Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Bentangkan semua Ciutkan semua JANGAN BIARKAN HATI ANDA MENJADI LAWAN BAGI ANDA

Qalbu diciptakan Tuhan bukan untuk di jadikan musuh yang selalu merintangi dan menentang segala gerak dan tidak kita, kita di perlengkapi dengan hati agar dapat memanfaatkan akal berlandaskan hati, jadikan hati nurani itu penasehat untuk memudahkan segala tindak dan gerak, dan memberi arah bagi segala amal dan usaha.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ ( الحج:46)

Tidakkah mereka berjalan di muka bumi, agar mereka memiliki hati yang dengannya mereka dapat menggunkan akal, dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi hati yang di dalam dada yang buta.

Menggunakan otak, menggerakkan akal tidak berarti mesti membutakan hati nurani, hendaklah akal itu bergerak berlandaskan hati nurani, supaya tidak berlaku kejam dan menghianati perikemanusiaan.

Wabishah pernanah meminta nasehat kepada Rasulullah tentang kebaikan dan keburukan:

أتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ لَا أَدَعَ شَيْئًا مِنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ إِلَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَسْتَفْتُونَهُ فَجَعَلْتُ أَتَخَطَّاهُمْ قَالُوا إِلَيْكَ يَا وَابِصَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ دَعُونِي فَأَدْنُوَ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ أَنْ أَدْنُوَ مِنْهُ قَالَ دَعُوا وَابِصَةَ ادْنُ يَا وَابِصَةُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ أَوْ تَسْأَلُنِي قُلْتُ لَا بَلْ أَخْبِرْنِي فَقَالَ جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ نَعَمْ فَجَمَعَ أَنَامِلَهُ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِنَّ فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Saya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada beliau. Dan pada saat itu di sekeliling beliau banyak terdapat kaum muslimin yang sedang meminta nasehat kepadanya beliau. Maka aku pun nekat melangkahi mereka hingga orang-orang itu berkata, "Wahai Wabishah, menjauhlah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, menjauhlah wahai Wabishah!" Saya berkata, "Biarkan saya mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati." Maka beliau pun berkata, "Biarkan Wabisah mendekat. Mendekatlah wahai Wabishah." Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Wabishah berkata, "Saya pun mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya: "Wahai Wabisah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?" saya menjawab, "Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku." Beliau lantas bersabda: "Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)?" Saya menjawab."Benar." Beliau kemudian menyatukan ketiga jarinya seraya menepukkannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda: "Wahai Wabishah, mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali-. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu." (AHMAD - 17320)

Hati nurani yang sehat mampu memberi fatwa yang baik, memberi keputusan dan menentukan satu pilihan yang baik.

Adalah satu siksaan yang sangat berat, penderitaan yang sangat meletihkan dan memutusasakan bila kita melakukan sesuatu yang tidak di setujui hati, bertentangan dengan kemauan, tidak searah dengan kemauan; orang yang bekerja dengan rasa terpaksa, bila menemukan kesulitan dalam pekerjaan, maka otak pikiran bukan membantu untuk memecahkan dan memudahkannya, atau menggagalkannya, akhirnya timbullah keinginan untuk menjadi manusia bebas lepas dari aturan dan ketentuan, bebas daripada yang dinamakan kesopanan, tata tertib atau kepercayaan.

Tidak ada yang melakukan kejahatan atau pelanggaran yang tidak di siksa batinnya, atau yang tidak di gelisahkan hidupnya, di ragukan tindakannya, di kacaukan fikirannya, dan tidak menentu arah tujuan hidupnya. Itu tandanya hati nuraninya sudah mati, atau sudah buta mata hatinya yang dalam dadanya (ta’ma’lqulubullati fish-Shudur).

Firman Allah

لينذر من كان حيا (يس:70)

Supaya Dia (Muhammad) memberi peringatan kepada manusia yang masih hidup.

Dan maksud hidup disini bukan hidup sebalik dari mati, tapi hidup disini dengan arti memilii hati nurani. Memanusiaakan binatang tidak akan dan belum pernah terjadi, belum pernah ada kerbau yang berubah jadi berakal berpikir dan berbudi, tapi tidak sedikit manusia yang sudah di binatangkan atau membinatangkan.

Sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(الاعراف:179 )

Dan sungguh kami akan isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi tidak di pergunakan (untuk memahami ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata tapi tidak di pergunakan melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka memiliki telinga tapi tidak di pergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih dari binatang, mereka itulah orang yang rugi.

Karena mereka lalai, mereka tidak menggunakan akalnya dengan landasan hati nurani, tidak memiliki qulubun ya’qiluna biha, tidak memiliki hati yang dengannya dapat menggunakan akal.

إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا (الفرقان:44 )

Mereka tiada lain hanya seperti binatang bahkan lebih sesat jalannya.

Bagi yang masih memiliki hati nurani yang sehat, bila melakukan suatu pelanggaran, penyelewengan, penghianatan terhadap iman atau ilmu, hati nuraninya berontak, menagih imannya dan memaksa agar kewajiban dan tugas itu di sempurnakan.

Bila dibiarkan hati berontak, bertindak seperti lawan, pasti akan kehilangan ketentraman, selalu gelisah dan penghargaan terhadap dirinya semakin rendah, yang akibatnya akan merasa malu melakukan perbuatan-perbuatan yang hina dan rendah sesuai dengan kerendahan diri atau hidup seperti binatang.

Menunaikan kewajiban, melakukan aml baik, dan akhlak utama tidak boleh di tangguhkan menunggu datangnya keinginan dan kerelaan hawa nafsu sebab tindakan seperti itu, sama halnya dengan yang menunggu-nunggu tibanya waktu yang kosong dan luas, tapi relakan hati agar rela dia islam, dia tunduk kepada aturan ketentuan dan undang-undang dan syari’at agama.

Hal ini mesti di usahakan, di biasakan, bukan di tunggu-tunggu, usahakan agar hati nurani tetap sehat,merestui segala amal yang manfaat dan baik, dan menolak membenci segala perbuatan yang buruk, supaya tiap gerak dan tindak, melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu selalu searah dengan fitrah jiwa, dan sesuai dengan keinginan hati nurani, dan disitu akan terasa keni’matan beragama, kebahagiaan Negara yang berundang-undang, karena semua penghuninya merelakan hati untuk hidup teratur, tidak lepas dari aturan dan undang-undang, dan itulah jiwa yang tentram (nafsul-muthmainnah).

Ada orang yang susah tidur, walaupun dia ngantuk, dan sudah berbaring di tempat tidur, sebab dia sedang berperang dengan hati nurani, sebab dia tidur meninggalkan pintu tidak terkunci, matanya menyuruh tidur, hati nuraninya memesan agar pintu di kunci.

Orang Islam yang belum melakukan shalat isya,tapi sudah ngantuk, bila ia berbaring di kamarnya, dia tidak bisa tidur dengan mudah, sebab hatinya berontak, hatinya menjadi lawan bagi dirinya.

Ini adalah contoh enteng, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh tepat orang menasehatkan, agar kita membiasakan mendidik atau melatih keinginan yang dinamakan tarbiyatul-iradah agar hati kita selalu searah dan sejalan.

Tidak ada pekerjaan, tidak ada pekerjaan yang membosankan bila pekerjaan itu di sertai dengan hati,dan sebaliknya pekerjaan yang mudah dan ringan bila tidak di sertai dengan hati akan terasa berat dan membosankan serta meletihakan.

Orang yang berjiwa “am-maratun bissu”, yang buta hati nuraninya, dapat melakukan kejahatan dan pelanggaran dengan senang hati, dia bermusuh dengan aturan dan syari’at agama, dia berpenyakit alergi nasehat dan tabligh.

Orang yang berjiwa “musawwalah”, hati nuraninya baru dapat bersinar bila di bantu dengan lingkungan, gerak tindaknya, sikap dan pendiriannya berubah-ubah, tergantung kepada pengaruh lingkungan, dia seperti benda mati bukan bergerak tapi di gerakkan.

Orang yang berjiwa “lawwamah”, selalu berperang dengan nafsunya, selalu merelakan hatinya untuk menerima kebenaran, dan melakukan kebaikan, dan dia selalu ada dalam kemenangan walupun dengan susah payah.

Orang yang berjiwa “muthmainnah” hidup berbahagia, hati nuraninya selalu membantu, otaknya bergerak berlandaskan hati nurani, tidak bermusuh dengan kalbu tidak menjadi lawan bagi hati nuraninya.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي (الفجر:27-30)

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada (ketentuan) Tuhan kamu dengan segala kepuasan, dan kembalilah dengan di ridhai Tuhan, masuklah seiring dengan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku.

Oleh: KH. E Abdurrahman
Dipublikasikan Oleh: Basyir