Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Pailit

Pada suatu hari Rasulullah Saw., berkumpul dengan para sahabat lalu beliau mengajukan pertanyaan, "Apakah kalian tahu apa itu pailit…?" tentu saja para sahabat mengetahui apa itu pailit. Kita sendiri tahu apa yang dimaksud dengan pailit. Pailit merupakan persamaan kata dari jatuh miskin atau bangkrut, istilah ini dikenal dalam dunia perniagaan/perdagangan yang menyatakan bahwa apabila dagangan habis namun uang/modal tidak kembali, tidak ada lagi dan yang tinggal adalah utang.

Rasulullah mengajukan pertanyaan tersebut bukanlah ingin mendapatkan jawaban dari para sahabat, namun demikianlah salah satu metode mengajar beliau agar para sahabat selaku murid dapat berinteraksi langsung dengan Rasulullah selaku guru dan benar-benar memperhatikan materi pelajaran yang akan diajarkan. Pada waktu itu para sahabat dengan mudah menjawab, "Ya Rasulallah, orang yang pailit itu adalah orang yang tidak berduit lagi dan harta dagangannya pun habis yang tinggal hanya utang."

Setelah sahabat memberikan jawaban lalu Rasulullah Saw., bersabda, Wahai para sahabat, sebenarnya orang yang benar-benar pailit dari umatku itu adalah orang yang datang menghadap kepada Allah swt., pada hari kiamat kelak dan dia datang dengan membawa ganjaran shalatnya, memang shalatnya bagus dan diterima. Dan dia pun membawa ganjaran ibadah shaum yang juga bagus, pun menghadap kepada Allah dengan membawa ganjaran membayar zakat, dan memang zakatnya bagus sesuai dengan nishab yang ditentukan dan dia membayarnya, akan tetapi sayang dia datang membawa shalat tetapi shalatnya tidak menghindarkan dia dari perbagai kejahatan dan maksiat, dia shalat tetapi memaki orang dan menyakiti perasaan, dialah orang yang pailit. Dia datang dengan membawa shaum tetapi dia tidak berhenti membuat rekayasa, memfitnah dan menjerumuskan orang lain dengan makarnya. Orang tidak bersalah bisa dianggap orang banyak bersalah karena fitnah yang dihembuskan olehnya. Orang seperti ini kebaikannya habis, dan orang seperti inilah yang disebut pailit. Demikian dia datang dengan ganjaran membayar zakat tetapi dia juga memakan harta orang dengan jalan merampas, menipu. bisa jadi dia seorang pedagang yang mengurangi timbangan dan takaran, disamping dia memenuhi kewajibannya membayar zakat tetapi juga merampas harta orang lain. Itulah orang yang pailit ketika menghadap Allah di hari kiamat kelak. Tidak mempunyai amal kebaikan karena habis untuk membayar kemaksiatan yang dilakukan.

Amal manusia di dunia itu akan ditimbang di akhirat nanti. Jika amal ditimbang dengan neraca, dia shalat tetapi mencaci maki orang maka habislah, seimbang antara shalat dan pekerjaannya menyakiti orang. Kemudian dia datang dengan shaum tetapi memfitnah orang maka seimbanglah amalnya. Dia pun datang dengan ganjaran membayar zakat tetapi dia pun mengambil harta orang, merampas dan menipu maka tidak ada lagi hak amal kebaikannya, habis, seimbang.

Rasulullah Saw., bersabda, jika amal yang ditimbang itu sudah habis kebaikannya tetapi dia masih mempunyai dosa mengalirkan darah orang lain maka tidak ada timbangan kebaikan yang bisa ditimbang dengan pembunuhan itu, dan ditambah barang siapa yang membunuh maka semua dosa orang yang dibunuh akan menjadi tanggungan dia. Seandainya dia mempunyai kesempatan dimasukkan dalam surga tetapi akan ditangguhkan dan dimasukan terlebih dahulu ke dalam api neraka. Demikian juga jika dia memukul, menampar orang mau dibayar dengan apa karena kebaikannya telah habis. Terpaksa orang yang dibunuh, dipukul dan ditampar yang tanpa bersalah itu dipindahkan menjadi tanggungan dia.

Inilah yang dimaksud orang yang pailit oleh Rasulullah Saw., dia membawa shalat, shaum dan zakat tetapi tidak berhenti dari perbuatan maksiat terhadap Allah dia akan nihil, tidak mempunyai nilai amal kebaikan ketika menghadap kepada Allah nanti.

Itu sebabnya kita harus memelihara panca indra yang biasa menyebabkan, membawa dan menyuruh untuk berbuat maksiat. Pertama adalah pendengaran, yang kedua penglihatan, yang ketiga bisikan hati. Bila apa yang didengar kemudian merangsang untuk berbuat maksiat, apabila apa yang dilihat juga penglihatannya dirangsang untuk berbuat maksiat, kemudian dia merekayasa dan membayangkan dalam hatinya suatu keindahan tetapi tidak ada jalan lain kecuali dengan maksiat. Maka tiga bagian daripada tubuh kita itu menjadi modal untuk berbuat maksiat.

Itulah semestinya kita mampu menjaga dan memelihara. Firman Allah Swt, Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan perbuatan hati (berpikir dan merekayasa) semuanya akan diminta pertanggungan jawab, -dalam surat Yasin- pada hari kiamat di dalam pemeriksaan Allah mulut biasanya suka berbeda dengan hati terpaksa dikuncilah mulut, anggota badannya yang nanti berbicara, membuktikan dan menjadi saksi dari perbuatan maksiat yang pernah dilakukan. Kalaulah tiga indra diberhentikan tentu saja merupakan kematian seseorang dan bebas daripada dosa. Tapi pendengaran terus berjalan dan kita harus melilih agar tidak terangsang untuk berbuat jahat, kemudian penglihatan juga dimanfaatkan sebaik-baiknya. Itu adalah selama hidup dalah hati manusia itu ada yang dinamakan iradah, syahawat, dan alfikru idealisme. Kemudian tersimpan juga didalam aqlu, akal inilah yang menjadi hakim pertimbangan dari seluruh kekuatan yang ada dalam diri kita.

Itu sebabnya dalam bulan Ramadhan itu banyak yang menggoda. Allah berfirman, "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, (jika memang yang dilihat itu memang maksiat) dan memelihara kemaluannya; (dikendalikan) yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Annur [24]:30)

Mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk memelihara dan menjaga panca indra kita di bulan Ramadhan ini bulan yang dinamakan dengan bulan ibadah maka buatlah beberapa pengimbangan tentang shadaqoh kita kepada parta fakir miskin, kemudian sediakanlah di mana kita berada untuk orang yang lalu lalang agar bisa berta'jil. Karena sebaik-baiknya ganjaran itu adalah menyediakan makanan berbuka untuk orang yang shaum.

Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini menjadi kafarat dosa dari Ramadhan yang telah lalu hingga Ramadhan saat ini. Amien.

Ringkasan Khutbah Jum'at Masjid Persatuan Islam Pajagalan Bandung, 28 September 2007
Khatib: KH. M. Atang A.S.
(Pimpinan Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung - Ketua DKM Qoyyimul Masjid Persatuan Islam Pajagalan Bandung)

Download Rekaman Khutbah Ini

0 Response to "Pailit"