Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Teladan Fatimah Sang Isteri Penguasa dengan Kesederhanaan Hidup

TELADAN FATIMAH SANG ISTERI PENGUASA DENGAN KESEDERHANAAN HIDUP

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ أَخْبَرَنِي شُرَحْبِيلُ بْنُ شَرِيكٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Numair Al Hamdani telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Haiwah telah mengabarkan kepadaku Syurahbil bin Syarik bahwa dia pernah mendengar Abu Abdurrahman Al Hubuli telah bercerita dari Abdullah bin 'Amru bahwasannya Rasulullah saw  bersabda: "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah."{H.R.Muslim, no. 2668}

Wanita  merupakan  makhluk  Ilahi  yang  penuh  misteri. Dalam  dukanya, hanya air mata sebagai pelampiasan nestafa, namun dalam murkanya ia mampu merobohkan sendi-sendi peradaban. Terlihat lemah gemulai namun dibalik semua itu tersimpan satu  kekuatan tiada tara dari sosok wanita. Ingat!!! Berapa banyak tokoh-tokoh top dunia bertekuk lutut dihadapannya. Betapa perkasanya sang Julius Caesar namun tiada berdaya dihadapan sang ratu Mesir Cleopatra, betapa gagah beraninya Napoleon Bonaparte  yang dikenal sebagai The Lion of europe{Singa daratan erofa} namun tiada berdaya dihadapan Margarettha. Dinegeri tercinta ini, kita mengenal srikandi-srikandi kusuma bangsa dari kaum hawa seperti R.A. Kartini, Cut Nyak Dien dan lain-lain.

Namun di era sekarang kita mengalami krisis sosok wanita yang pantas dijadikan teladan dalam kehidupan. Wanita di era sekarang tenggelam dalam gelimang, Kemilau  keindahan  materi, bahkan demi memenuhi keinginan duniawi dengan bangga menghalalkan segala macam cara. Miris, jika prilaku wanita seperti ini maka kita hanya tinggal menunggu rusak, runtuhnya peradaban, kehormatan bangsa ini, sebagaimana yang ditekankan Nabi saw, wanita adalah tiang negara, bila wanita berprilaku yang mulia maka negara tersebut akan semakin kuat, sebaliknya jika wanitanya berprilaku tercela maka runtuhlah peradaban negara tersebut. Begitu mulianya wanita dalam perspektif islam sehingga disimbolkan sebagai tiang negara dan betapa pentingnya menjadi wanita yang berakhlaq mulia sehingga mampu menjadi sendi-sendi bagi peradaban bangsa ini, tidak hanya tampil dengan prilaku yang mulia, wanita juga sepantasnya memiliki konsep kezuhudan sebagai benteng agar tidak terjatuh kelembah kehinaan dengan menghalalkan segala macam cara demi kemilau dunia sesaat dan terjerumus dalam kehidupan materilialistis dan pola hidup hidonisme.

Sebagai renungan dan tolak ukur kezuhudan kita akan gemerlap dunia marilah sekilas kita melihat salah satu profil wanita yang bersahaja, melihat kemewahan dunia dengan apa adanya. Wanita tersebut merupakan salah satu sosok penting dalam sejarah peradaban islam, wanita yang turut andil mengibarkan panji-panji kebesaran islam, wanita yang sangat mulia status sosialnya yang tidak terpengaruh dengan materi, kekuasaan sejenak.  Wanita tersebut dikenal dengan nama Fatimah binti Abdul Malik.

Sekilas Biografi Fatimah binti Abdul Malik.

Fatimah merupakan satu-satunya anak  perempuan dari lima bersaudara dari khalifah daulah Umayyah yang bernama Abdul Malik bin Marwan. Empat saudaranya yang laki-laki adalah Yazid, Hisyam, Maslamah dan Sulaiman. Layaknya putri raja, fatimah pun mendapatkan kehormatan dan segala fasilitas yang mewah, hidup dengan penuh kasih sayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Kebahagiannya menjadi sempurna dengan dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari keluarga yang terhormat yang bernama Umar bin Abdul Aziz, beliau merupakan sosok yang hidup penuh dengan keglamoran dan kemewahan meskipun demikian ia merupakan sosok yang relegius dan sangat amanah. Mereka merupakan pasangan sejoli yang ideal dan romantis.

Puncak dari kebahagian mereka berdua adalah diangkatanya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik ia dilantik pada hari jumat, bulan Shafar 99 H di kota Damaskus. Ditunjuknya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah karena Sulaiman bin Abd Malik memiliki putra yang masih kecil-kecil sehingga kekuasaan tersebut diberikannya kepada Umar bin Abdul Aziz yang telah dikenal akan perangainya (1).  Proses dan pelantikkanya sebagai khalifah inilah yang merubah pola pikir dan pandangan hidup seorang Umar bin Abdul Aziz dari seorang yang hidup penuh keglamoran menjadi sosok yang sederhana, zuhud dan tampil sebagai salah satu pemimpin umat islam yang terbaik. Selama tiga hari masa pelantikan Umar bin Abdul Aziz menuju dan memperoleh pencerahan, ia dengan tegas menolak seluruh fasilitas istana yang diperuntukkan bagi seorang sultan

Pencerahan Jiwa Umar bin Abdul Aziz dan Fatimah

Fatimah, sangat terkejut ketika mendengar berita bahwa khalifah baru yakni suaminya menolak segala fasilitas istana, ia hanya memilih menunggang keledai untuk kendaraan sehari-hari, membatalkan acara pelantikan dirinya sebagai khalifah yang akan diadakan besar-besaran dan penuh kemewahan.

Sungguh Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat mengenal siapa suaminya, sosok yang sangat identik dengan kemewahan hidup mengapa secara tiba-tiba ia hendak berpaling dari kemewahan padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja di anugerahkan kepadanya. Keterkejutannya semakin bertambah tatkala melihat suaminya pulang dari dari kota Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah umat islam. suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dibandungkan tiga hari yang lalu tatkala ia berangkat ke kota Damaskus, wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung beban yang teramat berat. Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang kepada sang isteri tercinta,’ Fatimah, isteriku...! bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat dipikulkan kepundakku, menjadi nakhoda bahtera yang dipenuhi, ditumpangi oleh umat Muhammad SAW, tugas ini benar-benar menyita waktuku hingga hakku  terhadapmu akan terabaikan, aku khawatir kelak engkau akan meninggalkanku apabila aku akan menjalani hidupku yang baru, padahal aku tidak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku.’ ‘lalu, apa yang akan engkau lakukan sekarang?’ tanya Fatimah.

‘Fatimah...! engkau tahu bukan, bahwa semua harta, fasilitas yang ada ditangan kita berasal dari umat islam, aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai, disebidang tanah itu kelak akan kita bangun tempat berteduh kita dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut, maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sabar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan maka berterus-teranglah, dan sebaiknya engkau kembali keorang tuamu!’ jawab Umar bin Abdul Aziz. Lalu Fatimah kembali bertanya,’ya suamiku...apa yang sebenarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?’ ‘Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai dengan apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku.’ Jawab Umar bin Abdul Aziz lagi (2).

Fatimah yang notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas yang disediakan dan pelayanan yang super maksimal ketika mendengar keputusan suaminya ia tidak kecewa, tidak menunjukan kekesalan dan keputus asaan, justeru dengan suara yang tegar, mantap ia menegaskan,’ suamiku...! lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku akan setia disisimu baik dikala susah atau senang hinga maut memisahkan kita.’

Fatimah yang agung menjadi pendukung pertama gerakan perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya yakni gerakan kesederhanan para pemimpin dalam kehidupan, demi bakti dan keridaan sang suami yang tercinta, ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat. Dirumahnya yang baru fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan, pakaian yang dikenakan, makanan yang disantap tanpa ada kemewahan dan kelezatan semuanya tidak jauh dengan rakyat biasa padahal status yang mereka sandang adalah raja dan ratu seluruh umat islam masa itu. Begitu sederhananya konsep kehidupan yang mereka terapkan, orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah wanita Mesir untuk menemui khalifah dirumahnya, sesampai dirumah yang ditunjukkan ia melihat seorang wanita yang cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang sedang memperbaiki pagar rumah yang  dalam kondisi rusak. Setelah perkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, isteri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz ia pun menanyakan sesuatu hal,’’ya Sayyidati..., mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki pagar rumah engkau?’ seraya tersenyum Fatimah menjawab, ‘dia adalah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari’ (3).

Sikap Istiqamah dalam Kesederhanaan

Nabi  saw menegaskan:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَدِّدُوا أَى اسْتَقَامُوا وَأَبْشِرُوا

Artinya telah bercerita kepada kami Hasan telah bercerita kepada kami Ibnu Lahi'ah telah bercerita kepada kami Abu Az Zubair dari Jabir berkata; Rasulullah saw, bersabda: "Beristiqomah dalam beramal, berkatalah dengan benar dan berilah kabar gembira".{H. R. Ahmad, bab, Musnad Jabir bin Abdullah ra. No. Hadist : 14078 }

Nilai-nilai yang terkandung dalam hadis ini, dengan sempurna diamalkan oleh Fatimah. Dengan hidup yang penuh kesederhanaan bahkan sering kali kekurangan, fatimah tetap sabar dan setia mendampingi Umar bin Abdul Aziz suaminya, ketika suaminya meninggal dunia, Fatimah kerap mencucurkan air mata, bukan karena khawatir kehidupannya akan bertambah sulit sepeninggalan suaminya yang hanya mewariskan sebidang tanah namun ia menangis karena ia cemas tanpa kehadiran suami disisinya sanggupkah ia mempertahankan prinsip dan konsep hidup sederhana yang selama ini dibinanya dengan sang suami tercinta. Bahkan Yazid saudaranya sendiri yang diangkat menjadi khalifah menggantikan Umar bin Abdul Aziz pernah mengunjungi Fatimah dan hendak menyerahkan kembali seluruh perhiasan dan fasilitas yang telah mereka serahkan kebaitul maal tatkala Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah,  namun dengan tegas dan penuh keikhlasan hal tersebut ditolaknya seraya berkata,’tidak...demi Allah, hal itu tidak akan aku terima, aku bukanlah jenis orang yang taat kepada suami tatkala ia hidup dan meningkarinya tatkala ia telah tiada, aku melakukannya ikhlas karena Allah sebagai bentuk ketaatan kepada suamiku yang tercinta.’

Luar biasa inilah sosok wanita yang sempurna, wanita yang shalihah mampu memalingkan, memejamkan mata terhadap gemilau keindahan materi tatkala kemewahan tersebut ada didepan mata, kita berharap semoga sosok-sosok ini menjadi suri tauladan bagi para wanita, khususnya wanita yang berposisi sebagai isteri penguasa agar tampil menjadi Fatimah-Fatimah baru di era kontemporer ini.

Footnote:
(1) Abdullah bin Abdul Hakam, Al-Khalifatul  ‘Adil Umar bin Abdul Azizi, Khamis Khulafaur Rasyidin, {Kairo: Darul Fadilah, tth}, hlm. 44.
(2) Khalid Muhammad Khalid, Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulallah, terj. Mahyuddin Syaf dkk, {Bandung: Diponegoro, 1994}, hlm. 629.
(3) Iin Rosalina, ‘Fatimah binti Abdul Malik’, Risalah, Edisi No. 9, th. XXXVII, Nopember 1999}, hlm. 31.

Penulis: Hairuni
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fak, Ushuluddin, Prodi, Tafsir Hadits.
CP: 0896 718 762 78