Wa'bud Rabbaka Hatta Ya'tiyakal Yaqien

Aqidah Malu

Ringkasan Khutbah Jum'at
Oleh : KH. Ikin Sodikin

Merupakan tabiat manusia yang pertama menjadi perhatian adalah apa yang terlihat dan terdengar. Tetapi justru dengannya banyak orang tersimpangkan dari tujuan yang asal, banyak orang yang tertipu.

Suatu saat, sarana dan pelengkap hidup yang merupakan Hummun berakibat menjadi Hammu, seperti yang diungkapkan dalam satu ungkapan, man kâna hummuhu dunya pahua hammuhu. Apabila sarana dan pelengkap hidup menjadi tujuan pokok, akan menyebabkan bahan kebingungan; (1) Bingung karena tidak punya, (2) Bingung karena berkelebihan. Ketika segalanya telah dimiliki tetapi sarana untuk memiliki ternyata masih ada lebih, dia bingung sendiri harus diapakan miliknya itu. Timbulah pola konsumtif (israf), melebihi batas keperluan. <> Tapi justru Rasulullah ditegur Allah, mereka yang dinyatakan kecil/lemah pada satu saat akan dihimpun dan mewujudkan kekuatan yang bukan kecil artinya.

Ketika dua orang sahabat meminta bagian shadaqah, Rasulullah mempersilahkan dengan syarat mereka asnafnya, akan tetapi bila bukan maka itu termasuk “sukhtun” harta yang haram. Kedua sahabat itu tersentuh, bahwa mereka masih mampu berusaha sendiri dari pada harus meminta bagian shadaqah.

Mereka pulang dengan tenang hati. Akan tetapi satu saat Rasulullah mengingatkan, satarauna atsaratan, pada satu saat kalian akan melihat atsarah (sikap manusia lebih mementingkan sarana dan pelengkap hidup) maka wajar jika satu saat manusia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang diinginkan.

Wajarlah jika Imam Bukhari membuat satu kitab, kitabul hiyali, kumpulan hadits yang menerangkan hailah (alasan), inilah yang diterangkan Rasulullah, laa tartakibuu martakabatil yahuudu fatastahilu maharimallah biadnal khiyali, ingatlah kalian!, kalian jangan berperilaku seperti orang-orang Yahudi, akibatnya kalian akan menghalalkan yang diharamkan Allah, biadnal khiyali, dengan alasan yang sepele.

Dengan berbagai macam alasan orang bisa tersimpangkan perhatiannya, tapi ingatlah, innallaha ‘aliimun bidzaatis sudur, bahwa apa yang ada dalam hati, bagi orang lain bisa tersembunyi tapi bagi Allah apa hakikatnya yang tersembunyi itu.

Maka Rasulullah menanam sesuatu yang perlu jadi aqidah, fainnal haya`a minal iimani, dalam arti manusia itu timbul rasa malu ketika berhadapan dengan masalah-masalah yang dzahir, bila terdengar dan terlihat muncul rasa malu, akan tetapi bila tidak terdengar dan terlihat, hilang rasa malunya itu, inilah yang ditekankan oleh Rasulullah, fainnal haya`a minal iiman, apakah secara dzahir ataupun tersembunyi al-haya`u sudah menjadi aqidah dalam dirinya.

Akibat daripada atsara, bukan melarang makan-minum. Tetapi, kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu, silahkan makan-minum tapi jangan berlebihan.

Di negeri Mesir dahulu ada satu kepercayaan yang termasuk israf. Setiap tahun mereka mengadakan persembahan kepada dewa Nil. Dilakukan pemilihan, siapa gadis perawan yang paling cantik, mulai dari tingkat bawah sampai tingkat nasional. Semua orang merasa berbangga, karena anaknya, warganya ada yang terpilih calon permaisuri dewa Nil. Sebelum dipersembahkan segala keperluannya dipenuhi. Tidak kurang satu bulan, setelah itu baru dipersembahkan dan barulah terlupakan.

Persembahan itu hilang pada zaman Umar ibnul Khattab. Tetapi seperti tabi’at yang pertama, satu saat akan terulang kembali, orang sudah melebihi batas, suatu saat mereka akan melakukan seperti yang dilakukan orang-orang Mesir itu. Diadakan pemilihan, mulai dari tingkat RT sampai tingkat nasional dan internasional. Anehnya, mereka mau diperlakukan apa saja. Meskipun sudah keluar dari jalur agama tetap saja ada helahnya, “Meskipun seluruh pakaian kami dibuka (setengah bugil) itukan di kolam renang di tempatnya.” Memang benar di tempatnya, tetapi orang yang mengshoot adegan itu dan menonton bukan hanya di kolam renang, dimana saja orang bisa melihat pertunjukkan seperti itu.

Jika pada zaman Mesir kuno mereka dipersembahkan kita tidak tahu, apakah mereka pun akan di persembahkan kepada orang-orang yang seperti Dewa. Kalau dahulu kepada Dewa Nil kalau sekarang dipersembahkannya kepada siapa?

Inilah makna, kuluu wasrabuu wa laa tusrifuu, apabila sudah terjadi israf, sudah atsarul hayatud dunya, apa kira-kiranya yang akan terjadi, maka dalam hal ini perlunya kita kembali meneliti kepada diri kita masing-masing, kita menjaga diri, keluarga, dan lingkungan.

Inilah di maksud dengan jihad, bukan sekedar dalam arti mengangkat senjata tetapi justru yang paling berbahaya adalah jihadul fikrah, jika satu saat, begitu mudah diserap oleh anak-isteri kita, bahkan tidak mustahil oleh kita sendiri, kiranya gambaran rumah tangga seperti apa?

Apabila hal-hal seperti ini sudah menyebar ke masyarakat luas, barangkali tinggal menunggu, waidznaa aradnaa an nuhlikal qaryata, apabila kami akan membinasakan satu negeri, amarnaa muthrafihaa, kami akan memperbanyak kaum muthrafnya, kaum muthraf bukan kaum yang terbelakang tetapi kaum muthraf adalah orang-orang sudah maju akan tetapi kemajuan, kemudahan bukan bertambah syukur tetapi bertambah kufur.

Apabila Sulaiman menyatakan, liyabluwani an asykuru am yakfuru, tetapi pada satu saat bagi kaum muthraf, bukan yasykurun tetapi yakfuruun, fadarmahaa tadmiraa, akibatnya kami akan membinasakan mereka sehancur-hancurnya. Mudah-mudahan aqidah malu dalam diri kita dalam arti, al-Haya`u minal iiman, bisa dijadikan pegangan untuk menghadapi segala yang dikhawatirkan oleh Rasulullah.

Edited by Ibnurund

0 Response to "Aqidah Malu"