Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Galeri Seni Islam Buka di Museum Louvre Perancis

Galeri Seni Islam Buka di Museum Louvre Perancis. Museum Louvre Perancis akan segera membuka galeri museum baru yang khusus didedikasikan untuk galeri seni Islam. Dengan total anggaran proyek hampir USD 130 juta selama satu dekade, kini mulai menampakkan hasil di tengah suasana ketegangan antara dunia Muslim dan Barat.



Bangunan baru berbentuk capung itu merupakan pembangunan terbesar museum Louvre sejak pembangunan piramida kaca yang ikonik 20 tahun yang lalu. Departemen seni Islamnya akan memamerkan lebih dari 18.000 karya seni, yang diharapkan juga dapat menumbuhkan pemahaman budaya.

Ada mosaik dari Masjid Damaskus dan teras Mumluk abad ke-15 di antara karya seni lain dari tahun 632 hingga 1800. Donatur galeri ini termasuk Raja Maroko Muhammad VI dan lembaga amal Pangeran Saudi Walid Bin Talal.

Direktur Louvre, Henri Loyrette mengatakan galeri ini bertujuan untuk menampilkan “binar sebuah peradaban”.

Sayap seni Islam ini dengan misi untuk mempertinggi pemahaman lintas budaya, dibuka saat situasi dunia yang tegang -dan mungkin tepat-.

Perancis meningkatkan keamanan pada Rabu (20/9) pada kedutaannya di seluruh dunia Muslim setelah satu majalah satirikal pekanan mempublikasikan karikatur Nabi Muhammad. Publikasi majalah Charlie Hebdo itu memunculkan kekhawatiran bahwa Perancis juga akan menghadapi protes seperti yang dialami Amerika Serikat akibat video amatir Innocence of Muslims.

Para pejabat Perancis mengatakan bahwa majalah tesebut telah menyiram minyak ke api dan menghimbau untuk tetap tenang. Perancis memiliki penduduk Muslim terbesar di Eropa Barat.

Sebagai tanda pentingnya secara politis akan pameran baru Louvre ini, Presiden Perancis Francois Hollande menghadiri upacara pembukaannya Selasa lalu. Ia menyebutnya dengan sebuah gerakan politik untuk menghormati perdamaian. Hadir pula Pangeran Saudi dan Presiden Azerbaijan.

Hollande mengkritik orang-orang yang menghancurkan nilai-nilai Islam dengan menggunakan kekerasan dan kebencian.

“Senjata terbaik untuk memerangi fanatisme yang mengaku berasal dari Islam berada dalam Islam itu sendiri.” katanya. Ia menambahkan, “Pesan apa yang lebih indah dibanding pesan yang disampaikan di sini oleh karya-karya seni ini.”

The Louvre membuka departemen seni Islam pada tahun 2003, di bawah mantan Presiden Jacques Chirac , yang mengatakan ia ingin menyoroti kontribusi peradaban Islam dalam budaya Barat. Chirac, yang menentang keras invasi pimpinan AS ke Irak, terus mendorong gagasan dialog budaya untuk memecah kesalahpahaman antara Barat dan dunia Muslim.

Galeri ini awalnya hanya menampilkan sebagian kecil dari ribuan karya seni dari dunia Muslim, sampai diputuskan oleh Chirac untuk satu ekspansi ambisius.

Museum ini terbuka untuk umum Sabtu.

Sumber: mysanantonio, nytimes, fimadani.com