Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Bolehkah Mentalqinkan Orang Kafir?

Pertanyaan: Dalam sebuah majalah menjelaskan tentang sebuah hadis Nabi saw. mentalqinakan Abu Talib, dengan hadis itu berkesimpulan bahwa kita boleh mentalqinkan orang kafir, bagaimana apakah benar demikian? Mohon penjelasannya. Terimakasih. – Carli Cianjur.

Hadis yang anda tanyakan harus dicermati matannya dengan lebih seksama, agar tidak berkesimpulan yang tidak semestinya. Hal ini agar dapat dibedakan antara talqin dan dakwah selama masih ada kesempatan.

Talqin adalah membisikan kalimat Laa ilaaha illallah dengan suara perlahan ke telinga orang yang sedang mengalami sakaratul maut. Adapun dakwah adalah mengajak kejalan Allah swt. dengan berbagai alat dan media serta dengan berbagai cara yang baik. Oleh karena itu marilah kita perhatikan hadisnya secara lengkap sebagai berikut :

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَنَزَلَتْ {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ}

Artinya : Dari Said bin Al-Musayyab dari babaknya, ia berkata,”Ketika Abu Talib menjelang kematiannya, Rasulullah saw. menemuinya dan di sisinya sudah ada Abu Jahal dan Abdulah bin Abu Umayah. Nabi bersabda,’Wahai Paman, ucapkan laa ilaaha illalah, aku dapat membelamu dengan itu di sisi Allah.’ Abu Jahal dan Abdulah bin Abu Umayah berkata,’Wahai Abu Talib,’Apakah engkau membenci agama Abdul Mutalib.’ Nabi saw. bersabda,’Saya akan memohonkan ampunnan untukmu selama saya tidak dilarang.’ Maka turunlah ayat – Tidak benar bagi nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan bagi musyrikin walaupun mereka kerabat dekat setelah nyata bagi mereka bahwa mereka (musyrikin) itu penduduk-penduduk neraka jahim.” H.r. Al-Bukhari, XI : 341, no. 4675.

Dari untaian kalimat pada hadis itu jelas terjadi perang kepentingan. Di satu sisi nabi masih melihat peluang dakwah dan sodara-sodara Abu Talib lainnya, yakni Abu jahal dan Abdulah bin Abu Umayah berkepentingan agar Abu Talib tetap pada agama nenek moyangnya.

Jadi, jelas terjadi perang dakwah dengan kata-kata. Hal ini sungguh berbeda dengan talqin yang memiliki cara tersendiri itu. Maka Nabi saw. bukan sedang men-talqin-kan orang kafir, tetapi dakwah dapat dilakukan selama masih ada kesempatan. (Ustadz Wawan Shofwan, anggota Dewan Hisbah PP. Persis) [rh/persatuanislam.or.id/pajagalan.com]