tayangan ghaib adalah khurafat dan mempercayainya adalah syirik.

Demikian Keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Bandung, 15 Sya’ban 1425/29 september 2004

DEWAN HISBAH (PERSIS) PERSATUAN ISLAM

KETUA

Ttd

KH. A. AKHYAR SYUHADA

NIAT :1632

SEKRETARIS

Ttd

DR. M. ABDURRAHMAN, MA

NIAT : 7070


Isyarat Telunjuk Pada Duduk diantara Dua Sujud

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TENTANG

ISYARAT TELUNJUK PADA DUDUK DI ANTARA DUA SUJUD

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

  1. Hadis-hadis Wail bin Hujr tentang isyarat telunjuk pada:

a. Duduk secara mutlak, antara lain

Dari Wail bin Hujr bahwa ia berkata tentang salat Rasulullah saw., “kemudian beliau duduk, maka beliau menghamparkan kaki kiri dan menyimpan tangan kiri di atas paha dan lutut kirinya, dan beliau menjadikan ujung sikut yang kann atas dip aha kanan. Kemudian menggenggamkan dua jarinya dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat telunjuknya dan aku melihat beliau menggerak-gerakkannya, beliau berdua dengan itu” HR. Ahmad Musnad Ahmad IV : 318, an-Nasai as Sunan al Kubra I : 376 dan Abu Daud, Aunul Ma’bud III : 195

b. Duduk tasyahud, antara lain

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ الْجَرْمِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ حُجْرٍ قَالَ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا جَلَسَ يَعْنِي لِلتَّشَهُّدِ افْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى يَعْنِي عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Dari Wail bin Hujr, ia berkata, “Saya benar-benar hendak melihat salat Rasulullah saw. ketika beliau duduk, yakni untuk tasyahud, beliau menghamparkan kaki kiri dan menyimpan tangan kiri yaitu di atas paha yang kiri dan menancapkan kaki yang kanan” HR. At Tirmidzi

c. Duduk antara dua sujud, antara lain

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ كَبَّرَ يَعْنِي اسْتَفْتَحَ الصَّلَاةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ رَكَعَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَسَجَدَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ ذِرَاعَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ أَشَارَ بِسَبَّابَتِهِ وَوَضَعَ الْإِبْهَامَ عَلَى الْوُسْطَى وَقَبَضَ سَائِرَ أَصَابِعِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَكَانَتْ يَدَاهُ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ

Dari Wail bin Hujr, “Saya melihat Nabi saw. bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya ketika takbir, yaitu memulai salat, dan mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, dan hendak ruku dan ketika membaca sami’allahu liman hamidah. Dan beliau sujud, beliau menempatkan kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga, lalu duduk dan menghamparkan kaki kiri dan menempatkan tangan kiri di atas lutut kiri dan menempatkan sikut kanan di atas paha kanan lalu berisyarat dengan telunjuknya dan menyimpan ibu jari melingkarkan pada jari tengah, dan melipatkan seluruh jarinya, lalu sujud dan kedua tangan sejajar dengan kedua telinganya. HR. Ahmad, Musnad Ahmad IV : 317

MENDENGAR:

  1. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis K.H. Drs. Shiddiq Amin, MBA.
  2. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah K.H.A. Syuhada
  3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh : 1. K.H.M. Ramli, 2. H. Wawan Shofwan
  4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.

MENIMBANG:

  1. Riwayat tentang isyarat pada duduk antara dua sujud hanya diriwayatkan oleh Abddurazaq dari Sufyan At Tsauri.
  2. Riwayat Abddurrazaq dari Sufyan At Tsauri berbeda dengan periwayat rawi-rawi tsiqat lainnya.
  3. Muhammad bin Yusuf Al Firyabi perawi hadis yang tidak menerangkan sujud setelah isyarat lebih didahulukan daripada Abddurrazaq yang sama-sama menerima riwayat dari sufyan At Tsauri
  4. Perlu adanya kejelasan tentang kedudukan isyarat pada duduk antara dua sujud.

MENGISTIMBAT:

  1. Isyarat telunjuk hanya diisyaratkan pada duduk tasyahud
  2. Tidak ada isyarat telunjuk pada duduk antara dua sujud

Demikianlah keputusan Sidang Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Bandung, 12 Sya’ban 1423 H/ 19 Oktober 2002 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

KETUA

Ttd

KH. AKHYAR SYUHADA

NIAT :1632

SEKRETARIS

Ttd

DR. HM. ABDURRAHMAN, MA

NIAT : 7070


Hukum Donor Darah

Isyarat Telunjuk Pada Duduk di antara Dua Sujud

KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

TENTANG

ISYARAT TELUNJUK PADA DUDUK DI ANTARA DUA SUJUD

Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS) dalam sidangnya pada tanggal 17-19 Shafar 1419 H/12-14 Juni 1998 di Bandung, setelah:

MENDENGAR:

  1. Pengantar dan pengarahan dari Ketua Umum PP Persis dan Ketua Dewan Hisbah.
  2. Makalah tentang isyarat telunjuk pada duduk di antara dua sujud yang disampaikan oleh Al Ustadz K.H.A. Ghazie A. Qadir yang menyatakan adanya isyarat tersebut.
  3. Pembahasan dari seluruh anggota Dewan Hisbah tentang masalah tersebut

MENGINGAT DAN MENIMBANG:

  1. Dalil tentang isyarat telunjuk yang ada dan sahih adalah pada duduk tasyahud.
  2. hadis dari Wail bin Hujr riwayat Ahmad yang menerangkan tentang adanya isyarat telunjuk pada duduk di antara dua sujud, hadisnya Syad (dhaif).
  3. hadis yang berbunyi: Idza jalasa Fish-shalat atau Idza Qa’ada Yad’u yang bersifat muthlaq, di-taqyid oleh hadis yang menyatakan: Idza Qa’ada Fit Tasyahud
  4. Kaidah Ushul Fiqh yang menyatakan:

MEMUTUSKAN:

Menetapkan bahwa tidak ada isyarat telunjuk pada duduk di antara dua sujud.

Demikianlah keputusan Sidang Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للاسلام والمسلمين

Bandung, 19 Shafar 1419 H/ 14 Juni 1998 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM (PERSIS)

KETUA

Ttd

KH. E. SAR’AN

NIAT :03897

SEKRETARIS

Ttd

KH. DRS. SHIDDIQ AMIEN, MBA

NIAT : 649000


Akhlak Islami

Akhlak IslamiAkhlak Islami. Syari'at Islam adalah syari'at yang lengkap dan sempurna. Ia tidak hanya mengajarkan kepada manusia 'aqidah dan ibadah yang benar saja, bahkan ia mengajarkan pula akhlak yang mulia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala:

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al Baqarah: 177)

Pengajaran tentang 'aqidah ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala, "Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi."

Pengajaran tentang ibadah ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat;…dst.

Sedangkan pengajaran tentang akhlak ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala, "Dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan…dst."

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang baik di sisi Allah adalah orang yang hubungannya dengan Allah baik dan hubungannya dengan manusia pun baik. Tidaklah dinamakan orang yang baik di sisi Allah, jika dalam bergaul dengan manusia ia bergaul dengan cara yang baik, tetapi hubungannya dengan Allah tidak baik, atau hubungannya dengan Allah baik, tetapi akhlaknya terhadap manusia buruk. Dengan demikian, Aqidah dan ibadah memiliki hubungan yang erat dengan akhlak, oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Hakim, Shahihul Jaami' no. 1230)

Hadits ini menunjukkan bahwa semakin tinggi iman seseorang, maka semakin baik pula akhlaknya, dan bahwa akhlak yang buruk menunjukkan kekurangan pada imannya. Demikian juga menunjukkan bahwa akhlak merupakan refleksi keimanan dan buahnya.

Beberapa Akhlak Islami

Berikut ini di antara akhlak yang diperintahkan oleh Islam:

1. Berlaku jujur apa adanya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke surga, dan jika seseorang selalu berlaku jujur serta memilih kejujuran sehingga akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. " (HR. Bukhari-Muslim)

2. Menunaikan amanah.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…dst." (Terj. An NIsaa': 58)

Amanat artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan memenuhinya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan amanat secara sempurna tanpa menguurangi. Termasuk ke dalam amanat adalah amanat beribadah (seperti shalat, zakat, puasa dsb.), amanat harta, amanat untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan amanat dalam hal harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan kepada pemiliknya secara utuh, sedangkan amanat dalam rahasia adalah dengan menyembunyikannya; tidak membukanya.

3. Menepati janji.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya." (Terj. Al Israa': 34)

Menyalahi janji adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga; jika berbicara berdusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya khianat.” (HR. Bukhari-Muslim, dan dalam riwayat keduanya dari hadits Abdullah bin ‘Amr ada tambahan “Dan jika bertengkar berbuat jahat.”)

4. Tawadhu' (berendah diri).
Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman." (Ter. Al Hijr: 88)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اَللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا, حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ, وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk bertawadhu’, sehingga tidak ada lagi orang yang bersikap sombong dan angkuh terhadap yang lain.” (HR. Muslim)

5. Berbakti kepada orang tua.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.---Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…dst." (Terj. Luqman: 14-15)

6. Menyambung tali silaturrahim (hubungan kekeluargaan).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari)

7. Berlaku baik kepada tetangga

8. Memuliakan tamu.
Dalil berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu disebutkan dalam hadits berikut:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكِْرمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari-Muslim)

9. Dermawan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلاَقَ وَ يَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

"Sesungguhnya Allah Ta'alah Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah (dermawan), Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang rendah." (HR. Baihaqi dalam Syu'abul Iman, dan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah, Shahihul Jaami' no. 1744)

10. Santun dan pemaaf.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (An Nuur: 22)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang selalu memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

11. Mendamaikan manusia.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَ الصَّلاَةِ وَ الصَّدَقَةِ ؟ إِصْلاَحُ ذَاتَ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذاَتَ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

"Maukah kamu aku beritahukan hal yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah (sunat)? Yaitu mendamaikan orang yang bermusuhan, karena merusak hubungan adalah yang memangkas (agama)." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani no. 2595)

12. Malu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اَلْحَيَاءُ مِنْ اَلْإِيمَانِ

"Malu termasuk bagian dari iman." (HR. Bukhari-Muslim)

اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

"Malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan." (HR. Bukhari-Muslim)

13. Berkasih sayang.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, Shahihul Jami' no. 3522)

14. Berlaku adil.
Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (Terj. An Nahl: 90)

15. Menjaga kesucian diri (iffah).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اِضْمَنُوْا لِيْ سِتَّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ اُصْدُقُوْا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَ أَوْفُوْا إِذَا وَعَدْتُمْ وَ أَدُّوْا إِذَا ائْتُمِنْتُمْ وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّواْ أَبْصَارَكُمْ وَ كُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ

"Berjanjilah untukku untuk melakukan enam perkara, niscaya aku akan menjanjikan kamu surga; berkatalah yang benar ketika kamu berbicara, penuhilah janji ketika kamu berjanji, tunaikanlah amanat ketika kamu diamanati, jagalah kehormatanmu, tundukkanlah pandanganmu dan tahanlah tanganmu (dari melakukan yang tidak dibolehkan secara syara')." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi dalam Asy Syu'ab, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami' no. 1018).

Marwan bin Musa
Maraji’: Haadzaa huwal Islaam (Adil Asy Syiddiy dan Ahmad Al Mazyad), Taisirul Karimir Rahman (Syaikh As Sa'diy), Minhajul Muslim (Syaikh Abu Bakr Al Jazaa'iriy) dll.

Kiriman: Marwan Hadidi

 
Copyright © 2007-2014. Pajagalan.com - All Rights Reserved - Privacy.
Jl. Pajagalan No.14-16 (Cibadak - Astanaanyar) Bandung - Indonesia 40241
Design Mas Template Adaptation by Hakimtea
Powered by Blogger