Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Khutbah Gerhana Matahari Total (Dr. H. Dedeng Rosyidin M.Ag)


 ~Hamdalah-

Allahu Akbar! Allahu Akbar wa lillahilham. Allah Maha besar, Allah Maha Agung salah satu ciri keagungan Allah adalah Dia menciptakan matahari dan bulan. Firman Allah : “Was Syamsa wal qamara wan nujuuma muskkharatin biamrihi” Matahari, bulan dan bintang semuanya tunduk pada perintah Allah. Rasulullah menjelaskan matahari dan bulan ialah dua diantara tanda-tanda keagungan Allah yang lain. Bersabda Rasulullah : “Innas Syamsa wal qamara ayaataani min ayaatillah” Tidak pernah matahari dan bulan membantah perintah Allah, Matahari tahu bagaimana dia harus sujud kepada Allah matahari pun paham bagaimana dia harus shalat kepada Allah, tidak pernah matahari meninggalkan shalat dan tidak pernah pula matahari meninggalkan tashbih. Semua tunduk dan taat atas perintah Allah.

Was Syamsa wal qamara wan nujuuma musakkharatin biamrihi ‘ala lahul khalqu wal amru.
Matahari dan bulan dua ciptaan Allah yang ada diangkasa, kedua-duanya dapat diperhitungkan –Was Syamsu walqamaru bihisbaani- Kenapa perjalanan matahari dan bulan dapat dihitung? Karena diatas langit Allah telah menciptakan jalan-jalan, jalan tuk planet-planet yang ada diangkasa, jalan yang dipersiapkan untuk makhluk-makhluk besar ciptaan Allah yang diangkasa yang tidak pernah tabrakan dan tidak pernah salah jalan. Allah berfirman: “Was samaai idzaa tilhubk” Ingatlah demi langit dimana diatas mempunyai jalan-jalan. Matahari dan bulan diciptakan Allah berbeda fungsi, Matahari diciptakan oleh Allah sebagai sumber cahaya. Sementara bulan diciptakan oleh Allah SWT sebagai yang menerima cahaya lalu memantulkan cahaya matahari ke bumi namun kedua-duanya dapat dihitung tetapi Allah menciptakan keduanya tidak percuma.

Wal ladzii khalaqas Syamsa diyaa-an wal qamara nuuran wa qaddarahu manaazila lita’lamuu ‘adadas siniina wal hisaab. Wa maa khalaqallahu illa bil haq.

Allah menciptakan matahari sebagai sumber cahaya dan Allah menciptakan bulan sebagai pemantul cahaya, Allah telah menetapkan jalannya agar kalian mengetahui jumlah waktu, tahun dan agar kalian dapat menghitung. Allah menciptakan itu semua tidak percuma.

Tidak hanya sekedar matahari, gugusan bintang-bintang diatas tidak dapat dihitung tapi Allah menciptakan gugusan-gugusan itu mempunyai fungsi masing-masing. Dalam ayat lain Allah menyebut, matahari sebagai siraaj dan bulan sebagai muniir. “Tabarakal ladzii ja’ala fis samaai buruujan wa ja’ala fiiha siraajan  wal qamara muniiran” Maha suci Allah yang telah menciptakan dilangit gugusan bintang-bintang dan Allah itu telah menciptakan di langit itu adalah siraaj (lampu yang memiliki sinar sendiri) dan Allah menciptakan bulan sebagai muniir (yang tidak memiliki cahaya sendiri). Dengan perjalanan matahari dan bulan, Allah telah membagi tugas masing-masing.

Matahari ditugaskan oleh Allah terbit di siang hari dan Bulan ditugaskan oleh Allah untuk terbit di malam hari. Pergantian antara tugas matahari dan bulan berdampak terhadap kehidupan manusia, maka ketika matahari bertugas manusia hidup tuk mencari nafkah dan ketika bulan bertugas manusia istirahat di malam hari dengan sejuk dan nyaman. Itu semua adalah karena kehebatan dan kekuasaan Allah.

Inna fii khalqis samaawati wal ardi wakkhtilaafil laili wan nahaari laayaatil liulil albaab.
Sehebat apapun manusia, sekuat apapun manusia seperti kaum ‘ad, tidak bisa menggulirkan matahari. Sehebat apapun manusia, sekuat apapun manusia seperti kaum samud, tidak bisa menenggelamkan matahari, matahari bergulir bulan juga berjalan karena semua adalah kekuasaan Allah.
Yuqallibul laahu laila wan nahaara inna fii dzaalika liulil abshaar

Sesungguhnya pergantian malam dan siang akibat dari perjalanan matahari itu semua adalah tanda bagi orang yang mempunyai pikiran yang cerdas. Dikala matahari menjalankan tugas untuk menyinari manusia dibumi dan terhalang oleh bulan sehingga sinar matahari yang terang berubah menjadi hitam. Berubahnya sinar matahari yang terang menjadi hitam itulah didalam bahasa arab namanya, kusuf. Asal kata dari kasafa at-taghayyur ilas sawad yang selanjutnya disebut gerhana matahari. Ketika bulan akan memantulkan sinar matahari kemudian terhalang oleh matahari maka berubahlah sinar bulan itu. Berubahnya sinar bulan bahasa arabnya, khusuf. Disebut juga dengan nuqshar. Karena itu kusuf adalah berubah dari terang menjadi hitam sementara khusuf adalah berkurangnya sinar yang tadinya terang menjadi kurang terang.

Peristiwa gerhana bukanlah sesuatu hal yang baru di bumi ini. Di zaman Nabi SAW pernah terjadi gerhana bulan yaitu pada jumaadil akhir tahun ke-5 hijrah. Ketika terjadi gerhana bulan tahun ke-5 hijrah, Rasulullah shalat gerhana sementara orang yahudi memukul-mukul badan mereka, sambil mereka berteriak, “sahara alqamaru!” (Bulan sudah tertutup!). Sedangkan gerhana matahari pernah terjadi dibulan Rabi’ul awwal tahun ke-10 hijrah, dapat kita katakana adalah wafatnya Rasulullah tahun ke-10 hijrah, dari tahun ke-10 hijrah juga wafat pula putra Nabi SAW yang bernama Ibrahim dari seorang istri Mariah Al-qibtiyyah (Mariah orang Qibty). Ibrahim wafat dalam usia 2 tahun, tidak ada salah seorang anak laki-laki dari Nabi yang hidup sampai dewasa, semua anak laki-laki Nabi wafat dalam usia masih kecil. 3 anak laki-laki nabi dari Khadijah yaitu Khasit, Thayyiq dan Thahir tiga-tiganya wafat ketika masih kecil.

Sementara putri-putri Nabi  yang 4 yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum wafat disaat masih hidup Rasulullah sementara hanya 1 putri Nabi yang masih hidup setelah Nabi wafat yaitu Fathimah. Kenapa putra-putra Nabi yang 4 di wafatkan dalam usia masih kecil? Karena Allah punya tujuan bahwa Muhammad adalah Nabi terakhir seandainya putra-putra Nabi yang 4 itu ada yang hidup sampai dewasa, akan ada orang yang mengatakan bahwa putra Nabi itu adalah Nabi dan Rasul. Cacakan anak laki-laki Nabi yang 4 itu wafat dalam usia kecil masih banyak orang yang mengaku sebagai Nabi dan Rasul. Untuk itu Firman Allah: “Laulaam qastum laja’altu lahu waladan yakuunu ba’dahu nabiyyan” Kalaulah aku tidak menutup Muhammad sebagai Nabi terakhir pasti aku jadikan anak Muhammad sebagai Nabi setelah ia dewasa setelah Nabi wafat.

 Ketika Rasulullah SAW menyaksikan putranya Ibrahim dari Mariah Qibtiyyah wafat, mengalir berlinang dari air mata Nabi dan Nabi pun merasa sedih tapi Nabi menerima dengan ridho apa yang Allah putuskan. “Tadzma’un ‘ain wa tahzamul qalbu walaa nakuulu illa mayurdiirakuuna wa inna bika yaa Ibraahim namahsuun” Wahai Ibrahim anakku yang wafat masih kecil sebenarnya bapak itu sedih, tapi Allah telah menentukan maka bapakpun ridho masih kecil engkau kembali kepada Allah.

Pandangan keliru muncul ketika putra Nabi itu wafat sanya ketika wafatnya itu bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari, orang-orang arab berpandangan bahwa terjadinya gerhana itu karena pengaruh bintang-bintang, karena perubahan di bumi, karena matinya seseorang, dan karena akan terjadinya kemadharatan. Sementara pandangan oranglain bahwa gerhana itu terjadi akibat hilangnya bintang-bintang, karena matinya pembesar. Berdampak, kepada sahabat yang memiliki pandangan yang keliru bahwa sahabat memandang terjadinya gerhana matahari karena wafatnya putra Nabi yang bernama Ibrahim.

Maka pandangan itu di luruskan oleh Allah SWT dan Rasulullah bahwa terjadinya gerhana matahari dan bulan itu karena mereka berdua adalah makhluk dan tanda kebesaran Allah, dan terjadi gerhana matahari maupun bulan, bulan dan matahari itu sedang bertasbih dan bersujud kepada Allah. Itu ditunjukkan Allah dalam surat Al-Hajj ayat 18, “Alam tara annallaha yasjudu lahu man fis samaawaati wa man fil ardhi was syamsu wal qamaru waan nujuumu wal jibaalu was syajaru wad dawaabbu wa katsiirum minan naas ” Tidakkah kamu memperhatikan bahwa semua makhluk yang ada di langit-langit maupun yang ada di bumi sujud kepada Allah, Matahari, Bulan, Bintang-bintang, Gunung-gunung, dan pohon dan binatang melata mereka semua bertashbih, semua makhluk-makhluk tersebut mereka tau bagaimana cara mereka shalat menurut cara mereka masing-masing.

Tapi Allah mengakhiri dari ayat itu, “Wa katsiiru minannaasi” dan banyak manusia yang shalat, yang bertashbih maka banyak pula manusia yang tidak shalat dan tidak bertashbih. Lain halnya dengan makhluk-makhluk lain tidak ada makhluk-makhluk angkasa yang tidak shalat, tidak ada makhluk-makhluk angkasa yang tidak bertashbih kecuali ada yang tidak bertashbih yaitu manusia dan ada yang tidak shalat adalah dari bangsa manusia.

Rasulullah menjelaskan bagaimana ketika terjadi gerhana matahari maupun bulan, “innas syamsa wal qamara aayaatani min aayaatillahi laa yahsyifaani llimautii ahadin walaa lihayaatihi fa idzaa raaitum dzalika fad’’ullahu! Fa kabbiru! Wa tashaddaqu! Wa shallu!” Matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda keagungan Allah tidaklah keduanya saling tutup menutupi karena mati atau hidupnya seseorang jika kamu mellihat dan menyaksikan gerhana berdo’alah kepada Allah!

Bertakbirlah kepada Allah!  Dan bershadaqahlah! Lalu shalatlah! Untuk itu ada kesempatan untuk kita bershadaqah , kitapun telah bertakbir, kita telah shalat dan kitapun telah berdo’a, dan silahkan untuk bershadaqah.

Selanjutnya, Rasulullah SAW ketika melihat gerhana beliau berdo’a “Allahummaj ‘alhaa rohmatan walaa taj’alhaa ‘adzaaban” Yaallah jangan engkau jadikan itu adalah sebagai adzab tapi jadikanlah olehmu yaallah sebagai rahmat. Yang disampaikan Rasulullah kepada Allah ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat gerhana, Rasulullah pun menangis. Beliau menangis bagi yang hidup menangis pula bagi yang mati, Rasulullah takut umatnya yang hidup di adzab oleh Allah padahal Nabi masih hidup sehingga beliau melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sedang beliau menangis bagi yang mati karena beliau di perlihatkan oleh Allah umatnya di adzab oleh Allah. Untuk itu bagi yang hidup Rasulullah menagih janji kepada Allah, “Rabbi alam ta’idznii ‘ala tu’addzibahum wahum nastaghfiru wanahnu nastaghfiruu“ Bukankah Engkau telah berjanji kepadaku bahwa Engkau Yaallah tidak akan mengadzab mereka umatku sementara aku masih ada dan aku masih hidup dan mereka memohon ampun kepadaMu dan kamipun memohon ampun kepadaMu.

 Untuk itu tatkala Nabi masih hidup Nabi telah memohon ampun kepada Allah untuk umatnya supaya jangan di adzab ketika Nabi masih hidup supaya tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Diantara yang di do’akan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup yaitu agar umatnya tidak terkena penyakin tho’un, penyakit yang menular dan penyakit kelamin yang tidak pernah terjadi pada umat terdahulu. Rasul mengatakan, “Ada lima hal yang apabila kalian di uji olleh Allah dengan kelima itu aku akan berlindung kepada Allah sementara aku masih hidup, yang pertama apabila perzinahan telah muncul di suatu daerah dengan terang-terangan sehingga diiklankan, diberitahukan akan tersebarlah pada umatku itu penyakit tho’un dan penyakit kelamin yang tidak pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya” dan di saat Rasul masih hidup beliau meminta berdo’a kepada Allah agar penyakit itu tidak menimpa kepada umat Muhammad.

Yang di maksud fahisyah tidak sekedar perzinahan tapi juga adalah liwath (percampuran satu jenis ; laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengannya lagi). Ingat yang di sampaikan tadi bahwa Nabi berdo’a kepada Allah supaya umatnya tidak diadzab selagi beliau masih hidup, akan tetapi kini Nabi telah wafat. Rasulullah tidak mendo’akan/memohonkan ampun kepada Allah karena kini beliau telah wafat maka kecuali umatnya yang mesti memohonkan ampun kepada Allah terhadap perbuatan fahisyah yaitu liwath yang sudah di tentukan oleh Nabi jika itu terjadi akan terjadi penyakit menular  dan penyakit kelamin yang dahsyat yang tidak pernah terjadi pada umat-umat sebelumnya.

Gerhana matahari tidak terjadi sekarang saja tetapi akan terjadi gerhana terakhir dan apabila terjadi gerhana yang terakhir itu, tidak akan pernah terjadi lagi gerhana-gerhana berikutnya. Karena matahari sudah padam sehingga tidak bisa menyinarkan sinarnya ke bulan dan bulan pun tidak bisa memantulkan sinar matahari ke bumi sehingga bumi ini akan menjadi gelap gulita tidak akan di tentukan berapa waktu dan berapa ratus tahun. Jika terjadi, gerhana matahari atau gerhana bulan ternyata setelah gerhana itu tidak terang lagi langsung gelap selama-lamanya adalah itu sebagai ciri kiamat akan terjadi.

Dan gerhana itu yang terjadi sebagai tanda kiamat adalah gerhana bulan, terjadi di malam hari tatkala matahari sudah tidak bersinar maka bulan pun tidak bisa memancarkan sinarnya, maka kita yang di bumi ini hidup akan merasakan gelap gulitanya hari dan kecuali menghadap Allah. Allah menjelaskan, “Fa idzaa bariqal bashar wa khasafal qamaru wa jumi’as syamsu wal qamau, yaquulul insaanu yauma idzin ‘ainal mafar? Kalla laa wazar ilaa rabbika yaumaidzinil mustaqar” Apabila mata melihat dengan penuh rasa takut dan bulan sudah tertutup dan matahari bulan di gabungkan, manusia berkata pada waktu itu kemana harus pergi? Sungguh tidak ada tempat untuk pergi kecuali menghadap kepada Tuhanmu. Karena itu, gerhana matahari yang sekarang terjadi lalu terang lagi setelah jam 8 sebagai peringatan kepada kita cepat bertobat dan beribadah, karena akan terjadi nanti matahari apabila terjadi gerhana tidak akan terang lagi (gelap selama-lamanya) .

Peristiwa gerhana itu adalah peristiwa saling tutup menutupi, peristiwa saling tutup menutupi terjadi di langit terjadi di bumi bahkan terjadi pula di diri kita sendiri. Ketika matahari akan memancarkan sinarnya ke bumi lalu tertutup oleh bulan terjadilah kerhana di atas yang di sebut dengan kusuf (gerhana matahari), ketika bumi yang subur tiba-tiba dating banjir lalu tanaman menjadi hancur karena tertutup lumpur, maka terjadi gerhana di bumi. Gempa bumi terjadi membuat gunung menjadi longsor lalu rumah tertutup kolam pun juga tertutup itu gerhana di bumi. Ketika terjadi gerhana di atas kita meski berdo’a dan ketika terjadi gerhana di bumi kita katakana innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, semua kembali kepada Allah. Tetapi pada diri kitapun suka terjadi gerhana, ketika Qur’an memberi penjelaskan kepada kita, hati kita menolak, sunnahturrasul member ajaran kepada kita, hati kita pun menolak gelap. Maka gerhana terjadi pada diri kita sendiri, karena itu hakekatnya kita itu sering terjadi gerhana semisal, mencuri, berzinah, dll. Orang yang berzinah di malam hari itu sedang terjadi gerhana bulan pada dirinya, orang yang mencuri di siang hari sedang terjadi gerhana matahari pada dirinya, dan gerhana pada diri kita lebih sering ketimbang gerhana matahari dan bulan.

Dan oleh karena itu apabila kita menyadari bahwa dalam diri kita pun banyak terjadi gerhana, dusta, menipu, menolak ajaran Allah, tidak taat kepada Allah dan RasulNya, kemudian berzinah, mencuri semua adalah gerhana yang itu disebut dengan kusuful quluub (Gerhana tertutupnya hati). Disaat hati tertutup, Allah memberikan petunjuk “wasarri’u ilaa maghfiratim mirrabbikum wa jannatin ardhuhas samaawaati wal ardhi” Cepat bertobat, memohon ampunannya, dan cepat kejarlah surga yang seluas dengan langit dan bumi yang telah di sediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi ketika hati kita gelap dari sinar yang terang maka cepatlah memohon ampun, cepat bertobat, berubah sikap, dan melakukan amal shaleh untuk mengejar sunnah.

Maka jadikanlah matahari dan bulan oleh kita sebagai guru dalam kehidupan, karena hakekatnya matahari dan bulan adalah dua makhluk Allah guruh dalam hidup. Guruh itu adalah matahari selalu memberikan sinar kepada kita tanpa lelah terbit di pagi hari, siang, sore dan terbenam malam hari. Kita hidup harus seperti matahari; apabila terdapat kebenaran dalam diri kita, berikan sinarkan kepada yang lain dengan menyinari mereka di siang hari dan sore. Kita pun hidup harus seperti bulan. Bulan yang belajar dari matahari menerima sinar lalu di sinari kepada penduduk bumi yaitu manusia,  dan manusia di sinari dengan pantulan cahaya bulan, yaitu terang, sejuk dan damai.

Jika kita punya ilmu yang hasil didikan sendiri maka berikan kepada orang lain harus bagaikan bulan dengan wasa kesejukan dan kenyamanan. Hiduplah kita seperti bulan dan matahari, matahari tidak pernah mendahului bulan dalam terbitnya dan bulan pun tidak pernah mendahului matahari dari terbitnya. Matahari tahu harus menyinari di waktu siangnya dan bulan pun tau harus menyinari di waktu malamnya. Maka kita harus hidup seperti matahari dan bulan jangan mengambil hak orang lain! Ambillah hak kita! Kewajiban kita jangan merampas hak orang lain karena bulan dan matahari pun tak pernah merampas waktu terbit antara keduanya.

Matahari dan bulan adalah makhluk Allah yang tepat waktu, tidak pernah matahari kesiangan dan tidak pernah matahari ketika tenggelam ke malaman. Tidak pernah bulan juga kesiangan ketika terbit di awal malam dan tidak pernah pula bulan pulang lebih awal padahal malam masih gelap.  Tepat waktulah seperti matahari ketika terbenam dan terbit dan tepat waktulah seperti bulan yang tidak pernah pulang sebelum waktunya.

Kemudian matahari dan bulan adalah dua makhluk Allah yang tidak pernah menolak ajaran Allah, tidak pernah membantah, siang atau pun malam selalu berdzikirr bertashbih kepada Allah, kitapun juga harus seperti itu.

Walladzii ‘inda rabbika yusabbihu lahu billaili wannahar
Orang yang bertashbih kepada Allah adalah orang yang baik, ia bertashbih di malam hari dan bertashbih di siang hari, oleh karena itu kita harus pandai membagi waktu, kapan untuk bermunajat kepada Allah, kapan untuk menghisab diri dan kapan untuk tafakkur dan kapan pula untuk mencari rizki. Untuk itulah maka matahari dan bulan adalah guru dalam kehidupan, mengambil ibrah kepada matahari dan bulan, dan ingat kedua-duanya adalah makhluk Allah yang patuh dan tunduk kepada Allah. Maka kitapun harus tunduk dan sujud kepada Allah.

Wassalam

[] Masjid Persatuan Islam Pajagalan. Diketik Oleh: Alfani Kamil

0 Response to "Khutbah Gerhana Matahari Total (Dr. H. Dedeng Rosyidin M.Ag)"