Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Mengingat Mati Penawar Cinta Dunia

Mengingat mati adalah salah satu cara agar kita menjadi manusia beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Kita sadar sesungguhnya kematian pasti akan menjemput kita, kuburan menjadi penyimpanan jasad kita, hari kiamat akan menjadi tempat berkumpulnya kita dan Allah s.w.t. akan menghukumi kita, yang baik akan mendapatkan kebaikan dari-Nya dan yang jelek akan menerima balasan sesuai dengan amal kejelekannya, Ia adalah Dzat yang Maha Bijaksana, tidak ada satupun makhluk yang merasa teraniaya atau terzalimi dengan kebijakan hukum dari-Nya.

Allah berfirman:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Ali Imran, 03: 185)

Mengingat mati dapat melunakkan hati kita yang membeku untuk senantiasa mengingat Dzat yang tidak pernah melupakan kita, mengingat mati dapat mempersiapkan diri kita,  jika tiba-tiba ajal menjemput kita, mengingat mati dapat menjadikan kita selalu menerima kata-kata bijak yang menasehati diri kita dan mengingat mati juga dapat menjadikan diri kita lebih waspada akan tipu daya dunia. Sudah berapa kali keindahan dunia telah memperdayai kita, sudah berapa kali kenikamatan dunia telah mengalahkan kenikmatan dzikir kita kepada Allah s.w.t. dan sudah berapa kali gemerlap dunia telah menyilaukan mata kita untuk melihat keagungan-Nya?

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

أَكْثِرُوْامِنْذِكْرِالْمَوْتِفَإِنَّهُيُمَحِّصُالذُّنُوْبَوَيُزَهِّدُفِيالدُّنْيَا

“Perbanyaklah mengingat mati, karena mengingatnya dapat mengahapus dosa dan menjadikan zuhud pada dunia”. (R.H. Ibnu Abi al-Dunya)

Dan sabdanya:

أَكْثِرُوْاذِكْرَهَاذِمِالْلَذَّاتِ) يعنيالْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat memusnahkan rasa nikmat, yaitu mati”. (Al-Tirmdzi & Ibnu Majah)

Al-Junaid seorang ulama’ sufi terkemuka, berwasiat kepada para sahabatnya: Saudaraku. Beramallah, dan bersegeralah sebelum kematian segera menjemput anda, cepat-cepatlah sebelum ia lebih cepat memanggil anda. Sementara itu Allah s.w.t. telah memberi anda nasihat melalui kejadian-kejadian teman anda yang telah mendahului anda, sahabat-sahabat anda yang telah dihijrahkan dari alam dunia menuju ke alam baka, maka pelajaran itulah bagian anda yang masih tersisa dan paling berharga. Bila tidak demikian, maka celakalah anda.

Syaikh Amin Kurdi dalam kitab Tanwiru al-Qulubmenjelaskan hikmah dari mengingat mati, beliau berkata, “Mengingat mati akan menjadikan manusia mulia sebab tiga perkara:

1.    Tidak pernah menunda-nunda untuk bertaubat.
Orang yang selalu mengingat mati, hidupnya akan dimuliakanoleh Allah s.w.t., karena dia tidak akan pernah menunda-nunda untuk bertaubat. Orang yang mengingat mati akan salalu mempersiapkan diri untuk kembali menghadap kepada Allah s.w.t. dengan memperbanyak istighfar dan menyesali semua dosa-dosa yang telah ia lakukan, berjanji dalam hatinya untuk tidak melakukan lagi, serta bersemangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah s.w.t.. Ini adalah kreteria dari taubatan nasuha, yaitu taubat dengan murni atau dengan sebenar-benarnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya”. (Q.S. al-Tahriim, 66: 8)

2.    Hati yang qana’ah
Orang yang selalu mengingat mati, akan memiliki hati yang qana’ah, yaitu menerima pemberian Allah s.w.t. Miskin dan kaya sama saja bagi orang yang selalu mengingat mati, karena ia sadar bahwa kehidupan dunia hanya tempat transit menuju kehidupan yang kekal abadi, yaitu kehidupan di alam akhirat. Maka dari itu orang yang selalu mengingat mati, dirinya akan fokus melakukan ibadah kepada Allah s.w.t., dunia hanya dijadikan jembatan menuju kehidupan akhirat.

3.    Semangat untuk beribadah.
Orang yang mengingat mati akan menjadi mulia, karena dengan mengingat mati ia merasa lebih semangat untuk melakukan ibadah dan ia sadar bahwa sebaik-baiknya bekal adalah takwa.

“Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal”. (Q.S. al-Baqarah, 2: 197)

Syaikh Ismail dalam kitabRuhul Bayan Barkata: sesungguhnya setiap manusia akan menempuh dua perjalanan. Perjalanan ketika berada di dunia dan perjalanan ketika meninggalkan dunia. Perjalanan ketika berada di dunia pasti membutuhkan bekal, yaitu makanan, minuman, kendaraan dan harta. Dan perjalanan ketika meninggalkan dunia juga pasti membutuhkan bekal, yaitu mengetahui dan mencintai Allah s.w.t., berpaling dari yang lain-Nya dengan menyibukkan diri dalam kepatuhan kepada-Nya, dan menjahui segala larangan-Nya. Ini adalah sebaik-baiknya bekal.
Judul: Mengingat Mati Penawar Cinta Dunia
Penulis : Badruzzaman, S.Pd.I
Ilustrasi gambar dari: Hidayatullah.com