Update Teranyar...

Keutamaan Malam Nisyfu Sya'ban, Adakah Rasulullah Mencontohkan?

Published By Pajagalan.com on Minggu, Juni 23, 2013 | 21.13

Pro dan kontra tentang perdebatan masalah beribadah pasti akan selalu ada, terutama jika ibadah tersebut berada diranah yang samar dalam artian hadits-hadits yang mendukung untuk dilakukan amalan tersebut ternyata lemah atau bahkan maudlu (hadits palsu) akan tetapi sebagian para 'ulama' atau 'ustadz-ustadz' banyak mengamalkan bahkan memerintahkan pada para pengikut pahamnya (mazhab).

Mungkin sebagian orang berpendapat "masalah seperti ini tidak perlu di perdebatkan ataupun menjadi pro dan kontra (masalah nisfu sya’ban) karena yang berhak menilai amal ibadah seseorang bukan manusia tetapi Allah SWT, ibadah bukan untuk di perdebatkan namun ibadah untuk dkerjakan."

Argumen diatas seolah benar, namun justru menyesatkan, pertama tentu kita harus mengetahui hukum awal dalam beribadah, menurut kaidah para ulama salaf yang telah diakui oleh semua kalangan ulama yaitu, "awal mula ibadah adalah HARAM (tidak boleh dilakukan) kecuali ada perintah Allah dan dicontohkan Rasulullah SAW."

Jika Ibadah dilakukan seenaknya tanpa ada perintah dari Allah dan dicontohkan Rasulullah SAW lantas apa bedanya Islam dengan agama lain?

Argumen diatas "yang berhak menilai ibadah adalah Allah SWT" memang benar.

Namun apakah kita tahu ibadah kita telah dinilai baik dan benar oleh Allah SWT?

Lantas timbul pertanyaan bagaimana cara mengetahui ibadah kita baik dan benar serta diterima Allah SWT?

Ini yang perlu menjadi bahan kajian, jangan sampai kita mengikuti maa laisa laka bihi ilmun.

Yang harus kita lakukan jika mendapat persoalan ibadah yang terdapat pro dan kontra maka sebisa mungkin dengan ilmu yang kita punya dan alat yang telah Alalh berikan (panca indera, pikiran dan hati) kita telaah lebih dalam.

Nisfu artinya setengah atau seperdua, dan Sya’ban adalah bulan kedelapan daritahun Hijriyah. Nisfu Sya’ban secara harfiyah berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban. Jika aku merujuk ke kalender Hijriyah, insya ALLOH besok kita akan tiba di malam ke-15 (pertengahan) dari bulan Sya’ban.

Hadits-Hadits keutamaan Bulan Sya’ban.

Diriwayatkan bahwa Rasululloh SAW bersabda “Bulan Sya’ban itu bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal oleh Tuhan. Aku menginginkan saat diangkat amalku aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Nasa’I dari Usamah)

Riwayat lain yg serupa menuliskan: Dari Usamah bin Zaid berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasululloh SAW, saya tidak melihat engkau puasa disuatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda:”Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa?i dan Ibnu Huzaimah).

Dari Aisyah ra. berkata,” Saya tidak melihat Rasululloh SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR Muslim)

Dari hadits-hadits di atas, TIDAK DISEBUTKAN/TIDAK DICONTOHKAN Rasululloh SAW ‘memperingati’ malam nifsu sya’ban secara khusus.

Sedangkan hadits-hadits berikut ini:

“Wahai Ali, barang siapa yang melakukan sholat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ia membaca setiap rakaat Al fatihah dan Qul huwallah ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya … dan seterusnya.

Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu : jika datang malam Nisfu Sya’ban bersholat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya **lengkapnya adalah sebagai berikut: Hadis yang diriwayatkan daripada Ali ra: ((Apabila tiba malam Nisfu Sya’ban, maka bangunlah kamu (menghidupkannya dengan ibadah) pada waktu malam dan berpuasalah kamu pada siangnya, karena sesungguhnya ALLOH SWT akan turun ke langit dunia pada hari ini bermula dari terbenamnya matahari dan berfirman: “Adakah sesiapa yang memohon ampun daripada-Ku akan Ku ampunkannya. Adakah sesiapa yang memohon rezeki daripada-Ku, akan Ku kurniakan rezeki kepadanya. Adakah sesiapa yang sakit yang meminta penyembuhan, akan Ku sembuhkannya. Adakah sesiapa yang yang meminta daripada-Ku akan Ku berikan kepadanya, dan adakah begini, adakah begitu dan berlakulah hal ini sehingga terbitnya fajar))..**

update: sumber hadits ini lemah:Hadis ini adalah maudhu’, diriwayatkan oleh Ibn Majah dan al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman. Rujuk Dhaifah al-Jami’ dan Silsilah al-Dhaifah oleh al-Albani, Dhaif Ibn Majah.

“Seratus rakaat pada malam Nisfi sya’ban (dengan membaca surah) Al ikhlas sepuluh kali (pada setiap rakaat) bersama keutamaan keutamaan yang lain”, diriwayatkan oleh Ad Dailami dan lainya.

Diriwayatkan daripada Ibn Umar ra bahwa Rasululloh SAW bersabda: ((Barang siapa membaca seribu kali surah al-Ikhlas dalam seratus rakaat solat pada malam Nisfu Sya’ban ia tidak keluar dari dunia (mati) sehinggalah ALLOH SWT mengutuskan dalam tidurnya seratus malaikat; tiga puluh daripada mereka mengkhabarkan syurga baginya, tiga puluh lagi menyelamatkannya dari neraka, tiga puluh yang lain mengawalnya daripada melakukan kesalahan dan sepuluh lagi akan mencegah orang yang memusuhinya)).

update: sumber hadits ini lemah:Hadis ini menurut Ibn al-Jauzi adalah Maudhu’. (Rujuk Ibn al-Jauzi, al-Maudhu’at, Dar al-Fikr, cet. 1983, 2/128). Imam al-Daruqutni pula meriwayatkan hadis ini daripada Muhamad bin Abdun bin Amir al-Samarqandi dan dia mengatakan bahwa Muhamad adalah seorang pendusta dan pembuat hadis. Pendapat ini juga sama seperti yang disebut oleh Imam al-Zahabi bahawa Muhamad bin Abdun terkenal sebagai pembuat hadis.

Diriwayatkan daripada Ja’far bin Muhammad daripada ayahnya berkata: ((Sesiapa yang membaca pada malam Nisfu Sya’ban seribu kali surah al-ikhlas dalam sepuluh rakaat, maka ia tidak akan mati sehingga ALLOH SWT mengutuskan kepadanya seratus malaikat, tiga puluh menyampaikan khabar gembira syurga kepadanya, tiga puluh menyelamatkannya dari neraka, tiga puluh akan mengawalnya dari berbuat salah dan sepuluh akan menulis mengenai musuh-musuhnya)).

update: sumber hadits ini lemah:Ibn al-Jauzi turut menghukum hadis ini dengan maudhu’

Kesemua hadits diatas adalah hadits dloif (lemah) dan maudlu (palsu), dengan kata lain TIDAK SHAHIH. Dari sekian banyak literatur, tersebut bahwa Al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan bahwa tidak ada satu hadits shahih pun mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban.

Denikian pula Ibnu Katsir telah mendha’ifkan hadits yang menerangkan tentang bahwa pada malam nisfu Sya’ban itu, ajal manusia ditentukan dari bulan pada tahun itu hingga bulan Sya’ban tahun depan.

Sayangnya, banyak kaum muslim yg mengerjakan hal-hal yg tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah SAW dengan memperingati malam nisyfu sya'ban diantaranya dengan 'upacara:
  • Membaca surat Yasin,
  • Shalat sunnah dua raka’at dengan niat minta dipanjangkan umur, shalat dua raka’at dengan niat agar dimurahkan rezeki dan seterusnya.
  • Membaca lafaz do’a-do’a khusus yang -entah bagaimana- telah tersebar di banyak negeri meski sama sekali bukan berasal dari hadits/contoh Rasululloh SAW
Ketiga point contoh di atas merupakan rangkuman dari buku Dr. Yusuf al-Qaradawi, jilid 1, m.s. 382-383, cetakan: Dar Uli al-Nuha, Beirut).

Kesimpulan:
  • Rasululloh SAW hanya mencontohkan untuk MEMPERBANYAK PUASA/SHAUM di bulan Sya’ban (dg catatan, di bulan2 lain kita juga menyempatkan diri puasa. Jadi, BERPUASA TIDAK HANYA DI BULAN SYA’BAN)
  • Rasululloh SAW TIDAK MEMBERIKAN CONTOH IBADAH LAIN di bulan Sya’ban, terutama MALAM NIFSU SYA’BAN

Intinya, jika TIDAK SESUAI DENGAN CONTOH RASULULLOH SAW, maka ibadah tersebut digolongkan bid’ah.

Berikut ini pendapat-pendapat para ‘ulama besar tentang keutamaan malam nisyfu sya'ban :

1. Pendapat Imam Ibnu Taimiyah tentang pengkhususan puasa, shalat al-fiyyah dan perayaan pada malam nishfu sya’ban:
a. Tidak ada dasarnya
b. Haram
c. Bid’ah
d. Hadits tentang shalat Al-Fiyyah adalah palsu
[lihat: Iqtidha Shiratal Mustaqim 2/138]

2. Pendapat Imam Nawawi tentang shalat Rojab dan Sya’ban:
a. Bid’ah yang buruk
b. Mungkar
[Lihat: dalam Fatawa beliau hal. 26]

3. Pendapat Zaid bin Aslam:
a. Para sahabat kami [‘ulama] tidak pernah melakukannya
b. Para Ahli Fiqh tidak pernah melakukannya

4. Pendapat Imam As-Suyuthi tentang menyemarakan malam nishfu sya’ban:
a. Perkara yang dibuat oleh ahli bid’ah
b. Mengikuti tradisi kaum majusi untuk membangkitkan kembali agama mereka
c. Agama jadi permainan dan senda gurau
d. Tidak pernah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam baik untuk menyemarakan maupun untuk shalat yang dikhususkan pada malam harinya
e. Diselenggarakan pertama kali pada zaman Al-Baramikah
f. Mengelabui rakyat jelata agar amalan ini dianggap sunnah
g. [Umumnya-ed] terjadi campur baru lelaki dan perempuan [ikhtilath, terlarang dalam islam-ed]
h. Wajib bagi ulama untuk memberi peringatan [agar rakyat tidak mengikuti shalat dan perayaan malam nisfu sya’ban-ed]
[Lihat: Al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘Anil Ibtida’, hal 177-178].

5. Pendapat Imam Ali bin Ibrahim tentang menyemarakan malam nishfu Sya’ban dan shalat Raghaib:
a. Semua itu jauh dari kebenaran
b. Para ‘ulama telah membantahnya
c. Amalan semacam itu telah dihapus secara sempurna pada awal tahun 800an hijriyah di Mesir dan Syam
[Lihat: Al-Amru bil Ittiba’ wan Nahyu ‘Anil Ibtida’, hal 179].

6. Pendapat Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baaz tentang perayaan malam nishfu sya’ban dan mengkhususkan puasa pada hari itu:
a. Bid’ah
b. Tidak ada dasarnya dalam agama
c. Hadits2nya tidak dapat dijadikan hujjah sebagaimana dikatakan mayoritas ‘ulama

7. Perkataan Ibnu Abi MalikahIbnu Abi Malikah diberi tahu bahwa Ziyad bin An-Numairiy berkata; “Pahala malam nishfu sya’ban sama dengan pahala lailatur qadar.” Beliau menjawab: “Seandainya saya mendengar sedangkan di tangan saya ada tongkat. Tentu saya pukul dia.” Hal ini disebabkan Ziyad adalah tukang cerita.

8. Perkataan Imam As-Suyuthi
Berkata Al-Imam As-Suyuthi, “Wahai saudaraku! waspadalah kalian terhadap para pembuat cerita palsu yang mengutarakan sebuah hadits kepada kalian sekalipun tujuannya baik sebab untuk mewujudkan kebaikan itu harus benar-benar sah dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Jika anda telah mengetahui palsunya suatu hadits maka ketahuilah hal tersebut bukan termasuk syari’at sedikitpun bahkan termasuk wahyu dari setan yang dibangun diatas hadits palsu! 

Wallahu a'lam bisshawab
Redaksi Buletin Pajagalan


Bahan bacaan:
http://tausyiah275.wordpress.com 
http://www.persatuanislam.or.id
http://mukhtashar.wordpress.com
gambar dari kaahil.wordpress.com

 
Copyright © 2007-2014. Pajagalan.com - All Rights Reserved - Privacy.
Jl. Pajagalan No.14-16 (Cibadak - Astanaanyar) Bandung - Indonesia 40241
Design Mas Template Adaptation by Hakimtea
Powered by Blogger