Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Enam Virus Perusak Ibadah Puasa Ramadhan

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmat kesehatan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menjalankan kewajiban yang mulia ibadah puasa Ramadhan. Suatu perjuangan untuk melawan hawa nafsu guna membuktikan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Selama ini, mungkin kita merasa kesulitan mengendalikan hawa nafsu karena selama ini syetan laknatullah yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita kearah yang tidak disukai Allah SWT.  Akan tetapi kita bersyukur, pada bulan suci Ramadhan ini Allah SWT mengikat syetan. Namun, kita harus tetap waspada terhadap setiap godaan hawa nafsu yang akan mengakibatkan nilai ibadah puasa kita berkurang atau rusak. Syaikh Ibnu ‘Atha’illlah as-Sakandary dalam kitabnya yang berjudul Al-Hikam pada jilid I halaman 31,mengatakan bahwa asal dari segala maksiat adalah menuruti kehendak hawa nafsu, dan sebaliknya asal dari setiap ketakwaan adalah pengekangan terhadap hawa nafsu. Dengan kata lain, bahwa nafsu yang tidak terkendali akan selalu menyeret manusia kedalam jurang kehinaan menyebabkan manusaia berbuat keji dan mungkar, menjadi pangkal lahirnya semua sifat-sifat tercela pada diri kita, maka mengekang hawa nafsu akan menumbuhkan sifat-sifat yang terpuji.

Hawa nafsu, merupakan pintu utama syetan untuk memasuki hati manusia melalui hawa nafsu tersebut syetan melancarkan serangan-serangan atau menundukkan manusia menuruti segala perintahnya. Dia menyetir hawa nafsu manusia untuk berbuat jahat dan menebarkan virus-virus kepada diri kita, antara lain yaitu :

1. Riya’ (mengharap pujian orang lain) atau tidak ikhlas menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Termasuk pada ibadah-ibadah lainnya saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Misalnya, menyantuni anak Yatim bukan karena menolong dan mengharapkan keridhoan dari Allah SWT melainkan agar dinilai orang baik hati.

Faktor yang pertama, yang harus diperhatikan dalam memulai ibadah puasa Ramadhan adalah meluruskan niat, niatkanlah berpuasa untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT bukan mengharap pujian dari manusia atau hanya kerena gengsi (malu) kepada keluarga, tetangga, dan teman-teman.

2. Syahwat (seksual) atau dorongan nafsu birahi, salah satunya melihat aurat perempuan atau menonton film yang bernuansa pornografi apalagi mengkhayal yang dikhawatirkan dapat mengeluarkan air mani atau onani. Bahkan, hubungan mesra antara suami-isteri pada saat puasa Ramadhan dimakruhkan karena dikhawatirkan jatuh dalam persetubuhan yang haram.

3. Thama’ (serakah) pada semua hal sehingga terkadang berbohong dan menipu orang lain untuk mendapatkan semua yang diinginkannya. Berlebih-lebihan dalam mengumpulkan harta untuk hidup berfoya-foya sehingga menghalalkan segala cara seperti suap-menyuap, korupsi, dan perjudian.

Dalam Islam, berlebih-lebihan (terlalu) termasuk perilku tercela karena akan medatangkan penyakit kepada pelakunya, misalnya terlalu kenyang saat berbuka atau sahur akan mendatangkan penyakit malas untuk shalat Taraweh, belajar, dan bekerja. Tidak hanya mendatangkan penyakit kepada pelakunya tetapi dapat juga menimbulkan penyakit kepada orang lain, seperti berpakaian terlalu mewah ketika berkumpul dengan orang-orang miskin akan mendatangkan penyakit iri bagi yang memandangnya. Bahkan dalam beribadahpun tidak dibolehkan berlebih-lebihan. Rasulullah SAW bersabda, “binasalah orang yang keterlaluan dalam beribadah” HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud.

4. Amarah (kemarahan), kemarahan seseorang dapat terlihat dari ekspresi wajahnya atau mimik muka dan dahi berkerut ketika marah. Apalagi kemarahan yang mengarah kepada pertengkaran, dan saling memaki sehingga lidah mu berubah menjadi pedang yang sangat tajam melukai atau menyakiti perasaan saudara sendiri.

Hal ini, jangan dibiarkan sebab tidak hanya merusak puasa Ramadhan tetapi perlahan-lahan akan membuat anda tampak lebih tua. Maka jadilah orang yang berjiwa besar, kebesaran jiwa seseorang dapat dilihat dari kemampuannya memaafkan orang lain dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Tidak suka membesar-besarkan masalah kecil bahkan berusaha mengecilkan maslah-masalah besar.

5. Dengki (sakit hati) atau SMS (Susah Melihat orang Senang) misalnya, tetangga kita membeli kulkas baru terus kita sakit hati atau teman sekantor naik pangkat. Apalagi sampai mengupat (menggunjing) yaitu menyebut dan membicarakan hal-hal yang tidak disukai orang digunjing kepada orang lain dengan maksud mencemarkan nama baiknya. Sekalipun, apa yang diceritakan tersebut benar. Kemudian, apabila yang diceritakan itu tidak benar maka perbuatan tersebut termasuk perkataan fitnah atau mengadu-domba.

Maka jadilah orang yang selalu bersikaf positif, melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Suka memuji daripada mengecam dan suka mencari solusi daripada frustasi. Ketika sahabat kita membeli mobil baru seharusnya kita senang dan memberikan ucapan selamat sebab satu saat kita akan mendapatkan tumpangan mobil baru secara gratis.
Meskipun demikian, ada beberapa hal menceritakan aib seseorang yang dibolehkan; Pertama, mengungkapkan sifat jahat seseorang kepada masyarakat supaya mewaspadainya. Kedua, melaporkan seseorang yang menggangu ketentraman masyarakat kepada kepling, lurah, atau kepala desa supaya diberikan nasehat. Ketiga, mengadukan seseorang yang berbuat kejahatan kepada polisi supaya mendapat hukuman.

6. Takabbur (sombong). Menurut Syahminan Zaini mengatakan bahwa sombong adalah memandang rendah orang lain dan memandang tinggi atau mulia diri sendiri. Sehingga suka membangga-banggakan diri, angkuh, dan keras hati bertindak sewenang-wenang dan tidak mau menerima nasehat maupun kebenaran.

Penyebab timbulnya kesombongan, bisanya dari jabatan, kekayaan, kecerdasan, dan bisa juga dari ketampanan atau kecantikan pada diri kita. Secara lahiriyah dapat dilihat dari perbuatan kita, dari cara berjalan, berbicara, dan pamer harta yang mengcerminkan kesombongan. Sedangkan secara bathiniyah terletak pada watak kita yang selalu merasa angkuh dan meremehkan orang lain.
Selain itu, ibadah juga membuka peluang munculnya sifat sombong. Karena banyak melakukan dzikir, puasa, rajin ke mesjid, dan berinfaq lantas kemudian kita merasa paling baik. Hal ini dapat mengakibatkan kotornya hati kita, misalnya mengolok-olok atau mencaci orang lain. Oleh karena itu, jadilah seperti padi semakin berisi semakin menunduk.

Keenam sifat di atas, merupakan virus hati yang sangat berbahaya bagi kesempurnaan atau kualitas dari ibadah puasa Ramadhan kita. Rasulullah SAW bersabda, “banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan lapar dan dahaga”. Oleh sebab itu, agar kita terhindar dari penyakit AIDS (Angkuh, Iri, Dendam, dan Serakah) tersebut, marilah kita senantiasa beramal shaleh dan menjauhi hal-hal tersebut sebab itu semua dapat mengurangi nilai pahala ibadah puasa Ramadhan kita.



Penulis: Hendra Gunawan, MA
Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidimpuan