Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Qunut Pada Shalat Shubuh

Dalam shalat shubuh sering terdapat qunut, apakah qunut tersebut dibolehkan. Bagaimana dalilnya?
Aziz Ridwan. Darussalam Ciamis.

Ada ulama yang mengatakan bahwa bacaan yang panjang setelah membaca Sami'allahu liman hamidah disebut "qunut daim". Qunut itu dibaca pada setiap ruku, bukan hanya pada shalat shubuh saja. Sedangkan Qunut Nazilah dilakukan apabila ada bencana atau malapetaka yang menimpa umat islam. Isi do'anya berkaitan dengan kebutuhan, biasanya Rasulullah Saw mendo'akan keselamatan bagi kaum Muslimin dan mendo'akan kecelakaan bagi kaum yang dzalim yang menindas orang-orang yang lemah dari kaum Mu'minin. Dilakukan setelah bangkit dari ruku terakhir pada setiap shalat fardlu.

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ لَأُقَرِّبَنَّ صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ. – رواه البخاري

Kata Abu Hurairah "Aku akan manunjukan shalat Rasulullah Saw. Maka adalah Abi Hurairah itu biasa qunut di rakaat yang akhir dari shalat Dhuhur, Isya dan shalat Shubuh, sesudah mengucapkan sami'allahu liman hamidah yaitu mendo'akan keselamatan kaum Mu'minin dan melaknat kaum kafir". (HR.Bukhari).

قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ. – رواه ابوداود

Kata Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. pernah qunut sebulan berturut-turut pada shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Shbuh di setiap akhir shalat, apabila mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah" yaitu di rakaat akhir. Beliau mendo'akan kecelakaan bagi kaum Ri'idzakwan dan 'Ushoyyah dari kaum Bani Sulaim. Dan Ma'mum yang dibelakangnya meng-aminkan". (HR. Ab Dawud).

Sedangkan qunut khusus Shubuh bid'ah. Sa'ad bin Thoriq al-Asyjaiy berkata kepada ayahnya,

يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ أَفَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ؟ فَقَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ. – رواه الخمسة الاّ ابو داود

"Wahai Bapak, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar, Utsaman, dan Ali. Apakah meraka qunut pada shalat Shubuh? Beliau menjawab, "Wahai anakku, (qunut shubuh) itu amal yang dibuat-buat (bid'ah)." (HR.Ahmad, Tirmidzi, Nasiy, Ibnu Majah).

Sedangkan 'Ashim bin Sulaiman berkata kepada sahabat Anas ra.

إِنَّ قَوْمًا يَزْعَمُونَ أَنَّ النَّبِيَّ ص. لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ. فَقَالَ كََذَّبُوا. إِنََّمَا قَنَتَ شَهْرًا وَاحِدًا يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ. – رواه الخطيب

"Sesungguhnya ada satu golongan yang berkata, bahwa Anbi Saw terus-terusan qnut pada shalat Shubuh". Kata Anas ra. "Mereka itu dusta. Nabi Saw hanya qunut sebulan lamanya, mendo'akan kecelakaan bagi salah satu kaum Musyrikin (HR.Khotib).

Wallahu A'lam Bishshawaab